batampos.co.id – Ketua PPP Provinsi Kepri, Sarafuddin Aluan menuntut ketegasan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang merupakan Ketua DPW NasDem Kepri. Sehingga pembahasan Wakil Gubernur (Wagub) Kepri tidak mengalami tarik ulur yang berkepanjangan.

“Wagub adalah pendamping gubernur, tentu gubernur sangat berkepentingan siapa yang akan menjadi patnernya. Harus ada kejelasan siapa yang dia (gubernur) inginkan,” ujar Sarafuddin Aluan menjawab pertanyaan media di Kantor DPRD Kepri, Tanjungpinang, Senin (20/2).

Menurut Anggota Komisi I DPRD Kepri tersebut, kesepakatan tidak cukup hanya pada tingkat DPD Partai pengusung Sanur. Artinya meskipun sudah ada dua nama yang diputuskan, tetap harus disampaikan kembali ke masing-masing DPP Partai Pengusung.

“Memang sekarang ini, condongnya ke Isdianto. Tetapi baru satu nama, sedangkan satu nama lainnya masih belum difinalkan,” ungkap pria yang akrab disapa Aluan itu.

Masih kata Aluan, siapapun nanti kandidatnya, gubernur tidak boleh lepas tangan. Artinya tetap harus memberikan penjelasan-penjelasan kepada masing-masing DPP, terkait figur yang diinginkan untuk bekerjasama dengan dirinya.

“Setelah adanya rekomendasi, barulah gubernur mengajukan dua nama tersebut ke DPRD Kepri untuk dipilih. Dari awal gubernur menyerahkan keputusan ke parpol pengusung, tanpa memberikan petunjuk,” tutup Sarafuddin.

Kandidatnya Harus Matang

Terpisah, Direktur Batam Research Center dan Peneliti di Pusat Kajian Data Kepri, Hendri Rahman mengatakan tidak kunjung rampungnya proses penentuan dua nama Wagub Kepri mengundang perhatian pihaknya secara mendalam.

Berangkat dari persoalan tersebut, pihaknya melakukan kajian secara ilmiah mengenai kandidat seperti apa yang diinginkan tokoh-tokoh masyarakat di Kepri.

“Kebanyakan tokoh sangat menginginkan figur-figur yang diusulkan nanti adalah orang-orang yang sudah matang dan sarat pengalaman. Selain itu juga bisa berkomunikasi dengan baik, jangan sampai pecah kongsi di tengah jalan,” ujar Hendri Rahman, kemarin.

Dibeberkannya, kebanyakan para tokoh juga mempertanyakan sikap Demokrat yang mengusulkan salah satu figur yang dinilai belum siap untuk menjadi Wagub Kepri. Selain masih muda, juga belum kaya pengalaman. Gubernur tentu sangat menginginkan sosok pendamping yang bisa meringankan beban pemerintahan.

“Melihat dari dinamika yang terjadi, gubernur butuh pendamping yang siap, mempunyai pengalaman dan yang lebih penting loyal. Apalagi Kepri pintu gerbang Indonesia harus dipimpin orang yang faham di bidang maritim yang lebih utama mengerti tentang isu pertahanan dan keamanan,” papar Hendri.

Masih kata Hendri, apabila disimpulkan hasil kajian yang dilakukan, tokoh-tokoh masyarakat Kepri tidak menghendaki Kepri menjadi Jakarta kedua. Jangan karena kepentingan politik atau kepentingan pribadi, menjadi pengusik ketentraman masyarakat Kepri.

“Memang ada kesan memaksakan dukungan yang diberikan Demokrat kepada salah satu kadernya. Tetapi tidak melihat keinginan masyarakat seperti apa,” tutup Hendri.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Abdul Razak juga memberikan masukan, kandidat yang dipilih hendaknya matang. Sehingga siap membantu Gubernur dalam bekerja. Selain kematangan faktor pengalaman juga menjadi pertimbangan. Abdul Razak meminta gubernur jangan sampai salah figur untuk diusulkan ke DPRD Kepri.

“Gubernur tentu punya selera, figur seperti apa yang diinginkannya. Kita hanya memberikan pandangan, karena kita ingin gubernur dan Wagub punya komunikasi yang baik,” ujar Abdul Razak.

Sementara itu, tokoh sentral pembentukan Provinsi Kepri Huzrin Hood, menilai partai pengusung salah pilih orang dalam pengusulan nama-nama calon wakil gubernur (Cawagub) Kepri ke Gubernur. Huzrin meminta agar lima partai pengusung itu untuk meninjau ulang keputusannya.

“Kita menginginkan orang yang matang atau siap. Tetapi tidak punya masalah, tentu figur seperti itu yang lebih baik,” ujar Huzrin Hood.(jpg)

Respon Anda?

komentar