Iklan

batampos.co.id – Sejumlah nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas harus pintar dalam menandai cuaca yang ada di Anambas jika ingin pergi melaut. Jika salah membaca tanda-tanda alam, maka bisa berakibat fatal.

Iklan

Nelaya Anambas memiliki kemampuan tersendiri untuk membaca alam. Tanda-tanda tersebut bisa dilihat melalui langit maupun tiupan angin di tepi pantai. Jika langit tidak terlalu gelap, tidak ada mendung yang bergerombol, dan tidak ada angin kuat di darat, maka cuaca laut teduh maka pada saat itu nelayan bisa melaut meski hanya satu hari saja.

Jika cuaca teduh maka gelombang tidak terlalu tinggi. Diketahui pada hari Minggu (19/2) cuaca di laut bagus sehingga masyarakat Anambas hampir 70 persen bisa melaut.

“Kemarin sejumlah nelayan sudah mulai melaut dan itu juga karena keadaan cuaca gelombang di laut cukup mendukung, tapi masih ada juga nelayan yang memilih kerja di kebun sebagai pemanjat pohon cengkeh,” ungkap Hardi selaku nelayan Tarempa, Senin (20/2).

Menurutnya, selain mencari ikan dirinya tidak bisa bekerja yang lain dan ketika gelombang tinggi dan ia hanya bisa merawat kapal motornya saja. Namun dirinya mengaku bahwa jelang musim utara tiba, ia sudah menabung dari penghasilan selama 8 bulan mencari ikan. Jika hal itu tidak dilakukan maka, sudah tentu ia akan mengalami kwalahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya. “Jika tidak saya akan kebingungan mencari uang ketika angin kencang dan gelombang tinggi,” ungkapnya.

Tambahnya, setiap tahun hal ini dirasakan oleh nelayan, tentu tidak bisa terelakan, maka ia menilai perlu adanya antisipasi mengenai pendapatan bagi kehidupannya. Dengan belajar dari pengalaman ia tidak merasa kesulitan dan selama musim utara tiba waktu dirinya istirahat melaut dan juga memiliki waktu yang banyak bersama keluarga.

Ia mengaku, dalam waktu satu tahun hanya delapan bulan saja ia memiliki waktu untuk bekerja sebagai nelayan, selebihnya waktu istirahat sebab, musim utara sudah tiba dan dipastikan ia tidak bisa melaut lagi.

“Harus bisa mengatur waktu pak, kalau saya, selama setahun ada delapan bulan saya bekerja sebagai nelayan selebihnya waktunya saya bersama keluarga untuk istirahat dan lagi pula saatnya musim utara,” jelasnya.

Tidak dipungkiri pada musim ini memperoleh ikan cukup mudah, tapi sisi lain pula harus mempertaruhkan nyawa. “Memang mencari ikan musim utara seperti ini mudah. Tapi saya tidak berani melaut,” pungkasnya. (sya)