batampos.co.id – Ketenangan di Distrik Rinkeby, Stockholm, Swedia, terusik Senin petang (20/2). Massa bentrok dengan polisi. Mobil-mobil dibakar dan toko-toko dirusak serta dijarah. Meski bukan kali pertama, kerusuhan seperti itu sangat jarang terjadi di Swedia. Terlebih, polisi sampai harus mengeluarkan tembakan peringatan untuk menenangkan amuk massa.

Insiden di distrik yang mayoritas penduduknya imigran tersebut bermula dari usaha penangkapan seorang pengedar narkoba pada Senin sore.

Ketika sampai di lokasi, ternyata sudah ada penduduk yang bergerombol di jalanan. Sebagian mengenakan penutup wajah. Tidak diketahui apakah mereka berusaha melindungi pelaku atau ada masalah lain. Polisi langsung meminta kiriman bala bantuan.

Tiba-tiba saja terjadi bentrok. Polisi tidak mampu mengamankan massa dengan cepat. Setidaknya ada 10 mobil yang hanya tinggal kerangkanya lantaran dibakar massa. Beberapa bagian depan toko juga rusak parah. Sebagian besar toko-toko tersebut telah dijarah. Pintu stasiun bawah tanah Rinkeby pun dirusak.

’’Bentrok ini mungkin akibat dari peningkatan tekanan pihak kepolisian kepada para pelaku kriminal di area tersebut,’’ tutur Kepala Polisi Stockholm Ulf Johansson.

Rinkeby adalah salah satu distrik dengan angka pengangguran yang tinggi.

Saat malam massa belum bisa dikendalikan. Mereka melempar batu ke arah polisi di lokasi. Salah satunya mengenai bagian lengan petugas. Ketika situasi mulai memanas, polisi mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan. Satu tembakan peluru karet diarahkan ke pelaku perusakan.

Situasi baru terkendali ketika tengah malam. Polisi kini menyelidiki kasus tersebut.

’’Tentu saja ini masalah serius bahwa petugas kepolisian telah diserang saat menjalankan tugasnya,’’ tegas Johansson.

Dia menambahkan, perlawanan penduduk tidak membuat polisi gentar. Bahkan, mereka akan lebih mengintensifkan tugasnya untuk memburu para pelaku kriminal.

Saat berpidato di hadapan para pendukungnya di Kota Melbourne, Brevard County, Negara Bagian Florida, Sabtu (18/2), Trump menyebut Swedia sebagai salah satu contoh negara yang menjadi sasaran teroris karena ramah terhadap pengungsi dan imigran.

Dia menyatakan, pada Jumat malam (17/2) ada bentrok di Swedia. Padahal, tidak ada kejadian apa pun saat itu. Presiden ke-45 AS tersebut langsung menjadi bahan olok-olokan di dunia maya.

Swedia memang membuka pintu lebar-lebar untuk para pengungsi. Pada 2015 mereka menerima 162 ribu pencari suaka. Sepertiganya berasal dari Syria.

Pada 2012–2015 mereka menerima 101.025 imigran. Banyaknya pendatang tersebut memicu beberapa ketegangan dan sentimen anti-imigran di negara yang populasinya hanya 9,5 juta orang tersebut. (CNN/BBC/sha/c15/any)

Respon Anda?

komentar