Iklan

batampos.co.id –  Aksi teror bom panci kembali meletup, Senin (27/2). Residivis kasus teror bernama Yayat Cahdiyat meledakkan bom panci berdaya ledak rendah di Lapangan Pandawa dan meneror pegawai kantor Kelurahan Arjuna, Bandung, Jawa barat. Dalam waktu kurang dari dua jam, polisi melumpuhkan pelaku.

Iklan

Aksi teror bermula sekitar pukul 08.30, Yayat membawa sebuah bom panci ke arah Lapangan Pandawa. Tepat di ujung lapangan, terdapat sebuah meja dan Yayat menaruh bom tersebut di atasnya. Tidak berapa lama bom itu meledak. Dalam serpihan ledakan itu ditemukan paku dan sejumlah rangkaian kabel.

”Setelah menaruh bom itu, dia lari ke arah kantor Kelurahan Arjuna,” tutur Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divhumas Mabes Polri Kombespol Martinus Sitompul, kemarin.

Dia membawa semacam pisau atau golok saat menuju ke kantor kelurahan tersebut. Saat berada di dalam kantor tersebut, pegawai kelurahan seperti diancam-ancam. Sehingga, semua pegawai berhambur keluar kantor tersebut. ”Sama sekali tidak ada sandera dalam aksi ini dan tidak ada korban jiwa,” paparnya.

Anggota kepolisian bertindak cepat merespon aksi teror tersebut. Setelah melakukan pengepungan terhadap pelaku teror, akhirnya pelaku berhasil dilumpuhkan dengan cara ditembak di bagian dada. ”Sayangnya, saat dilarikan ke rumah sakit, pelaku aksi teror meninggal dunia,” ungkapnya.

Untuk sementara diketahui pelaku merupakan residivis kasus teror latihan militer di Aceh. Perannya memberikan dukungan dalam aksi pelatihan tersebut. ”Dia didakwa pada 2012 dengan hukuman tiga tahun penjara dan bebas pada 2015,” tuturnya.

Ada informasi bahwa pelaku aksi teror tidak hanya Yayat, ada seorang pelaku lagi yang mengantar Yayat. Terkait hal tersebut, Martinus mengakui masih perlu untuk dilakukan pendalaman. ”Yang diketahui saat ini hanya satu, perlu pendalaman lagi,” ujarnya.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengungkapkan, petugas mampu melumpuhkan pelaku aksi teror hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Hal tersebut menunjukkan kesigapan kepolisian dalam upaya mengamankan masyarakat dari aksi teror yang membahayakan semacam ini. ”Bahkan, dalam kasus terorisme semacam ini, Polri terus berupaya untuk melakukan deteksi dini dan melakukan antisipasi,” terangnya.

Bila dianalisa, kata Boy, sebenarnya ada yang perlu dipertanyakan. Yakni, mengapa pelaku menaruh bom panci itu di lapangan. Kalau ingin membuat banyak jatuh korban, biasanya seorang pelaku aksi akan membawa bom ke tempat keramaian. ”Inikan dia menaruhnya di lapangan, kita masih analisis peletakannya kenapa di lapangan. Apa tujuannya,” ungkapnya.

Informasi yang diterima Jawa Pos (grup Batam Pos) menyebutkan, Yayat merupakan anggota Jamaah Ansharu Daulah (JAD) Bandung. JAD dipastikan berafiliasi dengan ISIS. Yayat sendiri bebas bukan karena masa hukumannya dijalankan, melainkan mendapatkan pembebasan bersyarat. ”Dia dulunya ditangkap karena mengirim amunisi untuk larihan militer,” tutur sumber yang mengetahui kasus tersebut.

Sementara Pengamat Terorisme Muhammad Jibriel mengungkapkan, aksi yang dilakukan anggota JAD ini menunjukkan pola tertentu. Salah satunya, bila dihubungkan dengan waktu yang begitu dekat dengan rencana kedatangan Raja Arab, maka seakan kelompok teror ini ingin menunjukkan eksistensi mereka. ”Pertanyaannya kan, mengapa sekarang. Mengapa tidak sebelum ini,” ujarnya.

Menurutnya, dari informasi yang diterimanya, Yayat sebenarnya dikenal cukup baik dan sopan. Namun, kemungkinan perangainya berubah semakin ekstrem setelah di penjara karena kasus terorisme.

”Setelah bebas, ruang lingkupnya menjadi sangat sempit. Untuk seorang residivis kasus teror, akses apapun sulit. Dia hanya berjualan bubur. Akhirnya, lingkungannya hanya yang sepemikiran dan ideologinya tidak berubah,” terangnya.

Dia mengingatkan bahwa sebenarnya ada peran dari Amman Abdurrahman dalam aksi tersebut. Menurutnya, JAD itu dipimpin Amman yang memiliki kemampuan untuk mencuci otak dengan pengetahuan agamanya, hafal Al Quran dan sebagainya. ”Seakan-akan jihad yang didengungkan sesuai syariat, padahal justru menyalahi syariat. Aksi semacam ini merupakan aksi sakit jiwa. Jihad itu sama sekali tidak boleh membunuh saudara seagama,” ungkapnya.

Di sisi lain, aksi yang dilakukan Yayat ini juga menunjukkan makin liarnya aksi teror. Kapan saja, dimana saja sudah tidak dipedulikan oleh pelaku teror. ”Dengan aksi yang juga serampangan ini, menunjukkan bahwa kekuatan kelompok teror sudah sangat lemah,” jelasnya.

Pengamat terorisme lainnya, Harits Abu Ulya, menilai aksi pelaku tidak relevan karena tidak mempunyai motif dan target yang jelas. “Tabiatnya seseorang yang mempunyai tuntutan, biasanya mereka memiliki sesuatu yang di jadikan bergaining. Sementara pelaku di Cicendo sama sekali tidak punya hal tersebut,” kata Harits, kemarin.

Direktur The Community of Islamic Analyst (CIIA) ini juga menyayangkan tindakan aparat menembak mati pelaku di lokasi kejadian. Hal itu, kata dia, akan mempersulit upaya mencari motif serta kelompok mana yang menggerakan pelaku.

“Ini akan mempersulit untuk elaborasi motif dan tujuan aksi. Dan lebih penting lagi akan sulit untuk ungkap master mind jika ada,” ungkapnya.

Menurut dia, sangat mungkin Densus 88 akan melanjutkan perburuan terduga teroris lainnya pascakejadian kemarin.

“Tujuannya dalam rangka melengkapi narasi soal jaringan terkait pelaku aksi jika ada,” sambungnya. (idr/syn/jpgrup)