Bank Darah milik PMI Batam. Foto: istimewa

batampos.co.id – Ketersediaan Bank Darah di kabupaten Lingga masih menjadi persoalan klasik yang belum mampu diselesaikan. Meski miliki Palang Merah Indonesdia (PMI) tingkat Kabupaten, pihak terkait belum juga temukan solusi mengadakan Bank Darah bagi kenyamanan pasien khususnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Encik Maiyam kota Daik.

Pada tahun 2014 silam, PMI kabupaten Lingga pernah mewacanakan pengadaan Bank Darah melalui Pemkab Lingga. Namun keterbatasan dana dan defisit anggaran memupuskan mimpi itu.

Hingga kini mimpi itu belum terwujud.

Dokter Fungsional RSUD Encik Mariyam Daik, dr Rico Ikhsan kepada Batam Pos mengatakan, untuk pengadaan Bank Darah pihak RSUD membutuhkan peran serta unit Instalasi Bank Darah atau melalui PMI.

PMI berkewajiban membantu pendirian Bank Darah yang pengelolaannya oleh RS.

“Permasalahan Bank Darah, kami harusnya dibantu instalasi Bank Darah. Biasanya di kota-kota lain ada PMI yang menjadi bagian di luar RS dan diawasi Pemkab. Kondisinya saat ini tidak berjalan di Lingga,” kata Rico, Senin (27/2) siang.

Karena keterbatasan RSUD lanjut Rico, ada kendala petugas RS dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Selama ini RSĀ  menggunakan whole blood (darah lengkap red) kepada pasien.

“Alat ini kami belum ada. PMI juga belum maksimal untuk persedian termasuk kantong darah. Jadi darah dari pendonor langsung disterilkan dan masukkan kepada pasien yang membutuhkan. Mau tidak mau whole blood,” jelas pria asli Pekanbaru ini.

Bank Darah lanjut Rico sangat penting. Untuk itu pihak RSUD mendorong PMI untuk bekerjasama membatu RS dalam pemalayanan terhadap pasien di Lingga.

“Persedian kantong darah dibebankan pada APBD melalui Dinas terkait. Kota dan kabupaten lain ada pihak lain seperti BPJS. Darah dari pendonor harus discreening untuk disterilkan dari HIV, Hepatetis B dan Sipilis. Kami mensuport agar PMI kembali bergerak. Nanti Bank Darah boleh berada di Daik ataupun Dabo.

Bisa menyimpan darah yang didonorkan melalui kegiatan PMI baik kegiatan sosial ataupun melalui PMI Remaja.

Mensuport kembali gerak PMI, boleh di Daik atau di Dabo. Bisa nanti dibuat donor darah masal dan bisa disimpan.

Darah butuh cepat, seperti saat bersalin.

Karena tidak ada ketersediaan mencari pendonor. Kalau mau oprasi pihak keluarga harus menyiapkan pendonor yang siap.

“Saran kami instansi bank darah PMI yang bergerak. PMI harus bekerjasama dengan dinas. Kalau PMI bisa bergerak lewat PMI remaja atau kegiatan sosial. Dari sana kita mimiliki stock darah. Kebutuhan-kebutahan darah yang cepat seperti bersalin ataupun kecelakaan,” lanjutnya.

Ditempat lain, Direktur RSUD Encik Mariyam dr Suryadi atau lebih akrab disama dr Atan yang dihubungi wartawan juga akui kendala ini. Meski baru beberapa bulan terakhir menjadi pimpinan di RSUD Encik Mariyam Bank Darah menurutnya harus tersedia di Lingga.

“Jelas pelayanan terkendala karena tidak ada Bank Darah,” jelas dr Atan singkat.

Sementara itu salah seorang anggota PMI Lingga, Syarifah Teja Pradiksina akui PMI Lingga belum mampu membantu RS dalam pengadaan Bank Darah. Meski telah dijejaki ke pemkab Lingga sejak beberapa tahun terakhir, Bank Darah belum juga dapat diadakan.

PMI sendiri lanjut Teja juga alami kendala dilapangan. Kebutuhan darah bagi pasein yang membutuhkan membuat PMI kesulitan mencari pendonor.

“Kendala jelas ada bagi kami di PMI. Dalam membantu pasien yang butuh darah kami harus cari sana-sini. Tanya pendonor kami yang memiliki darah sesuai kebutuhan gologan dara pasien. Karena sistem dari pendonor langsung ditranfusikan, masalahnya tidak ada bank darah,” kata Teja.

PMI Lingga kata Teja juga tidak bisa melakukan kegiatan sosial seperti donor darah masal untuk membantu ketersediaan darah di RS.

“Kalau ada Bank Darah, otomatis kami bisa adakan kegiatan sosial donor darah masal. Bisa disimpan dalam waktu yang panjang. Sejak pengunduran diri ibu Syarifah Rosmawati Daria beberapa waktu lalu sampai saat ini posisi ketua umum masih kosong. Begitu juga ketua harian,” pungkasnya.

Pihaknya juga berharap, pemkab Lingga bisa secepatnya mengadakan Bank Darah bagi kebutuhan RS dan pelayanan kesehatan kepada pasien di Lingga. (mhb)

Respon Anda?

komentar