Iklan

batampos.co.id – Sopir angkutan kota (angkot) kembali menyerang sopir Bus Trans Batam, Boby, Senin (27/2) pukul 18.30 WIB di Jalan Letjen R Suprapto, Buliang, tak jauh dari Perumahan Pendawa Asri.

Iklan

Menurut keterangan Afrinaldo, bagian tiket Bus Trans Batam,
kejadian bermula saat Trans Batam dengan nomor polisi BP 70XX EU hendak menurunkan penumpang di halte. Tiba-tiba dari arah belakang datang satu unit mobil angkot warna biru dengan nomor polisi BP 70XX GU.

“Dari rute yang sama mobil kami dipepet dari kiri,” kata pria yang disapa Edo itu, Senin malam di Mapolresta Barelang.

Tidak lama kemudian, sopir Bimbar turun dan menghampiri Boby. Sebelum dipukul, keduanya sempat cekcok.

“Sopir Bimbar di bawah sedangkan Boby dari pintu tengah Trans Batam,” jelasnya.

“Saya nggak tahu tiba-tiba saja Boby dipukul. Saya nggak tahu berapa kali,” imbuhnya.

Boby saat dijumpai setelah membuat pengaduan di Mapolresta Barelang, menuturkan, dia dipukul sebanyak tiga kali di bagian kepala belakang.

“Sebelum saya dipukul saya dipaksa dengan cara baju ditarik, kancing baju saya copot,” ungkap Boby.

Boby mengatakan peristiwa itu terjadi karena sopir angkot tidak terima dirinya menurunkan penumpang di Pendawa, padahal tempat tersebut merupakan halte Trans Batam.

“Sopir angkot itu bilang tidak boleh menurunkan penumpang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Operasional Perusahaan Umum Damri Batam Yohanesken menyampaikan kekecewaanya terhadap oknum yang telah memukuli anak buahnya. Dia berharap pihak kepolisian dapat menyelesaikam permasalahan ini hingga tuntas.

“Proses hukum tetap ditegakkan seadil-adilnya,” ujar Yohanesken.

Terpisah, ketua koordinator trayek Tanjunguncang, John Sinaga mengatakan kronologis kejadian ini bermula dari bus Trans Batam menurunkan dan menaikkan penumpang tidak pada tempatnya.

“Atas kejadian itu terjadi argumentasi antara kami dengan pihak Trans Batam. Setahu kami (yang disebut) halte itu punya atap dan tempat duduknya,” katanya.

John berharap permasalahan ini dapat diselesaikan dengan hukum yang berlaku.

“Dan Dishub dapat menertibkan sopirnya yang membandel. Agar kedepannya kejadian serupa tidak terjadi lagi,” katanya.

Menurutnya, Kamis lalu ia telah bertandang ke kantor Dishub Batam dan bertemu dengan Yohanes untuk menanyakan peraturan Trans Batam. Dari pertemuan itu, didapati jawaban bahwa peraturan yang berlaku masih peraturan yang lama.

“Tapi kenapa kayak gini? Sudah macam angkot menurunkan dan menaikkan penumpang di jalan. Kalau sanggup, kita bersaing secara sehat dan samakan ongkosnya. Jangan ada ongkos disubsidi,” katanya. (cr14/cr1)