Terdakwa Korupsi Raja Tjelak (tengah) usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (27/2). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Mantan Sekda Anambas, Raja Tjelak Nur Jalal berusaha menarik dan menepis kamera wartawan Batam Pos, saat keluar dari pintu usai menjalani sidang dengan agenda tuntutan atas perkara korupsi pengadaan mess Pemda dan asrama mahasiswa asal Anambas di Tanjungpinang, di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Senin (27/2).

Pantauan di lapangan, sebelum keluar dari ruang sidang. Usai menjalani persidangan, terdakwa sempat berbicara dengan keluarganya. Wajahnya terlihat pucat dan nampak emosi. Terdakwa yang saat itu mengenakan baju kemeja warna orange, tiba-tiba langsung mengejar dan berusaha menarik kamera wartawan Batam Pos yang saat itu ingin mengambil gambar dirinya. Selain itu, kerabatnya juga berusaha menghalangi sejumlah wartawan lain yang mencoba mengabadikan foto terdakwa saat itu.

“Mana sini foto, sini foto,” ujar Radja Tjelak dengan nada emosi sambil menyodorkan mukanya dan mencoba meraih kamera fotografer yang mengabadikannya.

Sementara saat sidang, terdakwa terlihat gelisah dan pucat pasi saat mendengarkan tuntutan yang dibacakan JPU dari Kejati Kepri, Zulfahmi dan Roesli, yang menuntutnya agar dihukum selama empat tahun dan enam bulan penjara.

Karena melanggar pasal 3 Junto pasal 18 undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan undang-undang 20 tahun 2001 tentang pidana korupsi junto pasal 55 KUHP.

“Terdakwa telah bersama-sama menyebabkan atau merugikan negara dengan menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Untuk itu selain meminta agar terdakwa dihukum penjara. Terdakwa juga dikenakan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan,” ujar JPU.

Dalam sidang yang berlangsung selama dua jam itu, JPU menyebutkan terdakwa turut dibebankan untuk membayar uang pengganti atas kerugian negara senilai Rp 1,49 miliar. Yang mana jika terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut maka harta bendanya akan disita untuk negara.

“Namun, jika setelah disita harta bendanya tidak cukup untuk membayar uang kerugian negara. Maka hukumannya akan ditambah dua tahun dan tiga bulan penjara,”terang JPU.

Sementara itu Zulfahmi yang merupakan mantan Kadispenda Anambas, yang saat pengadaan mess Pemda dan asrama mahasiswa asal Anambas di Tanjungpinang, sebagai sekretaris panitia, juga dituntut empat tahun dan enam bulan penjara.

JPU menyatakan dia terbukti bersalah melakukan korupsi secara bersama-sama dan menyalahgunakan kewenangan dan sarana yang ada padanya untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain hingga menyebabkan kerugian negara.

“Selain hukuman badan, terdakwa juga dikenakan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan,” ujar JPU.

Atas tuntutan tersebut, baik terdakwa Radja Tjelak dan Zulafhmi, yang didampingi penasehat hukumnya masing-masing, menyatakan akan mengajukan pembelaan (pledoi) secara tertulis yang akan dibacakan dalam sidang selanjutnya.

Setelah mendengar tuntutan yang dibacakan JPU dan tanggapan terdakwa atas tuntutan tersebut. Majelis hakim yang diketuai oleh Elyta Ras Ginting, didampingi dua hakim anggota Iriaty Khairul Ummah dan Suherman, menunda sidang selama satu minggu kedepan untuk mendengarkan pledoi yang akan dibacakan terdakwa.(ias)

Respon Anda?

komentar