batampos.co.id – Kepala Imigrasi Kelas III Tarempa Kabupaten Kepulauan Anambas Ikhsanul Humala Pane Harahap mengatakan, jika tempat penampungan bagi warga Negawa Asing (WNA) terutama Anak Buah kapal (ABK) dari kapal asing yang tertangkap belum memadai.

Selama ini pihak imigrasi hanya memanfaatkan ruangan aula milik Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) yang berada di Antang Desa Tarempa Timur Kecamatan Siantan untuk WNA itu istirahat. Terkadang jumlahnya melebihi kapasitas yang tersedia.

Oleh sebab itu, Kepala Imigrasi Kelas III Tarempa Kabupaten Kepulauan Anambas Ikhsanul Humala Pane Harahap, meminta kepada pihak pemerintah pusat melalui Kementerian Hukum dan Ham dapat menganggarkan pembangunan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).

“Lahan untuk pembangunan Rudenim telah disediakan dan persoalan anggaran pelaksanaan pembangunan untuk Rudenim yang belum tersedia. Kita sangat membutuhkan itu,” ungkap Kepala Imigrasi Kelas III Tarempa, Ikhsanul, kemarin.

Menurutnya, Rumah detensi imigrasi (Rudenim) adalah unit pelaksana teknis yang menjalankan fungsi keimigrasian sebagai tempat penampungan sementara bagi orang asing yang melanggar Undang-undang Imigrasi.

Tambahnya, kenapa rudenim perlu dibangun karena adanya peningkatan tentang lalu lintas orang asing, baik yang keluar maupun yang masuk ke Indonesia, sehingga berpotensi timbulnya permasalahan keimigrasian terhadap kedatangan dan keberadaan orang asing di Indonesia yang memerlukan upaya penindakan bagi orang asing yang melanggar ketentuan yang berlaku.

“Ruang yang digunakan saat ini tidak cukup menampung para ABK kapal asing dan terkadang mereka yang diamankan jumlahnya melebihi kapasitas ruang yang ada,” jelasnya.

Karena tidak tertampung, diakuinya ABK asing tersebut seringkali dijumpai berbaur dengan masyarakat disebabkan bangunan milik PSDKP yang terletak tidak jauh dari pumukiman penduduk.

“Tidak sedikit warga mengeluhkan keberadaan WNA yang diamankan, tapi kita belum bisa berbuat banyak sebab sarana dan prasarana yang kita miliki sangat terbatas,” ujarnya.

Keberadaan mereka yang membaur dengan masyarakat ada yang suka namun ada juga yang tidak suka karena tingkah laku dan kebiasaan mereka yang berbeda dengan masyarakat Anambas. Mereka sering mencari makan dengan berburu apa saja. Kadang mereka berburu biawak untuk makan bersama. Bahkan terkadang juga memakan daging anjing. (sya)

Respon Anda?

komentar