Selasa, 10 Maret 2026

Lembu Liar Masih Berkeliaran di Kota Daik

Berita Terkait

Lembu liar masih berkeliaran di Daik, pusat ibukota kabupaten Lingga. Foto: Hasbi/batampos.

batampos.co.id – Penertipan hewan ternak milik warga masih belum juga berjalan maksimal. Hampir setiap hari, lembu-lembu milik warga yang dibiarkan bebas berkeliaran masih menjadi pemandangan di Daik, ibukota Kabupaten Lingga.

Meskipun telah terjadi sejumlah kecelakaan lalu lintas hingga menyebabkan hilangnya nyawa pengendara motor akibat menabrak lembu beberapa waktu, baik peternak dan dinas terkait belum juga temukan solusi untuk kenyamanan bersama.

Lurah Daik, Kecamatan Lingga Jufri yang dihubungi Batam Pos saat ditanya soal lembu yang masih berkeliaran tersebut, mengakui hal ini. Beberapa waktu lalu kata dia rapat bersama dinas pertanian, Sapol PP sebagai penegak perda, pihak Kecamatan, kelurahan dan pemilik hewan ternak telah berlangsung.

“Ini memang menjadi masalah bersama. Himbauan dan peringatan sudah disampaikan kepada pemilik ternak dari dinas pertanian. Selanjutnya eksekusi dari Satpol PP. Rapat juga telah berkali-kali. Kami butuh kerjasama juga dengan semua masyarakat dan peternak,” ungkap Jufri.

Diakui selama ini warga kelurahan Daik khususnya masih dengan pola lama untuk mengembala ternak lembu. Tanpa kandang. Ternak hanya diikat menggunakan tali. Namun juga banyak yang terlepas liar dan sulit dikendalikan. Untuk membantu peternak memiliki lahan sendiri, wilayah kelurahan Daik sebagian besar telah dimiliki masyarakat.

“Sebagian besar memang dengan pola-pola lama. Kami juga tidak punya lahan untuk disiapkan sebagai areal peternakan. Karena semua tanah di kelurahan Daik sebagaian besar telah milik masyarakat,” jelasnya.

Ditempat lain, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Said Rudi Palo mengatakan untuk teknis di lapangan sebelum dilakukan eksekusi cara-cara persuasif jaga harus lebih ekstra dilakukan. Pola lama beternak tersebut kata Rudi telah membudaya dan perlu dilakukan secara perlahan.

“Kemarin beberapa ekor sudah kami tangkap menggunakan senapan bius di Daik. Tapi tidak efisien. Peternak masih mengembala tanpa lahan,
Budaya masyarakat yang harus diubah perlahan-lahan,” kata Rudi.

Pihaknya kata Rudi terus melakukan koordinasi dan himbauan kepada masyarakat dilapangan. Meski telah memiliki senapan bius pengadaan tahun 2016 lalu, hal tersebut kata Rudi tidak bisa maksimal dilapangan. “Kalau kami terlalu keras, ini juga tidak bisa. Budaya beternak inilah yang harus diubah. Memang ini jadi persoalan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, lembu liar masih tetap berkeliaran dijalan-jalan poros kota Daik. Dikhawatirkan tanpa ada keseriusan pemerintah dalam hal ini melakukan pendekatan dan penyiapan lahan serta pendekatan persuasif, lembu liar akan tetap menjadi ancaman bagi pengendara dan kenyamanan dipusat Ibukota kabupaten Lingga. (mhb)

Update