Rabu, 8 April 2026

Lahan di Batam Terbatas, Calon Investor Balik Kanan

Berita Terkait

ilustrasi
foto: rezza herdiyanto / batampos

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali mengungkap rencana investasi asing di Batam yang batal karena terkendala ketersediaan lahan. Setelah perusahaan galangan kapal asal Jepang, Tsuneishi Shipbuilding, giliran investor asal Cina yang gagal menanamkan modalnya di Batam karena tidak ada lahan.

Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andi Antono, mengatakan perusahaan asal Cina itu berencana membangun kawasan industri di Batam. Lahan yang dibutuhkan seluas 1.000 hektare. Namun BP Batam tak sanggung memenuhi permintaan tersebut.

“Masalahnya kami sudah tak memiliki lahan seluas itu lagi,” kata Andi, Jumat (30/3).

Namun saat dintanya nama perusahaan tersebut, Andi enggan menyebutnya. Sebab ia memastikan, calon investor itu sudah membatalkan niatnya berinvestasi di Batam.

“Orangnya nggak jadi. Tapi yang jelas itu investor dari Cina,” katanya.

Selain calon investor baru, kata dia, ada sebuah kawasan industri yang mengajukan lahan untuk perluasan usaha. Namun lagi-lagi BP Batam tak mampu menyanggupinya karena memang lahan yang tersedia terbatas. Padahal, kawasan industri tersebut hanya mengajukan lahan seluas 300 hektare.

Andi menyebutkan, sebenarnya saat ini masih ada sekitar 1.800 hektare lahan yang tersedia untuk investasi. Namun lokasinya tersebar di beberapa titik. Sehingga jika ada calon investor yang mengajukan lahan dalam jumlah besar di satu lokasi, sulit untuk dipenuhi.

Sementara beberapa lahan tidur yang dikuasai pengusaha tidak bisa dialokasikan kepada investor. Sebab ada prosedur dan mekanisme yang harus ditempuh dalam mencabut lahan tidur itu. Kalaupun dicabut, BP Batam tetap memprioritaskan pengusaha terkait untuk meminta kembali alokasi lahan tersebut.

Karenanya, Andi meminta pengusaha yang menguasai lahan tidur untuk kooperatif. Jika memang berkomitmen akan memanfaatkannya, makan ia minta segera dilakukan pembangunan. Namun jika tidak, Andi meminta dikembalikan ke BP Batam.

“Dan kami akan mengembalikan UWTO-nya. Jadi ada win win solution,” katanya.

Sebab kata Andi, ketersediaan lahan merupakan hal yang amat penting dan pokok dalam investasi. Sehingga jika ada pengusaha yang sengaja menelantarkan lahan yang telah dialokasikan, sama artinya mereka menghambat dan mengganggu iklim investasi.

Sementara terkait Tsuneishi Shipbuilding, Andi mengaku sedang berupaya mencarikan lahan 40 hektare yang mereka butuhkan. Sehingga rencana investasi perusahaan galangan kapal itu terealisasi di Batam. “Sedang kami usahakan,” katanya.

Ia mengatakan ada dua opsi yang sedang ditempuh BP Batam. Pertama, melobi penusaha yang memiliki lahan agar menyewakan lahannya kepada Tsuneishi Shipbuilding dengan tarif yang wajar. Namun jika opsi ini menemui jalan buntu, BP Batam akan mengarahkan Tsuneishi Shipbuilding masuk ke kawasan industri yang masih memiliki lahan yang luas.

“Nanti kami arahkan ke kawasan industri,” kata Andi.

Andi menegaskan, kasus Tsuneishi Shipbuilding dan calon investor asal Cina itu hanya sebagian kecil saja. Dia mengaku masih ada beberapa calon investor lain yang mengurungkan niat investasinya di Batam hanya gara-gara tidak ada lahan. (ska)

Update