batampos.co.id – Komandan Korem 033 Wira Prtama (WP) Brigjen TNI Fachri, mengatakan pihaknya akan memproses secara transparan jika pelaku penembakan rumah Ketua LAM Kabupaten Natuna, Wan Zawali, adalah oknum TNI. Namun, jika pelakunya bukan anggota TNI maka akan diproses sesuai KUHP.
Hal tersebut dikatakan Komandan Korem, saat bersilaturhami dengan Ketua LAM Provinsi Kepri Abdul Razak dan rombongan, di ruang transit Markas Korem di Senggarang, Jumat (31/3) pagi.
”Mari berikan kesempatan kepada tim untuk menyelidiki secara prosedur dan bukti yang autentik serta jangan direkayasa,”ujar Fachri.
Dikatakan Fachri, tim yang melakukan penyelidikan belum mendapat titik terang terkait oknum yang melakukan penembakan. Sebab, keterangan saksi dan barang bukti yang ditemukan belum cukup.
”Penyelidikan bersama masih dilakukan Kodim Natuna, Lanal Natuna, Polres Natuna dan Subdenpom untuk menungkap pelakunya,”kata Fachri.
Untuk itu, sambung Fachri, pihaknya meminta agar tim yang melakukan penyelidikan diberikan kesempatan untuk melakukan penyelidikan sesuai prosedur dengan bukti otentik serta tidak direkayasa. ”Berikan kami waktu untuk mengungkap atas kejadian itu,”ucapnya.
Sementara itu Ketua LAM Kepri, Abdul Razak, mengaku puas atas apa yang disampaikan Komandan Korem 033 WP dalam pertemuan tersebut. Pihaknya juga meminta Danrem agar memberi rasa aman kepada masyarakat di Kepri pada umumnya, Natuna Khususnya.
”Kami seluruh pengurus yang hadir pusa dengan pernyataan yang disampaikan Danrem. Tapi, kami juga berpesan, kalau Melayu dilukai, maka putra melayu lainnya juga akan merasakan itu. Untuk itu, tolong berikan rasa aman kepada masyarakat,”ujarnya.
Seperti diketahui sebelumnya, rumah ketua LAM Natuna, Wan Zawali, di Desa Sungai Ulu Natuna menjadi target penembakan, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (28/3). Akibat penembakan tersebut, satu unit mobil dinas Ketua LAM yang sedang parkir dirumahnya terkena peluru dibagian kanan depan, atap rumah dan pot bunga. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Dalam olah TKP yang dilakukan Polres Natuna, ditemukan 10 selongsong peluru kaliber 5,56 milimeter. Hingga saat ini, Polres bekerjasama denga TNI AD melakukan penyelidikan kasus penembakan tersebut. Sementara kediaman rumah Wan Zawali masih dipasangi garis polisi.
Kapolres Natuna AKBP Charles Panuju Sinaga didampingi Dandim 0318 Natuna Letkol Inf Ucu Yustiana dan Dansubdenpom TNI AD Kapten Cpm SHM Sinaga dalam keterangan Pers di Mapolres Natuna mengatakan, saat ini Polres Natuna bersama Subdenpom TNI AD masih mendalami insidèn penembakan rumah Wan Zawali tersebut dan melakukan penyelidikan dan pencarian pelaku.
Ditegaskan Charles, penembakan tersebut tidak terkait terorisme atau aksi teror lainnya. Namun, masalah pribadi tapi bukan dengan Wan Zawalinya (Ketua LAM Natuna,red)
“Untuk sementara insiden penembakan ini bukan teroris, tapi masalah pribadi. Kami bersama Densubdenpom masih mencari pelaku. Kami juga belum memastikan pelakukan oknum TNI atau warga sipil,” sebut Charles.
Sejauh ini sebut Charles, dipastikan tidak ada korban jiwa. Namun terdapat kerugian materil, karena mengenai mobil dinas ketua LAM sedang parkir, atap rumah dan lantai.
Dikatakan Charles, pihaknya jga menerima informasi adanya keterkaitan keributan warga dengan seorang oknum TNI pada malam sebelumnya saat acarà hiburan warga. Dan terjadi kejar kejaran. Namun informasi tersebut masih didalami.
“Tapi sekarang belum jelas siapa orangnya, belum bisa buktikan pelakunya oknum TNI, masih dicari. Kejadian pertama di Natuna,” sebut Charles.
Dandim 0318 Natuna Letkol Ucu Yustiana menegaskan, pihaknya sudah menyerahkan insiden tersebut kepada Densubdenpom TNI AD untuk dilakukan penyelidikan.
Dikatakan Dandim, 10 selonsong amunisi yang ditemukan di TKP adalah jenis 5,56 mili meter. Senjata yang digunakan laras panjang jenis SS 1 atau senapan serbu (SS) 2.
“Tapi insiden ini kami pastikan ada buntut panjang atau merembet ke pihak lain. Kondisi Natuna tetap kondusif,” tegas Dandim.
Dansubdenpom Ranai Kapten Cpm SHM Sinaga dalam pernyataannya menegaskan, pihaknya bersama Polres Natuna masih mencari pelaku dan mengumpulkan keterangan.
“Jika ditemukan bukti kuat mengarah ke oknum anggota TNI dilakukan penyidikam, penahanan, pemberkasan dan diserahkan ke pengadilan miiter,” tegas Dansubdenpom Ranai.(ias)
