
batampos.co.id – Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang, Syahrul mengatakan TPID Kota Tanjungpinang telah menandatangani kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemko Batu Bara dan Pemkab Karo. Dengan MoU itu kedua kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tersebut akan mendistribsukian berbagai jenis sayuran dan buah-buahan ke Tanjungpinang.
“Sayuran dan buah-buahan telah menyumbang inflasi di daerah kita. Karena harga kedua komoditas itu selalu naik dan turun secara tiba-tiba. Agar harganya stabil kita minta dua kabupaten/kota di Provinsi Sumut untuk mendistribusikan produk pertaniannya kesini,” ujar Syahrul di Kantor Walikota, kemarin.
Dijelaskan Syahrul, TPID Tanjungpinang selalu berhasil menekan angka inflasi daerah. Keberhasilan itu terbukti mulai 2014, ketika inflasi diangka 7,49 bisa turun drastis menjadi 3,06 pada 2016. Bahkan pencapaian itu mengantarkan TPID Kota Tanjungpinang sebagai nominator terbaik pada Rakornas TPID 2016 se Indonesia .
Menekan inflasi, kata Syahrul tidak mudah karena butuh upaya- upaya maupun kerjakeras antar tim. Mulai dari mengelola ekspektasi melalui berbagai media, melakukan upaya kestabilan harga komoditas volatile food, meredam gejolak harga melalui konsolidasi rencana aksi oleh instansi terkait, dan melakukan inisiasi gerakan nyata dalam mengendalikan inflasi.
Berikutnya, mendorong pengembangan pertanian terpadu sebagai basis produksi daerah, dan mengarahkan capaian inflasi terjangkau pada target inflasi nasional 2017 sebesar empat persen serta menyusun roadmap pengendalian inflasi.
“Semoga MoU ini bisa antisipasi lonjakan harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Sebab dengan harga stabil daya beli masyarakat akan mengalami kenaikan,” harap Wakil Walikota (Wawako) Tanjungpinang ini.
Dalam waktu dekat, sambung Syahrul, TPID Kota Tanjungpinang akan segera menghitung biaya yang dikeluarkan mulai dari pembelian produk pertanian dari daerah produsen serta biaya transportasi hingga sampai ke Tanjungpinang. Direncanakannya pendistribusian dapat dilakukan April ini juga. Karena pengendalian stabilitas harga harus segera dilakukan mengingat tidak lama lagi akan memasuki Ramadhan dan Idul Fitri.
Wawako Batu Bara, Hari Numengroho mengatakan kerjasama ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Sebab dengan mendistribusikan komoditas sayur dan buah ke Kota Tanjungpinang inflasi daerahnya akan stabil. Sedangkan untuk Kota Batu Bara sendiri akan diuntungkan dengan naiknya harga setiap komoditas. Dampaknya kesejahteraan petani juga akan terus meningkat.
“Harga cabai sangat rendah ketika panen raya. Untuk cabai rawit hanya dipatok Rp 7 ribu per Kg sedangkan cabai merah dipatok Rp 10 ribu per Kg. Dengan distribusi ke Tanjungpinang harga komoditas kita akan mengalami kenaikan,” sebutnya.
Ketika harga jual cabai melambung tinggi dibagian Tengah dan Timur Indonesia, kata Hari, didaerahnya tidak mengalami lonjakan harga yang fantastis. Bahkan jika terjadi kenaikan hargapun masih dibawah angka Rp 20 ribu. Sebab daerah ini merupakan salah satu penghasil terbesar cabai di Indonesia.
Agar harga cabai tidak melambung tinggi di seluruh Indonesia, sambung Hari diharapkan setiap daerah mau bekerjasama dengan petaninya untuk pendistribusian sayur dan buah. Bahkan Pemko Batu Bara akan memberi dukungan penuh dengan mempermudah transportasi pendistribusiannya.
“Petani kami sangat semangat dengan niat baik TPID Kota Tanjungpinang. Karena hasil pertanian di desa Kubah Kecamatan Air Putih akan diambil semuanya oleh Tanjungpinang,” akunya.
Hal senada dikatakan Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Karo, Cory S. Sibayang. Dia mengatakan TPID Tanjungpinang sangat tepat menjalin kerjasama dengan daerahnya. Sebab Kabupaten Karo juga merupakan sentra sayur dan buah terbesar di Indonesia.
“Kami harapkan kerjasama kedua daerah berjalan lancar. Karena sama-sama diuntungkan, disisi lain kebutuhan komoditas sayur dan buah untuk Tanjungpinang terpenuhi. Dan daerah kita hasil panennya dibeli dengan harga tinggi,” jelasnya..
Cory menjamin hasil produk sayur dan buah petaninya segar dan sehat dikonsumsi. Sebab terjadinya letusan gunung Sinabung beberapa waktu lalu membuat lahan diseputaran kabupaten ini menjadi subur. Sehingga sayur dan buah juga surplus.
“Bahkan harganya sangat terjamin murah. Untuk harga tomat saja hanya dipatok Rp. 2.700 per kg. Maka dengan distribusi sayur dan buah Tanjungpinang akan untung besar. Karena selain murah juga segar dan sehat dikonsumsi,” ungkapnya. (ary)
