Kamis, 26 Februari 2026

Nilailah Suatu Produk dari Kemasannya.

Berita Terkait

Desainer Produk, Damang Sarumpaet memaparkan materi Lokakarya Pengemasan Produk bersama Bekraf RI di Hotel Aston Tanjungpinang, Rabu (12/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Peribahasa agar tak menilai sesuatu dari bungkusnya terbantahkan. Pada lokakarya ini, para narasumber mengharuskanyang sebaliknya: nilailah suatu produk dari kemasannya.

Bagi sebagian perintis usaha mikro kecil menengah, mendapatkan ide untuk membungkus produk buatannya merupakan hal yang tak terlalu mudah. Kesulitan dirasakan dari minimnya bahan dasar yang dapat dikreasikan untuk membuat kemasan.

“Sekalinya ada, kebanyakan mahal,” tutur salah seorang yang baru saja merintis usahanya di bidang perlengkapan bayi, Heni Lestari.

Ibu empat anak ini mengaku sulit mencantumkan label produk buatan tangannya. Ia mencoba menawarkan sepatu bayi. Dan ingin melengkapi produk buatannya dengan label di sisi buatan tangannya tersebut.

“Kalau mau langsung jadi harus pesan keluar kota. Berarti harus langsung banyak biar gak rugi-rugi amat” ujarnya.

Sementara untuk memesan jumlah banyak, juga belum berani ia lakukan. “Kan masih awal-awal banget ya, takutnya ditengah jalan ada logo pengin dirubah. Belum bisa difix-kan untuk sekarang, kalau udah terlanjur pesan banyak juga sayang,” ujar dia.

Lantas keinginan untuk mencoba membuat label sendiri pun muncul, setelah melihat panduan yang tersebar di dunia maya. Namun kendala lagi-lagi dijumpainya.

“Kalau disini seperti kertas transfernya itu, sejauh ini baru jumpa disatu tempat dan itu mahal banget,” tuturnya tertawa, mengaku lebih memilih mengurungkan niatnya.

Penuturan yang tak jauh berbeda lantas dijumpai pada beberapa pengusaha kecil menengah lainnya. Baik di bidang produk kerajinan tangan maupun makanan. Akhirnya memilih kemasan seadanya, tanpa terlalu memerhatikan estetika dari kemasan.

“Sementara penilaian pertama pembeli ada pada kemasannya,” tutur Pakar Desain Produk, Damang Sarumpaet dalam penjelasannya pada peserta workshop kemasan produk UMKM Tanjungpinang, kemarin.

Kemasan merupakan perantara antara pembeli dan produk. Alasan ini yang membuat Damang menegaskan pentingnya memberikan fokus pada ide kemasan produk.

“Tidak harus sehebat dan serumit produk perusahaan besar. Karena memang berbeda,” tambahnya.

Berhubung produk-produk yang telah dijual di pasar modern misalnya, tidak lagi mengandalkan kemasan sepenuhnya. Berhubung pembeli pada kelas ini, membeli produk berdasar kebutuhan.

“Yang terpenting itu berikan ciri khas. Lebih baik lagi kalau ciri khas lokal. Apalagi jika produk ini untuk oleh-oleh. Justru itu yang dicari pembeli,” terang pria bermuda berkacamata disela kegiatannya.

Masih dalam kegiatan lokalarya yang digelar Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan selama tiga hari kemarin, Endang Warsiki seorang ahli produk dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menekankan perhatian pengusaha menengah kecil pada kandunganyang ada dalam kemasan.

“Penawar produk tidak boleh tutup mata dari kandungan berbahaya yang ada pada kemasan yang mereka pilih,” tuturnya.

Ia mencontohkan penggunaan botol plastik atau gelas plastik sekali pakai, sebagai wadah dari produk cairan yang panas. “Kalau sampai dikonsumsi, kandungan yang berbahaya pada plastik bisa ikut terlarut pada air panas dan jadi sumber timbulnya penyakit,” ucap dia sambil membenarkan letak selendang yang dikalungkannya.

Tak main-main, Endang bahkan menyebutkan kesalahan memilih kemasan yang tak sehat merupakan sumber penyakit kronis tak menular. Seperti kanker, diabetes, stroke dan lainnya.

“Makanya penggunaan bahan pengawet makanan juga harus diperhatikan. Jenis dan juga jumlah pemakaiannya,” sambungnya.

Endang menegaskan pentingnya hal ini, mengingat kebanyakan produk pun dijual sebagai buah tangan asal Tanjungpinang.  “Jangan sampai produk oleh-oleh Tanjungpinang jadi sumber penyakit. Jadikanlah produk rumahan menjadi menarik dan juga sehat dan aman untuk pembeli,” pungkas Endang. (aya)

Update