
batampos.co.id – Museum bisa menjadi destinasi alternatif berlibur bersama keluarga. Dan Pulau Bintan memiliki dua museum, yang masing-masing memiliki ketertarikan tersendiri. Namun, sayangnya dua museum itu belum bisa jadi destinasi liburan masyarakat pada akhir pekan panjang kemarin.
Pertama, Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang berada di simpang empat Jalan Ketapang, Tanjungpinang merupakan museum sejarah. Menyimpan berbagai koleksi benda dan naskah kuno yang berpengaruh pada peradaban sejarah Melayu.
Jangankan benda-benda koleksi yang memang daya tarik utamanya. Bangunan museum yang berada di pusat kota tua, Tanjungpinang ini juga bagian dari sejarah Kota Tanjungpinang.
Semula bangunan museum, merupakan bangunan sekolah Belanda. Lalu kemudian berganti, setelah Jepang masuk menjadi sekolah Jepang. Hingga akhirnya Indonesia merdeka, barulah gedung ini difungsikan sebagai Sekolah Rakyat dan akhirnya dijadikan SD 01 sampai pada 2004 lalu. Dan selanjutnya direkomendasikan menjadi bangunan museum Tanjungpinang.
Hingga pada akhir 2013 lalu, museum ditutup. Pengunjung dilarang masuk ke dalam bangunan tua, bergaya khas arsitek Eropa.
Atap salah satu bangunan museum ambruk. Sehingga membahayakan pengunjung, dan juga benda koleksi. Sehingga tutupnya museum, diikuti dengan tindakan mengungsikan seluruh koleksinya.
Bangunan yang selalu diramaikan pelajar sejak zaman belanda, lantas ditinggalkan. Sementara menanti masa perbaikan. Yang mana sampai saat ini, proses revitalisasi telah rampung. Namun tata ruang pamer belum tersedia, hingga 2018 mendatang.
“Kami masih mengajukan kembali proposal bantuan ke pusat sebesar Rp 1,5 miliar. Sementara pada APBD tahun ini kami dapat anggaran Rp 400 juta untuk perbaikan,” kata Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjungpinang, Raja Kholidin.
Jauh lebih muda, Museum Bahari yang berada di Teluk Bakau, Kabupaten Bintan lantas mengisi kekosongan keberadaan museum di Pulau Bintan. Resmi dibuka tiga tahun setelah museum sejarah di Tanjungpinang tutup.
Bangunan Museum Bahari pun tak lepas dari daya tarik unik. Berhubung dibentuk selayaknya kapal yang tengah berlabuh. Bangunan dua lantai ini, menampilkan miniatur-miniatur khas bahai di Kabupaten Bintan. Dan juga menyimpan seluruh barang antik hasil temuan dinasti Cina kuno, yang tenggelam di perairan laut Bintan.
Informasi yang didapat, Museum Bahari kini telah menjadi aset Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga setelah sebelumnya pengelolaannya di bawah Dinas Pariwisata.
Sebagaimana di Tanjungpinang, pada akhir pekan panjang kemarin Museum Bahari juga tidak ada aktivitas sama sekali di sana. Kendati sejalan dengan destinasi liburan utama semisal Pantai Trikora tak lantas membuat pemerintah daerah membukanya di hari-hari libur. (aya)
