
batampos.co.id – Tiga kepala desa (kades) menuntut agar PLN Tanjungpinang menepati janjinya untuk menyuplai daya kelistrikan selama 24 jam di Kecamatan Mantang. Mereka adalah Kades Desa Mantang Lama, Kades Mantang Besar dan Kades Mantang Baru.
Kades Mantang Lama, Zaidi mengatakan awal 2017 PLN berjanji kepada warga Kecamatan Mantang untuk menyuplai listrik keseluruh rumah selama 24 jam. Namun sampai saat ini PLN tak kunjung menepati janji tersebut.
“Mana janjinya, warga sudah tanyakan. Kalau tak bisa tepati jangan berikan janji karena bisa memancing amarah warga,” ujar Zaidi ketika diwawancarai di Desa Mantang Lama, Kecamatan Mantang, Senin (8/5).
Dikatakannya, bukannya menepati janji melainkan pelayanan yang diberikan PLN semakin memburuk. Sebab penyuplaian listrik dipangkas sembilan jam dari 14 jam menjadi 5 jam dalam sehari.
Bahkan, kata Zaidi pemberlakuan suplai listrik dari pukul 17.00 WIB sampai 22.00 WIB didesanya sudah berjalan selama dua pekan lebih. Akibatnya seluruh aktivitas warga dan pemerintahan disini menjadi terhambat.
“Pengurusan administrasi pemerintahan dan aktivitas perekonomian didesa ini menjadi terganggu. Karena pasokan listrik lima jam itu tak cukup memenuhi kebutuhan 300 KK,” bebernya.
Hal senada dikatakan Kades Mantang Besar, Saiful. Dia menuntut agar PLN bisa memberikan pelayanan terbaik bagi 270 KK di desanya. Sebab PLN pernah berjanji dengan menyiagakan tiga mesin pembangkit listrik mampu memenuhi permintaan seluruh warga di Kecamatan Mantang.
“Jangankan seluruh kecamatan untuk desa kami saja tak mampu terpenuhi. Jangan berikan janjilah, tapi perbaiki saja pelayanannya kepada warga,” katanya.
Diakuinya, akhir 2016 lalu PLN telah menyepakati permintaan warga untuk suplai listrik selama 24 jam di Kecamatan Mantang. Untuk penuhi janji itu, PLN menambah daya listrik yang awalnya bersumber dari satu mesin pembangkit menjadi tiga mesin.
Kedua mesin pembangkit itu, kata Saiful berasal dari mesin bekas PLN Tanjunguban dan mesin bekas PLN Dumai. Melalui kedua mesin itulah tiga desa akan dilairi listrik selama seharian penuh. Namun kenyataannya tidak dapat terealisasikan melainkan semakin memburuk.
“Jangankan 24 jam terang benderang untuk menuhi 14 jam saja mesinnya pada rusak semua. Jadi desa kami hanya kebagian 5 jam dalam sehari,” jelasnya.
Sementara Kades Mantang Baru, Ramlan mengaku kesal dengan pelayanan yang diberikan PLN. Sebab selain tidak menepati janji juga melakukan penipuan publik terhadap warganya.
“Janjinya mau penuhi permintaan warga. Ternyata semakin buruk saja pelayanannya. Ini penipuan publik namanya,” sebut Ramlan.
Mesin yang disiagakan PLN di Mantang, kata Ramlan sebanyak tiga unit. Kemudian ada bantuan mesin dari Pemkab Bintan 2013 lalu satu unit. Jika kesemuanya beroperasi Mantang tidak akan mengalami kerisis listrik karena mampu menerangi seluruh desa selama 24 jam.
Nyatanya, lanjut Ramlan hanya satu mesin saja yang dioperasikan. Itupun mesin pertama di kecamatan ini yang usianya sudah 25 tahunan. Dua mesin baru yang didatangkan pada pertengahan dan akhir 2016 mangkrak di Gardu PLN Mantang. Begitu juga mesin dari Pemkab Bintan tak kunjung dioperasikan dengan alasan belum ada perjanjian kerjasama (MoU) antara kedua belah pihak.
“Kalau mesin bekas yang didatangkan menyampah saja. Karena mesin lama juga yang mampu dioperasikan. Itupun ambil onderdil dari mesin bekas Pulau Dendun dan Pulau Penyengat,” akunya.
Terpisah, Asisten Manager (Asmen) Pelayanan PLN Tanjungpinang, Muhammad Anson mengaku ingin menepati janji PLN mengalirkan listrik selama 24 jam di Mantang. Namun kondisi saat ini tidak memungkinkan sebab mesin pembangkit yang disiagakan sedang mengalami masalah.
“Kami belum mengetahui penyebab kerusakaan ketiga mesin pembangkit listrik itu. Sebab teknisi sedang berusaha memperbaikinya. Jika ada laporan akan kami teruskan kepimpinan,” janjinya.
PLN, kata Anson sangat mendukung jika suplai listrik di kecamatan itu bisa bertambah dari 14 jam menjadi 24 jam. Sebab penbambahan suplai listrik itu selain mampu memenuhi permintaan warga juga sangat menguntungkan bagi pendapatan perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.
Tapi, lanjut Anson lagi-lagi mesin pembangkitnya tidak stabil. Tiga dari dua mesin mengalami kerusakan sehingga hanya satu mesin yang mampu melayani kebutuhan warga di tiga desa tersebut.
“Masalah ini akan kami selesaikan secepatnya. Tapi kami minta waktunya sebab perbaikan kedua mesin itu agak rumit. Jika ketiga mesin optimal, maka Mantang akan dialiri listrik selama 24 jam,” ungkapnya.(ary)
