Rabu, 22 April 2026

Wujudkan Masyarakat Ekonomi Mandiri Melalui Koperasi

Berita Terkait

Mentari belum benar-benar menampakkan diri saat Karsi, 54, mulai sibuk di teras rumahnya, Sabtu (10/06/2017). Dengan cekatan, ia menyusun botol-botol berisi jamu tradisional cair ke dalam keranjang yang terpasang di atas jok motornya.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu Karsi bersiap-siap keliling kompleks berjualan jamu.

“Jam 7 sudah mulai keliling, jadi setelah subuh sudah mulai menyiapkan semuanya,” kata Karsi saat ditemui di kediamannya, Perumahan MKGR Blok Karya Nyata Nomor 2, Batuaji, Batam.

Wanita asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini mengaku sudah empat tahun berjualan jamu tradisional atau yang sering disebut jamu gendong. Namun Karsi tidak menjajakannya dengan cara berjalan kaki sambil menggendong keranjang jamunya. Melainkan dengan sepeda motor.

Sebenarnya, ia sudah merantau ke Batam sejak tahun 2000 silam. Sebelum memutuskan berjualan jamu, ibu dua anak ini bekerja sebagai tukang urut tradisional. Namun karena penghasilan sebagai tukang pijat tidaklah pasti, Karsi akhirnya memilih jualan jamu keliling.

“Urut-nya masih juga, tapi untuk sambilan saja,” kata dia.

Keputusan Karsi memulai usaha jualan jamu tradisional ini diambil setelah ia mengenal Koperasi BMT Nurul Islam. Lewat koperasi berbasis syariah itu, Karsi mendapatkan pinjaman modal. Selain bunganya rendah, Karsi mengaku prosedur untuk mendapatkan pinjaman modal di koperasi tersebut sangat mudah.

Sejatinya, sejak awal di Batam Karsi sudah kepikiran untuk memulai usaha. Namun saat itu dia tak punya modal. Terbatasnya akses perbankan membuat Karsi terpaksa harus menyimpan rapat-rapat keinginannya itu. Hingga akhirnya ia mendapatkan pinjaman modal dari koperasi.

“Mau pinjam modal ke bank tak berani. Orang kecil seperti saya pasti sulit dapat pinjaman bank karena tak punya agunan,” kata dia.

Melalui usahanya itu, Karsi mampu menyekolahkan kedua anaknya yang tinggal di kampung. Saat ini anak pertamanya sudah lulus SMA, sementara anak keduanya masih duduk di bangku kelas XI salah satu SMA Negeri di Wonogiri. Karsi mengaku menjadi tulang punggung keluarga karena sang suaminya yang tinggal di kampung sudah tua dan tak sanggup lagi bekerja.

“Alhamdulillah dengan pinjaman modal dari koperasi saya bisa mandiri dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga,” kata Karsi tanpa menyebut omset dari jualan jamu tradisional itu.

Kemandirian ekonomi juga dirasakan Ali Masud. Pria yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan mini market itu banting stir menjadi pengusaha agen travel dan penjualan tiket pesawat setelah mendapat pinjaman modal dari Koperasi Nurul Islam.

Seperti halnya Karsi, Ali Masud mengaku sudah lama ingin memiliki usaha sendiri. Namun karena ketiadaan modal, keinginan Ali itu baru benar-benar terwujud sejak tiga tahun silam.

“Kalau tidak ada pinjaman modal dari koperasi, mungkin sampai saat ini saya masih berstatus sebagai karyawan di sebuah mini market,” kata Ali, akhir pekan lalu.

Sejak memulai bisnis tiga tahun lalu, Ali mengaku sudah tiga kali mengajukan pinjaman modal tambahan untuk pengembangan usahanya. Kini selain berjualan tiket pesawat, usaha Ali merambah layanan pembayaran tagihan air, listrik, cicilan leasing, dan lainnya.

Senada dengan Karsi, Ali mengaku kehadiran koperasi sangat membantu pembangunan ekonomi kerakyatan. Koperasi, kata dia, bisa menjadi andalan masyarakat kecil dalam urusan permodalan karena selama ini akses mereka ke perbankan sangat terbatas.

“Prosesnya cepat, tidak perlu agunan. Selain itu bunganya ringan, kalau saya hitung margin antara pinjaman dengan pengembalian hanya sekitar 1,5 persen,” kata dia.

Banyaknya anggota dan masyarakat yang mengajukan pinjaman modal usaha ini sejalan dengan komitmen Koperasi BMT Nurul Islam untuk terus menggenjot penyaluran modal usaha mikro dan kecil di Batam. Penyaluran kredit usaha mikro dan kecil ini diyakini bakal mampu menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi.

Kegiatan di BMT Nurul Islam.

“Targetnya minimal ada 200 pengusaha baru per tahun yang mendapat bantuan modal dari BMT Nurul Islam,” kata Direktur BMT Nurul Islam Batam, Imam Mutowali, Sabtu (10/06/2017).

Dengan tagline ‘Menepis Riba, Membangun Ekonomi Syariah’, Koperasi BMT Nurul Islam juga menawarkan berbagai kemudahan dalam penyaluran kredit usaha mikro dan kecil. Antara lain bunga rendah dengan sistem syariah.

Menurut dia, ada anggapan bunga di koperasi lebih tinggi dari bunga pinjaman di bank. Namun sebenarnya, kata dia, bunga tersebut tidak akan membebani nasabah maupun anggota karena pihak koperasi akan mengembalikannya dalam bentuk pembagian sisa hasil usaha (SHU), doorprize, dan bingkisan lainnya.

Syarat mendapat bantuan modal usaha di koperasi, khususnya Koperasi Nurul Islam, juga tidak sulit. Sebab syarat utamanya adalah menjadi anggota koperasi dengan membayar simpanan wajib sebesar Rp 50 ribu per bulan atau langsung dibayar dimuka sebesar Rp 600 ribu untuk setahun.

“Selain itu membayar pendaftaran Rp 500 ribu,” katanya.

Imam mengatakan, kehadiran koperasi memang sangat dibutuhkan masyarakat. Terutama yang ingin memulai bisnis dan usaha dalam skala mikro dan kecil.

Sebab selain menguntungkan karena pada prinsipnya pemilik aset koperasi adalah anggota, akses pinjaman modal usaha di koperasi juga sangat terbuka bagi semua kalangan masyatakat. Ini berbeda dengan perbankan yang umumnya hanya bisa diakses oleh kalangan menengah ke atas.

“Dengan koperasi, masyarakat kalangan bawah pun bisa menjadi pengusaha,” kata dia.

Imam mengakui, tidak semua nasabah yang mendapat bantuan modal sukses dalam menjalankan bisnisnya. Selain karena minimnya pengetahuan, umumnya mereka terjebak dalam perilaku konsumtif.

“Misalnya mereka buru-buru beli motor atau mobil saat usahanya baru mulai jalan. Sehingga kemudian keuntungan usahanya banyak terpakai untuk membayar cicilan kendaraan,” kata dia.

Namun tak sedikit pula anggota dan masyarakat yang mengembangkan usaha dengan modal dari Koperasi Nurul Islam yabg sukses berbisnis. Bahkan beberapa di antaranya berkembang dari usaha mikro menjadi usaha level menengah.

Hal ini membuktikan, bahwa kehadiran koperasi semakin membuka peluang bagi siapa saja untuk mandiri secara ekonomi dengan menjadi seorang pengusaha. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang lesu dan banyaknya pengangguran akibat melemahnya sektor industri di Batam saat ini, peran koperasi sangat sentral dalam membuat masyarakat lebih berdaya secara ekonomi.

Karenanya, Koperasi Nurul Islam juga memiliki program Nurul Islam Institute. Yakni program pendampingan dan pembinaan bagi korporasi maupun pihak-pihak yang ingin mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) atau Baitul Maal wat Tamwil (BMT).

“Sehingga akan semakin banyak BMT yang menggerakkan ekonomi kerakyatam berbasis syariah,” kata Imam lagi.

Selain fokus pada pembiayaan modal usaha dan pembinaan BMT, Koperasi Nurul Islam juga memiliki berbagai program dan unit usaha. Di antaranya program simpan pinjam dan usaha penjualan tiket. Sesuai prinsip koperasi, semua keuntungan akan dikembalikan untuk kesejahteraan anggota melalui pembagian SHU.

“Saat ini anggota kami sudah mencapai 800 orang,” katanya. (Suparman)

Update