
batampos.co.id – Edi Yunanto, 32, terbaring lemah di ruang hemodialisa Klinik Khusus Ginjal Ny R.A Habibie Cabang Batam, Rabu (28/6).
Dua selang yang terhubung dengan mesin hemodialisis menancap di lengan kanannya. Satu selang berfungsi mengeluarkan darah untuk dicuci di mesin hemodialisis. Sementara selang yang satunya lagi digunakan untuk memasukkan darah ke dalam tubuhnya setelah dibersihkan oleh mesin.
“Sudah hampir dua tahun menjalani cuci darah seperti ini,” kata sang istri, Tri Handayani, yang setia mendampingi Edi.
Tri ingat betul, pertengahan Agustus 2015 silam, suaminya itu ambruk karena sakit luar biasa di kepalanya. Awalnya, ia mengira hipertensi suaminya kambuh. Namun hasil pemeriksaan dokter membuat Tri dan suaminya kaget bukan kepalang. Dokter memvonis Edi mengalami gagal ginjal dan harus menjalani perawatan cuci darah.
Selain kaget karena penyakit berat suaminya, Tri sempat mencemaskan biaya yang harus disiapkan untuk cuci darah. Sebab dokter mengatakan, Edi harus menjalani cuci darah rutin sebanyak dua kali seminggu. Biayanya Rp 900 ribu untuk sekali cuci darah. Sehingga Tri harus menyiapkan uang minimal Rp 3,6 juta per bulan. Itu belum termasuk biaya obat dan keperluan lainnya. Padahal, sejak divonis gagal ginjal dan harus rutin menjalani cuci darah, Edi diberhentikan dari tempat kerjanya.
Namun Tri dan Edi mengaku masih bersyukur. Sebab mereka sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Sehingga semua biaya cuci darah Edi ditanggung BPJS Kesehatan. Dan sejak awal, Klinik Khusus Ginjal Ny R.A Habibie Cabang Batam melayani pasien BPJS Kesehatan.
“Kalau tak ada BPJS Kesehatan kami tak akan sanggup,” kata Tri.
Selain menanggung biaya cuci darah, Tri mengatakan saat ini BPJS Kesehatan juga mempermudah pelayanan, khususnya bagi pasien hemodialisa (HD). Jika sebelumnya pasien harus meminta rujukan sekali dalam sebulan, saat ini rujukan bisa diurus sekali untuk tiga bulan.
“Jadi kami tidak repot,” kata ibu dua anak ini. Kemudahan ini dibenarkan oleh Raja Ritonga, pasien hemodialisa lainnya di Klinik Khusus Ginjal Ny R.A Habibie Cabang Batam. Pria 52 tahun itu mengaku sangat terbantu karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk cuci darah.
Seperti halnya Edi Yunanto, Raja sudah hampir dua tahun ini melakoni perawatan cuci darah. Bedanya, jika Edi sejak awal menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, Raja baru beralih ke BPJS setelah beberapa kali menjalani cuci darah. Awalnya, ia menggunakan biaya sendiri karena belom terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sementara asuransi kesehatan yang diberikan perusahaan tempat ia bekerja tak meng-cover pengobatan penyakit gagal ginjal.
“Akhirnya dokter menyarankan pindah ke BPJS Kesehatan. Katanya supaya ringan,” kata Raja.
Dengan BPJS Kesehatan, Raja nyaris tidak mengeluarkan biaya apapun untuk pengobatannya. Sebab selain biaya cuci darah, BPJS Kesehatan juga menanggung biaya obat yang diperlukan setelah proses cuci darah. Lain Edi Yunanto-Raja Ritonga, lain pula cerita Felix. Pria yang sudah enam tahun menjalani cuci darah ini mengaku sudah ‘habis-habisan’. Sejumlah aset mulai dari kendaraan, barang berharga, hingga rumah ia jual untuk biaya pengobatan dan cuci darah.
“Dulu belum ada BPJS Kesehatan, jadi kami pakai biaya pribadi,” kata Felix di Klinik Khusus Ginjal Ny R.A Habibie Cabang Batam, Rabu (28/6).
Biaya cuci darah Felix saat itu jauh lebih mahal karena ia harus menjalani proses hemodialisa di Singapura. Maklum, enam tahun lalu di Batam belum ada rumah sakit yang memiliki fasilitas hemodialisis.
Sebagai pelaut, penghasilan Felix kala itu memang cukup besar. Namun hal itu belum sebanding dengan tingginya biaya pengobatan di Singapura. Apalagi ia harus menjalani cuci darah rutin sebanyak empat kali dalam sebulan. Akibatnya, ia harus merelakan menjual sejumlah asetnya, termasuk salah satu rumah di bilangan Batamcenter, Batam. Hingga akhirnya Felix mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan pada pertengahan 2014 silam.
Kini, ia bisa menjalani cuci darah di Batam dengan semua biaya ditanggung BPJS Kesehatan. “Jadi tak perlu jual rumah lagi untuk cuci darah,” katanya.
Cerita dan pengalaman Felix bukanlah satu-satunya. Sejumlah pasien cuci darah yang tergabung dalam Komunitas Hemodialisa Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam juga harus rela menjual sejumlah aset untuk biaya pengobatan sebelum menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.
“Di komunitas kami ini ada orang yang sudah 18 tahun cuci darah. Dia sampai jual tanah dan rumah untuk biaya cuci darah. Tapi setelah ia menggunakan BPJS Kesehatan, hidupnya sangat terbantu,” kata Zakis Syamsul Bahya, Ketua Komunitas Hemodialisa RSAB Batam, beberapa waktu lalu.
Selain meringankan, kehadiran BPJS Kesehatan juga memberikan kepastian bagi para pasien hemodialisa. Kepastian bahwa mereka tetap bisa menjalani cuci darah sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Sehingga mereka tak perlu cemas, meski sedang tidak memiliki uang sekalipun. Sebab, kata Zakis, pasien gagal ginjal tidak bisa disamakan dengan pasien lain. Pengobatan dan perawatan pasien gagal ginjal tidak bisa ditunda-tunda.
Perawatan cuci darah harus dilakukan secara rutin, baik hari maupun jam-nya. Zakis sendiri memiliki jadwal cuci darah dua kali seminggu. Yakni, setiap hari Senin dan Kamis. Jika jadwal itu diganti hari Selasa, tubuhnya akan bereaksi. Reaksi itu dapat berupa sesak napas, serangan jantung, koma, atau bahkan hingga meninggal dunia.
“Cuci darah itu untuk mengeluarkan racun-racun dalam tubuh kami. Kalau kami tidak cuci darah, racun itu akan menumpuk,” jelasnya.
Zakis mengatakan, BPJS Kesehatan menjadi harapan baru bagi para penderita gagal ginjal. Sebab jika tidak ada BPJS Kesehatan, mungkin tak banyak anggota Komunitas Hemodialisa RSAB Batam yang sanggup bertahan sampai sekarang. “Kami benar-benar terselamatkan,” katanya. (Suparman)
