Jumat, 10 April 2026

Gorong-Gorong Tersumbat Sampah Jalan R Suprapto Kembali Banjir

Berita Terkait

batampos.co.id – Normalisasi saluran drainase di depan pasar Melayu jalan R Suprapto Batuaji yang baru saja dilakukan Pemko Batam belum lama ini sepertinya sia-sia. Saluran drainase utama tersebut kini kembali tertimbun sampah dan tanah.

Imbasnya jalan raya di lokasi tersebut kembali terendam banjir saat hujan deras, Senin (3/7) pagi sampai siang kemarin. Banjir dengan ketinggian mencapai 30 CM cukup merepotkan pengendara yang melintasi jalan utama tersebut.

Pantauan di lapangan, genangan banjir menutupi seluruh badan jalan mulai dari lokasu U Turn hingga ke pintu keluar Pasar Melayu. Genangan banjir merata dengan sisi drainase yang ada di sebelah kiri jalan dari arah Batuaji. Pengendara cukup kewalahan melintasi jalan tersebut sebab genangan air yang merata dengan lahan penghijauan pinggir jalan cukup mengecohkan pengendara untuk memastikan apakah jalan yang dilalui masih diatas aspal jalan atau sudah keluar ke pinggiran aspal. Tidak sedikit kendaraan roda empat yang memilih jalur alternatif depan ruko pasar Melayu untuk menghindari lokasi banjir tersebut.

Penyebab utama banjir tersebut adalah drainase yang sudah kembali tertimbun sampah dan tanah. Kondisi tersebut diperburuk dengan tersumbatnya gorong-gorong yang menjadi jalur penyebrangan air menuju lokasi pembuangan ke arah simpang Hutatap, Sagulung. Sampah berupa botol minuman, kotak bungkusan nasi, hingga perabotan rumah tangga menutupi seluruh saluran drainase hingga ke dalam lokasi gorong-gorong. Air sama sekali tak bisa mengalir melalui jalur gorong-gorong tersebut.

Sampah dan tanah yang menyumbati saluran drainase tersebut diakui warga sekitar umumnya sampah dan tanah yang terbawa arus dari pemukiman sekitar. Di sepanjang alur drainase tersebut memang merupakan lokasi padat penduduk dan sedang ada aktifitas pematangan lahan.

“Tanah yang dikerok oleh proyek-proyek pematangan lahan juga dibiarkan begitu saja masuk ke dalam parit. Belum lagi kebiasaan buruk yang buang sampah ke parit jadi beginilah jadinya,” kata Arphan, salah satu warga di lokasi banjir tersebut.

Selama ini warga di sekitar pasar Melayu kata Arphan sudah berusaha keras untuk membersihkan saluran drainase tersebut dari tumpukan sampah dan tanah, namun karena tonase sampah dan tanah yang masuk atau dibuang ke dalam drainase cukup tinggi sehingga sulit dibersihkan. “Goro sering kami lakukan, termasuk dengan pihak kecamatan atau pak wali kota tapi itu tadi, kesadaran warga masih kurang makanya selalu begini jadinya,” ujaar Arphan lagi.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan sisi drainase di arah Sagulung yang menjadi alur pembuangan hingga hilir sungai yang belum tersentuh normalisasi sama sekali. Imbasnya upaya normalisasi di drainase depan pasar melayu sepertinya sia-sia. Air yang seharusnya mengalir ke arah Sagulung tersendat di saluran drainase yang belum tersentuh normalisasi tersebut.

Pihak kecamatan baik Batuaji ataupun Sagulung saat dikonfirmasi mengaku sudah berupaya keras untuk mengatasi persoalan banjir tersebut dengan mengorek sampah atau tanah yang tersumbat, namun upaya tersebut belum berjalan maksimal sebab normalisasi belum merata.

“Alat berat terbatas jadi masih tunggu giliran,” ujar camat Batuaji Fridkalter.

Tidak itu saja, belum adanya anggaran untuk memperbaiki drainase dalam skala besar dalam arti normalisasi langsung disertai semenisasi atau pemasangan batu miring menjadi penyebab utama sulitnya mengatasi persoalan banjir di wilayah Batuaji dan Sagulung. Upaya jangka pendek Pemko Batam yang hanya berupa mengeruk saluran drainase yang tersumbat bukan menjadi solusi yang tepat, sebab dalam waktu singkat drainase yang dikerok tersebut akan kembali tersumbat seperti yang terjadi di lokasi depan pasar Melayu tersebut.

Untuk itu pihak kecamatan hanya bisa berharap agar warga peran aktif melakukan kegiatan gotong royong membersihkan drainase di lingkungan masing-masing.

“Dan yang lebih penting jangan buang sampah ke dalam parit. Kalau kebiasaan itu tak dirubah, maka sia-sia semua upaya normalisasi yang dilakukan selama ini,” kata Fridkalter. (eja)

Update