batampos.co.id – Harga ikan di pasar ikan Siantan mulai tidak stabil. Kadang naik harga meskipun tidak jarang harga itu kembali turun. Fluktuasi harga ikan tersebut disebabkan karena banyak sedikitnya ikan yang beredar di pasar ikan Siantan yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Laut Tarempa. Semakin banyak ikan maka harga ikan akan semakin turun dan begitu juga sebaliknya.
Naiknya harga ikan ini disebabkan beberapa faktor diantaranya keadaan cuaca maupun persaingan bisnis antar pengepul ikan yang ada di Anambas.
Salah seorang pengusaha rumah tangga Randy, mengeluhkan tingginya harga ikan pada saat ini. Ia mencontohkan beberapa harga ikan yang dijual para pedagang ikan seperti ikan tongkol dengan ukuran tertentu yang biasanya dijual dengan harga Rp25 ribu per ekor. Namun kali ini dijual dengan harga Rp50 ribu/ekor. Ikan selar juga Rp 50 ribu/tiga ekor. Padahal biasanya dengan ukuran yang sama, ikan tersebut hanya dijual dengan harga Rp 25 ribu.
“Wah hari ini ikan mahal, ikan tongkol harga biasanya Rp 25 ribu/ekor hari ini Rp 50 ribu/ekor. Jumlah ikan yang dijual dipasar juga terbatas,” ungkap Randy, kepada wartawan, Jum’at (14/7).
Ia mengaku, dirinya memerlukan ikan tongkol sebagai bahan baku kerupuk Atom. Karena harganya mahal maka ia sangat bingung, bagaimana dengan harga jual krupuknya jika harga bahan sudah mahal. Ia tidak berani menaikan harga kerupuknya dikhwatirkan pelanggannya terkejut dan pindah ke pelanggan lain.
“Kita bingung karena ikan lain tidak bisa, kecuali ikan tenggiri, tapi ikan tenggiri harganya lebih mahal dari ikan tongkol. Kalau ini berlangsung lama, terpaksa kita naikan harga kerupuknya,” jelasnya.
Sementara itu Kharim, salah seorang nelayan Tarempa mengatakan, untuk memperoleh ikan sangat sulit karena keadaan cuaca tidak normal. Apalagi untuk menuju lokasi mancing harus menempuh jarak tempuh 80 mil dari Tarempa.
Diakuinya, saat ini sejumlah nelayan lokal yang memperoleh hasil tangkapan tidak perlu lagi membawa tangkapannya ke tempat perlelangan ikan, disebabkan pengepul dari luar daerah berani membeli ikan di lokasi pemancingan atau di laut dengan nilai harga yang tinggi. Satu sisi pihaknya merasa diuntungkan dan bisa menghemat biaya operasional dan langsung menerima uang dilaut. “Namun kita masih menjual sebagian ikannya ke tempat lelang dan sebagiannya lagi dijual kepada pengepul,” ungkapnya.
Ia masih memikirkan para pengusaha kecil seperti rumah makan, pembuat kerupuk atom dan masyarakat lainnya yang membutuhkan ikan. Jika menuruti ego dan ingin memperoleh keuntungan, lebih baik hasil tangkapannya dijual dilokasi pemancingan. Tapi itu tidak dilakukannya.
“Banyak faktor ikan itu mengalami kenaikan, diantaranya yakni jarak tempuh yang jauh, jumlah ikan terbatas dipasar, cuaca kurang mendukung dan hal lain yakni pengepul ikan dari luar daerah berani membeli ikan dengan nilai tinggi di lokasi pemancingan,” ungkapnya.
Salamah, pengusaha kerupuk lainnya mengungkapnya jika hal seperti ini sudah sering dialaminya. Berbagai macam strategi dirinya lakukan. Jika harga ikan tongkol dirinya akan membuat kerupuk sebanyak-banyaknya sehingga peluang untuk memperoleh keuntungan masih ada. Namun jika harga ikan tongkol tinggi, maka dirinya mengaku tidak memproduksi kerupuk karena jika dilakukan maka akan berpengaruh kepada perolehan keuntungan yang menipis. “Kalau ikan murah kita bikin kerupuk, tapi
kalau mahal kita tak buat,” ungkapnya. (sya)
