
batampos.co.id – Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengatakan Pemko Tanjungpinang tengah berupaya menjadi Ibu Kota Provinsi Kepri ramah dengan lingkungan.
Salah satu terobosannya adalah menggunakan Sistem Vakum Sewer atau pengolahan air buangan di kawasan pemukiman yang berada diatas laut.
“Sejak menjadi bagian Global Nexus, kita mempelajari banyak hal dari daerah-daerah yang ada di dalamnya,” ujar Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Rabu (19/7) saat menghadiri pembukaan Workshop Regional ke-7 tentang Manajemen Pengelolaan Sumberdaya Terpadu Kota-Kota di Asia yang digelar di Hotel CK, Tanjungpinang.
Pada kegiatan yang dibuka oleh Gubernur Kepri, Nurdin Basirun itu, Lis menjelaskan, Vakum Sewer adalah merupakan salah satu sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi. Karena selama ini, limbah yang dibuang langsung ke laut. Sudah pasti akan mengotori laut. Selain itu akan berimbas pada kondisi lingkungan laut.
Masih kata Lis, banyak hal lainnya yang diadopsi dari program yang ditaja oleh Urban Nexus ini. Seperti pengelolaan sampah lingkungan menjadi sumber energi. Akan tetapi, hal itu belum bisa diterapkan di Tanjungpinang untuk saat ini. Salah satu inovasi yang ideal adalah Vakum Sewer.
“Mudah-mudahan keinginan kita ini bisa terwujud. Karena memang menjadikan Tanjungpinang ramah lingkungan butuh waktu dan proses,” papar Lis.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian Perencanaan dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Tanjungpinang, Surjadi menambahkan, Pemerintah Kota sudah membuat kajian tentang penerapan vacum sewer bagi pemukiman di atas laut.
Dijelaskannya, sistem kerjanya teknologi tersebut adalah seperti toilet pesawat. Sehingga bisa meminimalisir penggunaan air.
“Untuk tahap pertama ini kita proyeksikan 308 rumah di Senggarang. Out putnya tidak hanya menjadi buangan, tetapi akan langsung diolah menjadi pupuk cair,” ujar Surjadi menambahkan.
Dijelaskan Surjadi, perhitungan sementara adalah membutuhkan anggaran sekitar Rp 28 miliar. Menurut Surjadi, keinginan ini sudah disampaikan ke Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Karena harus dilakukan kajian dan penilitian. Masih kata Surjadi, bisa saja angka tersebut berubah
“Konsekuensinya memang kita harus membeli alat-alat milik perusahaan GIZ, Jerman. Tetapi dari segi teknisnya, mereka akan memberikan pendampingan. Sehingga kita juga bisa belajar dari terobosan yang ada,” jelas Surjadi.
Adapun negara-negara yang hadir dalam acara tersebut berasal dari Anggota Urban Nexus yaitu China, India, Indonesia, Mongolia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Sedangkan organisasi dunia yang hadir yaitu UNDP, UNEP, UN-HABITAT, USAID, FAO, World Bank, Rockerfeller, CITYNET, UCLG-ASPAC, Centre for Livable Cities, Singapore, Cities Development Initiative for Asia, Asian Development Bank, dan International Water Association.(jpg)
