
madu di sarang lebah kelulut, Minggu (30/7). F. Slamet/Batam Pos.
batampos.co.id – Tamatan sekolah dasar (SD) asal Kota Kembang ini sukses membudidayakan lebah kelulut. Bermodal penyuluh lebah selama 27 tahun di Malaysia, kini M. Talim (55) membudidayakan lebah kelulut di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara. Usahanya sukses, karena merambah pasar Singapura dengan omzet sekitar Rp 60 juta sebulan.
Minggu (30/7) di siang yang terik, M Talim sedang beristirahat di kediamannya di gang Wahid Desa Lancang Kuning. Perempuan dengan muka kemerahan dari arah sarang lebah kelulut menghampiri Batam Pos. “Cari bapak?” sahut perempuan itu. Begitu wartawan koran ini mengangguk, perempuan yang ternyata istri M Talim kembali mengatakan,
“Bapak ada, tunggu sebentar. Bapak baru masuk ke rumah, sepertinya mau tidur.”
Tidak lama, pria berbadan gempal berkaos putih keluar dari balik pintu. Mukanya terlihat sedikit mengantuk. Mengusir rasa kantuk tersebut dia kemudian meminta istrinya mengambil kursi dan menyediakan air. Ialah M Talim.
M Talim ternyata pendatang baru di desa tersebut. Baru sekitar delapan bulan, dia membudidyakan lebah kelulut di desa tersebut, setelah 27 tahun lamanya sebagai penyuluh lebah di Malaysia.
Bagaimana kisahnya bisa sampai di Malaysia? M Talim menolak sisi lain hidupnya dipublikasikan. Hanya, awal-awal di Malaysia dia bekerja di perkebunan milik Kerajaan Malaysia. Tugasnya menangani racun serangga dan rumput ilalang yang mengusik tanaman.
Rasa bosan menghinggapnya. Kala itu, ia mengatakan mulai mengenal tentang lebah. Hingga akhirnya ia menekuni lebah kelulut. Menurutnya, lebah kelulut lebih banyak khasiatnya daripada lebah umumnya. Khasiatnya bisa mengobati berbagai macam penyakit, karena mengandung asam semula jadi, antioksidan yang tinggi dan propolis.
“Kalau ada luka terbesit mata pisau, kasihkan propolis, besoknya sembuh,” katanya.
Bahkan penderita diabetes, sambungnya, aman meminum madu yang dihasilkan dari lebah kelulut. Malah bisa menurunkan kadar gula dan menjaga gula darah tetap stabil.
Lalu bagaimana akhirnya membudidayakan lebah kelulut di Desa Lancang Kuning?
Talim menceritakan, sebenarnya usaha budidayanya bukan hanya di Bintan, tapi ada di beberapa daerah lainnya. Ia pulang ke Tanah Air karena ingin mengabdikan dirinya. Meski diakuinya, kontrak di Malaysia sebagai penyuluh masih mengikatnya. “Masak kampung orang terus yang dimajukan, kampung sendiri tidak,” kata Talim.
Awalnya ia mengakui, selama 2 hari berturut-turut dirinya mengelilingi Pulau Bintan untuk mendapatkan kayu nyirih, kayu yang cocok untuk sarang lebah kelulut. Kayu itu didapatnya di Pulau Sei Ladi. Lebah kelulut pun awalnya dia beli dari beberapa temannya.
Dari awalnya dua kayu, yang dibawanya pulang, kini sudah ada 3.724 sarang koloni lebah kelulut yang dibudidayakannya.
“Dulu waktu saya naik motor bawa kayu nyirih, dicegat empat orang di daerah Busung. Saya bilang kalau mau ambil, ambil saja motornya,” ingatnya kala itu.
Kini usahanya berbuah manis. Dalam sebulan, dari 3 ribuan sarang koloni dapat menghasilkan sekitar 400 kilo madu. Omzetnya kini berkisar Rp 60 juta sebulan dengan pasar luar negeri.
“Itu belum banyak. Makanya belum banyak dipasarkan. Kalau mau, biasanya pelangan datang ke rumah,” katanya.
Meski dibantu 6 orang pekerja dengan mengeluarkan sekitar Rp 18 juta perbulan untuk pembayaran gaji, Talim mengaku, siang malam selalu mengawasi semua koloni lebah kelulut sendiri. Bahkan, kalau ada sarang yang tumbang karena angin kencang di malam hari, dia harus membetulkannya sendiri.
Pagi hari pun, dia biasanya melakukan pekerjaan menyedot madu dari sarang lebah sendiri menggunakan sebuah alat berteknologi modern. “Kalau siang atau sore disedot madunya, biasanya lebahnya akan mengamuk,” katanya.
Kini selain mengumpulkan madu, dia juga membiakkkan lebah. Lebah ratu kelulut, biasanya hanya bertahan sekitar 5 tahun. Keberadaanya akan digantikan dengan lebah pekerja yang tinggal di sel ratu lebah. Dalam sehari, rata rata lebah ratu akan bertelur sekitar 35 telur.
Lebih jauh Talim mengatakan, dorongan pemerintah sangat besar. Bahkan beberapa kali, dirinya dilibatkan dalam kegiatan. Talim bahkan mendorong masyarakat membudidayakan lebah kelulut. Hanya apabila serius, pesannya harus tekun.
Camat Bintan Utara, Azwar mengatakan, usaha ternak lebah kelulut pernah ditampilkan di acara PKK, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Ke depan, pemerintah akan kembali mempromosikan usaha lebah kelulut yang ada di desa di sebuah acara peternakan yang dijadwalkan Agustus mendatang di Desa Lancang Kuning.
“Nanti kita tampilkan itu untuk mengenalkan usaha lebah kelulut ke masyarakat,” tukasnya.
Mengenai support pendanaan dari pemerintah, ia mengatakan, sejauh ini belum ada. Karena, usaha itu merupakan milik pribadi dan harapannya bisa terus dikembangkan di tengah masyarakat. (cr21)
