batampos.co.id – Dalam lima tahun ke depan, industri penerbangan nasional diperkirakan akan terus tumbuh pesat. Seiring dengan hal tersebut, kebutuhan akan pekerja teknik perawatan pesawat udara (aviasi) juga dipastikan meningkat, khususnya untuk wilayah Batam.

Sebab nantinya, di Batam akan ada dua pusat perawatan pesawat udara. Yang pertama Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) milik Lion Air Group yang sudah beroperasi dan tengah melakukan pengembangan kapasitas. Dan satu lagi Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia yang saat ini dalam proses pengukuran lahan untuk pembangunan.

Dirut PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, Iwan Joeniarto, mengungkapkan perusahaan perawatan penerbangan yang dikelolanya saja membutuhkan ribuan karyawan untuk menjaga agar jadwal pemeliharaan pesawat yang sangat sibuk bisa tetap berjalan.

Selama ini, kata Iwan, PT GMF merekrut tenaga mekanik ahli yang disediakan oleh lembaga pendidikan penerbangan maupun akademi teknik penerbangan yang tersebar di seluruh indonesia. “Tapi itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan,” katanya di Jakarta, Senin (7/8).

Sejumlah mekanik sedang melakukan pengecekan pesawat Lion Air di Hanggar Lion Bandara Hang Nadim Batam, Selasa (4/7). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Iwan menyebut, saat ini sekitar 51 persen kegiatan pemeliharaan pesawat terbang masih dilakukan di luar negeri. Sebab di Indonesia dukungan tenaga kerja yang cakap belum terpenuhi. Kalau suplai terpenuhi, maka seluruh perawatan pesawat bisa dilakukan di dalam negeri. “Tentunya ini akan mengangkat perekonomian kita,” katanya.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri mengungkapkan, bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah naungan Kemnaker memang memiliki kejuruan Aviasi. Namun menurut Hanif, kejuruan tersebut masih harus ditingkatkan lagi agar mampu menghasilkan output yang berkualitas.

“Kami akan kaji lagi bagaimana workshop dan kurikulumnya,” kata Hanif.

Menurut Hanif, memang tidak mudah mempersiapkan tenaga kerja di bidang aviasi. Perlu ada infrastruktur dan investasi yang tidak kecil. Mulai dari pembangunan sarana dan prasarana pelatihan, menyewa instruktur, serta menyusun kurikulum yang mendukung pendidikan tersebut.

Untuk itu, menurut Hanif perlu diadakan kerjasama khusus antara Kemnaker, maskapai penerbangan, serta sekolah-sekolah penerbangan di seluru Indonesia.

“Jadi mereka tidak hanya menyiapkan calon penerbang saja, tapi juga mekanik-mekanik yang andal untuk perawatan pesawatnya,” katanya. (tau/jpgroup)

Respon Anda?

komentar