foto: dutawisata.co.id

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus membidik tempat-tempat potensi untuk dijadikan tujuan wisata pendukungnya.

Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang dinilai memenuhi segala aspek untuk mendukung Borobudur.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar, Dadang Rizki Ratman mengatakan danau seluas lebih dari 2.000 hektare yang terletak di Kabupaten Semarang ini juga bisa menjadi destinasi wisata dunia.

“Untuk bisa menjadi destinasi wisata kelas dunia, Danau Rawa Pening harus bisa menyediakan infrastruktur berstandar global. Kemenpar juga sedang mencari benchmark (pengujian standar) Rawa Pening,” ujar Dadang, Minggu (6/8).

Untuk itu diperlukan strategi 3A, yakni atraksi, akses dan amenitas. Artinya, apa atraksi berkelas dunia yang bisa ditampilkan, bagaimana akses dan kemudahaannya serta fasilitas kelas dunia apa yang tersedia.

“Banyak contoh dari danau di beberapa negara yang meski hanya memiliki luas yang tidak seberapa, tetapi mampu menjadi wisata dunia. Hal tersebut dikarenakan sejumlah danau di beberapa negara yang mampu menjadi wisata dunia memiliki keindahan, kebersihan, keteraturan serta atraksi yang mampu mendatangkan wisatawan,” tutur Dadang.

Dadang menambahkan, penangangan danau yang terletak di Kabupaten Semarang ini perlu dilakukan secara komperehensif dari hulu hingga hilir. Dia berterima kasih pada pemilik PT Sidomuncul Irwan Hidayat yang turut memberdayakan masyarakat dan mengolah enceng gondok menjadi bahan bakar untuk boiler penggerak listrik.

Saat ini, kondisi danau seluas 2.700 hektare yang dikenal dengan legenda “Baruklinthing” itu telah tertutupi 70 persen permukaannya dengan tanaman eceng gondok. Meski demikian, ia mengingatkan tanaman eceng gondok juga salah satu bagian dari ekosistem danau sehingga jika salah satunya dihilangkan bisa memutus mata rantai dalam ekosistem.

Sementara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang menutupi permukaan Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan maupun kerajinan yang mempunyai nilai jual.

“Kita harus melihat eceng gondok sebagai potensi, bukan masalah. Ini bisa dibuat pupuk organik, misalnya kita buat pabriknya, kemudian pupuk diberikan kepada petani yang membutuhkan dengan harga murah atau bahkan gratis atau untuk kerajinan,” kata Ganjar.

Dia berpendapat tumbuhan liar yang kemudian menjadi gulma itu bisa dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik dan berbagai kerajinan, di antaranya sandal atau tas. “Para pelaku UMKM yang tersebar di daerah bisa kita berdayakan dalam pemanfaatan eceng gondok dari Rawa Pening,” ujarnya.

Soal mengelola enceng gondok di Rawa Pening, Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai akan lebih bagus jika setelah ditata dan dirawat, Rawa Pening itu menjadi destinasi wisata yang dikunjungi banyak orang.

“Bagus! Mengatasi pertumbuhan enceng gondok yang cepat, untuk bio energy, sekaligus membuat rawa atau danau itu kelihatan lebih menarik. Kegiatan ekonomi masyarakat bisa lebih hidup, dan sustainable,” jelas Menpar Arief Yahya.

Dengan begitu, ada pilihan baru bagi masyarakat untuk menikmati keindahan danau yanh sekian lama tenggelam oleh enceng gondok. “Apalagi posisi geografisnya, berada di tengah-tengah Joglosemar. Ini akan lebih mudah memikat wisatawan nantinya,” pungkas Menpar Arief Yahya.(*)

Respon Anda?

komentar