batampos.co.id – Ekonomi Kepri melambat semakin dalam pada triwulan II tahun 2017. Memasuki pertengahan Agustus, ekonomi Kepri hanya tumbuh 1,04 persen. Jauh lebih lambat daripada pertumbuhan ekonomi triwulan kedua sebesar 2,02 persen. Penyebab utamanya adalah melemahnya konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Berikut juga realisasi proyek infrastruktur pemerintah yang masih jauh dari harapan.

“Dari sisi permintaan, perlambatan didorong oleh penurunan investasi, net ekspor dan konsumsi pemerintah. Sedangkan dari sisi penawaran, perlambatan terutama bersumber dari penurunan kinerja industri, konstruksi dan pertambangan,” ujar Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, Kamis (10/8) di Hotel Harmoni Batamcentre.

Seperti sebelum-sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua selalu mengalami meningkat tinggi dibandingkan triwulan lainnya. Namun, stigma ini tidak berlaku untuk tahun ini. Konsumsi rumah tangga sangat menurun. Jika pada triwulan pertama, tingkat konsumsi rumah tangga capai 6,95 persen, maka sekarang hanya 6,48 persen.

“Pergeseran Idul Fitri ke Juni belum mampu menopang penguatan konsumsi. Penyebabnya adalah keterbatasan lapangan kerja yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi barang tahan lama berdasarkan survey konsumen,” ujarnya lagi.

Di tengah surplus pendapatan setelah mendapatkan uang (Tunjangan Hari Raya), masyarakat cenderung menahan atau menghemat pengeluaran belanja yang tercermin dari penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan.

Sektor konsumsi pemerintah juga masih sangat minus. Bertahan di angka minus 6,66 persen. Sampai dengan semester pertama, realisasi belanja pemerintah hanya sebesar 32,5 persen.

Secara tahunan, capaian realisasi belanja pegawai dan belanja modal masing-masing sebesar 50,42 persen dan 13,22 persen lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 52,32 persen dan 18,60 persen.

Sedangkan jika melihat sisi permintaan dari investasi, maka kontraksi investasi ada di investasi bangunan.

Penurunan aktivitas konstruksi tercermin dari kontraksi konsumsi semen Kepri sebesar 23,38 persen (yoy).

“Realisasi proyek infrastruktur pemerintah juga masih rendah dengan realisasi belanja modal hanya 13,22 persen,” jelasnya.

Secara grafis, maka sektor investasi kandas di angka minus 2,20 persen. Jauh melambat dibanding triwulan sebelumnya yang ada di angka 9,08 persen.

Dan jika melihat dari sisi net ekspor, maka terjadi kontraksi terutama disebabkan melemahnya perdagangan antar daerh sebesar 17,9 persen (yoy).

Sejumlah pekerja sedang melakukan bongkar muat di pelabuhan Batuampar. F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Berdasarkan data aktivitas pelabuhan, penurunan terbesar ekspor antar daerah terjadi di pelabuhan Batuampa dan Curah Kabil, khususnya Crude Palm Oil (CPO). Hal tersebut mengindikasikan menurunnya ekspor produk elektronik dan olahan CPO,” unggahnya.

Kemudian Gusti juga menjelaskan perlambatan ekonomi dari sisi penawaran yang mencakup kinerja industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan. Semuanya turun.

Dari sisi perdagangan sangat lambat karena dipengaruhi pelemahan konsumsi, kontraksi belanja pemerintah, serta terbatasnya pertumbuhan wisman.

Realisasi usaha dilihat dari Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU) maka menurun 4,19 persen. Sedangkan ekspor bisa dilihat dari penerbitan surat persetujuan ekspor (SPE) yang melambat 31 persen (yoy).

“Namun kunjungan wisman mulai tumbuh 0,56 persen (yoy),” imbuhnya.

Kemudian jika dilihat dari sisi konstruksi, maka kontraksinya sejalan dengan penurunan investasi bangunan, baik investasi bangunan ole swasta maupun proyek pemerintah yang tercermin dari rendahnya realisasi belanja modal pemerintah.

“Dari 8,93 persen pada triwulan pertama jadi minus 0,06 persen saat ini,” ungkapnya.

Dan terakhir, pelemahan terjadi pada industri. Dimana penurunan industri karena permintaan yang masih rendah khususnya pada industri kapal, besi baja dan pendukung migas karena belum mendapatkan proyek-proyek baru.

“Permintaan domestik juga melemah, tercermin dari penurunan ekspor domestik,”pungkasnya.(leo)

Respon Anda?

komentar