F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Di tengah kelesuan ekonomi yang melanda, nilai ekspor Kepulauan Riau selama Juli 2017 mencapai 1.002, 19 juta dolar Amerika. Naik sekitar 23,69 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan peningkatan ekspor minyak dan gas yang nilainya mencapai 305,92 juta dolar Amerika atau naik sekitar 21,61 persen.

“Jadi sumbangan nilai ekspor migas kita itu sangat besar,” kata kepala Badan Pusat Statistik Kepri, Panusunan Siregar, Selasa (15/8).

Sementara untuk nilai ekspor non-migas pada Juli 2017 mencapai 696,27 juta dolar Amerika atau naik 24,63 persen dibanding Juni 2017.

“Ekspor non-migas terbesar adalah golongan barang mesin atau peralatan listrik. Nilainya lebih dari 198 juta dolar,” katanya.

Total ekspor kumulatif Januari sampai Juli 2017 Provinsi Kepulauan Riau adalah sebesar 7.004,50 juta dolar Amerika.

Jika dibanding dengan total ekspor kumulatif Januari-Juli 2016 mengalami kenaikan sebesar 10,94 persen, yaitu dari 6.313,98 juta menjadi 7.004,50 juta dolar Amerika. Naiknya nilai ekspor Januari-Juli 2017 disebabkan naiknya ekspor kumulatif migas sebesar 73,45 persen.

Di Juli 2017 ini, tujuan ekspor Kepri paling tinggi masih ke Singapura dengan nilai 510,96 juta dolar Amerika.

Negara tujuan ekspor kedua terbesar di bulan Juli adalah Malaysia mencapai 65,27 juta atau naik 115,55 persen dari bulan sebelumnya. Tetapi secara kumulatif Januari-Juli, nilai ekspor terbanyak kedua adalah ke Tiongkok dengan nilai 392,32 juta dolar Amerika.

Negara tujuan ekspor terbesar ketiga sampai dengan kesepuluh Kepri berturut-turut adalah Malaysia, Amerika Serikat, India, Rusia, Spanyol, Prancis, Jepang, Meksiko.

“Kesepuluh negara tujuan ekspor Kepulauan Riau tersebut mempunyai peran sebesar 82,06 persen terhadap total ekspor Kepulauan Riau Januari-Juli 2017,” katanya.

Sebagian besar barang ekspor tersebut dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan di Batam. Terbesar melalui Pelabuhan Batuampar nilainya 1.903,38 juta dolar. Kemudian dari Pelabuhan Sekupang 1.165,37 juta dolar, Pelabuhan Kabil sebesar 1.132,63 juta dolar. Kemudian dari pelabuhan Tarempa 995,31 juta dan pelabuhan Tanjungbalai Karimun 832,37 juta dolar Amerika.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing menyambut baik peningkatan ekspor tersebut. Ini menandakan bahwa industri di Batam dan Kepri pada umumnya sudah mulai tumbuh.

“Kita berharap ini justru akan terus tumbuh. Memang dari migas tinggi. Kalau dari elektronik mudah-mudahan terus naik,” katanya.

Menurutnya, di bulan-bulan mendatang, nilai ekspor non migas seperti industri elektronik dan manufaktur akan meningkat. Ini bisa dilihat dari mulai banyaknya perusahaan yang sudah mulai melakukan perekrutan.

“Perusahaan-perusahaan sekarang sudah mulai melakukan perekrutan. Artinya produksi ada,” katanya.

Sementara itu, Tumbur M Sihaloho anggota Komisi I DPRD Kota Batam meminta semua pihak terkait, baik instansi vertikal dan horizontal, untuk memudahkan perizinan dan mempermudah birokrasi. Menurutnya, masih banyak pengusaha yang mengeluh masalah perizinan dan birokrasi.

“Perizinan ini menjadi salah satu kunci pengembangan investasi. Birokrasi yang berbelit akan menghambat investasi,” katanya.(ian)

Respon Anda?

komentar