Bagian lambung kapal USS John S McCain yang rusak akibat kecelakaan. (Reuters)

batampos.co.id – Insiden tabrakan kapal USS John S. McCain dengan kapal Alnic MC di Selat Malaka pada Senin (21/8) lalu mendapat respon beragam dari banyak pihak. Bagi Kirk Patterson, kapal destroyer bisa tertabrak oleh tanker merupakan kejadian yang sangat sulit dinalar. Ia menganalogikannya sebagai peristiwa ’’tertabraknya mobil Formula 1 (F1) oleh truk sampah’’.

’’Siapa yang paling mungkin menghindari tabrakan? Tentu saja mobil F1 yang dilengkapi peralatan canggih,’’ kata mantan dekan di Temple University Cabang Jepang itu seperti dikutip New York Times, Selasa (22/8).

Analogi tersebut digunakan Patterson untuk menggambarkan betapa sulit dipahaminya tabrakan antara USS John S. McCain dengan Alnic MC di Selat Malaka itu. Tabrakan tersebut mengakibatkan 10 personel AL AS hilang dan lima lainnya terluka. Lima korban yang mengalami luka sudah dirawat di Singapura dan berkondisi baik. Salah seorang di antaranya bahkan tak perlu mendapat perawatan lebih lanjut.

Sementara itu, pencarian para korban hilang melibatkan empat negara, AS, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang mengerahkan dua kapal perang untuk tugas tersebut.

Selain itu, Polda Kepri menurunkan lima kapal untuk mencari korban. “Dua kapal milik Mabes Polri, tiga kapal milik Ditpolair Polda Kepri,” kata Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian, Selasa (22/8).

Sam mengatakan unsur yang bergerak dalam operasi kemanusiaan ini dari Polres Bintan dan Direktorat Polisi Perairan Polda Kepri. “Kami akan berkoordinasi dengan unsur-unsur lainnya seperti Angkatan Laut, Basarnas, dan nelayan,” tuturnya.

Insiden itu juga mengakibatkan kerusakan di lambung kanan USS John S. McCain. Tonase Alnic MC memang tiga kali lebih besar dari kapal perang AS yang tugas rutinnya berpatroli di Laut Cina Selatan tersebut.

’’Kerusakan signifikan mengakibatkan air laut masuk ke beberapa bagian terdekat, termasuk ruang istirahat kru, ruang mesin, dan ruang komunikasi. Upaya perbaikan yang dilakukan kru kapal berhasil mencegah masuknya lebih banyak air laut.’’ Demikian pernyataan resmi AL AS sebagaimana dikutip USA Today.

Belum ada pernyataan resmi soal penyebab insiden itu. Tapi, petaka di Selat Malaka tersebut memicu banyak pertanyaan terkait dengan prosedur pelatihan dan pengamanan di lingkungan Armada Ke-7 AL AS yang berbasis di Yokosuka, Jepang. Sebab, kejadian itu hanya berselang dua bulan dari tabrakan antara USS Fitzgerald dan kapal kontainer Filipina di lepas pantai Jepang yang menewaskan tujuh pelaut AS. Januari lalu kapal lain yang masuk Armada Ke-7, USS Antietam, juga kandas sebelum berlabuh di Pelabuhan Tokyo.

Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut China Selatan memang dikenal sebagai jalur paling berbahaya di dunia. Selain sangat padat, wilayah perairannya tergolong sempit. Belum lagi ancaman bajak laut.

Tapi, tetap saja mengherankan, seperti disampaikan Patterson, sebuah kapal penghancur canggih yang dilengkapi misil bisa tertabrak.

Benji Ohara, peneliti di Sasakawa Peace Foundation, mengatakan, salah satu faktor yang kerap menjadi pemicu tabrakan, saat kapal perang terus diawasi langsung petugas, kapal komersial biasanya mengandalkan autopilot. Itu dilakukan untuk menekan biaya.

Seorang perwira senior AL AS mengatakan kepada New York Times, saat malam yang mengendalikan kapal perang biasanya para pelaut muda yang berusia 22–24 tahun. Mereka dibantu para senior yang mengawasi dari pusat komando.

”Kalau kemudian bisa terjadi tabrakan, berarti ada fungsi pengamanan di kapal yang tidak bekerja sebagaimana mestinya,” kata perwira yang tak disebutkan namanya itu.

Di sisi lain, tambah sang perwira, kapal komersial biasanya enggan berpindah jalur meski radarnya menangkap adanya kapal perang di jalur yang sama. Sebab, mengubah haluan berarti harus mematikan autopilot. Juga, itu berarti pemborosan uang dan waktu. Artinya, mereka berharap kapal peranglah yang berpindah jalur. (ska/jpgroup)

Respon Anda?

komentar