Ilustrasi

batampos.co.id – Pihak Kepolisian mencatat dalam satu semester ini sebanyak 16 kasus bunuh diri terjadi di Kepri. Dan kebanyakan ada di wilayah hukum Polresta Barelang, 13 kasus.

Dari catatan Batam Pos, kasus bunuh diri tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari putus cinta, ekonomi, ditinggal istri, penyakit yang tak kunjung sembuh, dan lain-lainnya. Persoalan yang melilit para korban bunuh diri, tak kunjung menemui titik terang. Sehingga mereka mengakhiri hidupnya dengan cara terjun dari jembatan barelang, gantung diri, meminum racun, dan menyayat leher atau nadi.

“Cukup tinggi itu,” kata Psikolog Bibiana Dyah, Selasa (22/8).

Ia mengatakan harusnya angka ini, sudah menjadi perhatian semua orang termasuk pemerintah. Di beberapa Kota Besar, kata Bibiana sudah mendiringkan posko krisis untuk menampung orang-orang yang bermasalah secar psikis.

Dari kasus bunuh diri yang terjadi di Batam, kebanyakan mengakhiri hidupnya akibat faktor ekonomi. Bibiana tak membantah, hal tersebut bisa jadi alasan seseorang untuk bunuh diri. “Tapi ekonomi penyebab tak langsung (bunuh diri,red), tapi penyebab stres iya,” ujarnya.

Dijelaskannya ada beberapa proses yang dilalui seseorang, sebelum akhirnya memutuskan bunuh diri. Diawali dengan stress, lalu menjadi depresi. Karena terus memikirkan permasalahan yang tak kunjung mendapatkan solusi, orang-orang itu akhirnya menjadi frustasi.
“Lalu salah solusi, menganggap dengan mengakhiri hidup adalah solusi. Padahal itu salah,” tuturnya.

Masyarakat dapat melihat, orang-orang yang stres, depresi atau frutasi. Bibiana mengatakan hal itu bisa terlihat secara langsung, murung, sedih, kelihatan bingung, suka menyendiri, sensian, serta menarik diri dari lingkungan. Tak hanya itu saja, orang-orang ini juga tak bisa berinteraksi ditengah keramaian.

“Bila masyarakat melihat, sebenarnya itu adalah jeritan minta tolong,”ucapnya.

Dan ini, kata Bibiana perlu diperhatikan masyarakat. Bila ada teman,sahabat atau kerabat yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan diatas, agar segera didekati. “Jangan dijauhi, tanyakan ke mereka apa masalahnya,”ujarnya.

Sebenarnya dalam psikolog itu ada pertolongan pertama dalam masalah psikologis. “Melihat, mendengar dan link (mencarikan orang yang tepat mengatasi permasalahan oknum masyarakat yang stres,red) dengan guru, psikolog atau orang yang bisa dipercayanya,”tuturnya.

Sementara itu, Ditreskrimum Polda Kepri Kombes Pol Lutfi Martadian melihat aksi bunuh diri ini, akibat iman atau ketaqwaan kepada tuhan yang kurang. Sehingga memilih jalan yang salah ini. “Kalau saya melihat, intinya yah percaya pada Allah. Berserah diri, membuat kita dekat, maka terhindar dari semua ini,”ucapnya.

Selain itu peranan keluarga, juga sangat membantu orang-orang yang stress atau frustasi tersebut. Keluarga, kata Lutfi harus lebih awas terhadap perubahan yang terjadi. “Keluarga atau kerabat jangan apatis,” ujarnya.

Kalau untuk pengawasan sendiri, Lutfi mengatakan agak susah untuk mendeteksi hal tersebut. “Sekali, itu keluarga yang bisa melihat keseharian kerabatnya,”ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan di Batam Pos, kejadian bunuh diri terus terjadi dan berulang seperti Abdul Qohar,28 ditemukan warga Kaveling Saguba gantung diri akibat penyakitnya tak kunjung sembuh pada akhir Januari lalu. Teresia, 41 tahun ditemukan tergantung oleh suaminya di kediamannya yang berada di Ruli Indosat, 9 Maret lalu. Usut punya usut, keputusan perempuan ini disebabkan permasalahan ekonomi.

Salpiani, 21, tewas tergantung dengan selembar kain di tiang besi penyanggah jemuran baju, Komplek City Centre Blok E nomor 3, Kos-kosan lantai 3, Kelurahan Lubukbaja, 22 Maret lalu. Rofandi, 35 bunuh diri dikediamannya yang berada di perumahan Griya Permata Batuaji blok D nomor 57A, kelurahan Seilangkai, Sagulung, 7 Mei lalu akibat perceraian. (ska)

Respon Anda?

komentar