batampos.co.id – Rencana Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang akan membangun Balai Latihan Kerja (BLK) di Nongsa pada tahun 2018 mendapat apresiasi dari kalangan industri.

“Kita berikan apresiasi terhadap ide tersebut. Jika BLK tersebut dapat dimanfaatkan dengan benar pasti akan banyak memberikan peluang bagi tenaga kerja dalam meningkatkan keterampilannya,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing atau yang biasa sering dipanggil Ayung, Rabu (23/8) di Wisma Batamindo, Batam.

BLK tersebut nanti harus dikelola oleh tangan-tangan profesional. Salah satu BLK yang bisa dijadikan contoh adalah BLK yang berada di Penang, Malaysia.

“Disana banyak industri berteknologi tinggi kan. Mereka punya namanya Penang Skills Development Centre yang membantu perusahaan disana supaya tenaga kerjanya dilatih menjadi terampil,” ungkapnya.

Kemudian, BLK di Johor yang bernama Johor Skill Development Centre. “Mereka banyak program dalam membantu perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja terampil,” jelasnya.

Menurutnya, BLK yang memiliki standar profesional sudah saatnya dimiliki oleh Batam yang notabene merupakan kota industri.

Keberadaan BLK sangat penting dalam menghadapi persaingan dunia usaha kerja. Tenaga kerja lokal di Batam perlu mengasah kemampuan dan kompetensi sesuai yang dibutuhkan oleh industri.

“Nah ini kesempatan bagi para pencaker yang sudah lulus dari BLK dapat menjadi tenaga kerja yang tidak hanya kompeten dan punya daya saing tapi juga tersertifikasi,” ungkapnya.

Wacana pembangunan BLK dibenarkan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Rudi Sakyakirti.

Ia mengatakan BLK tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 5 hektare di Nongsa. Pemko Batam sudah berbicara dengan BP Batam untuk memastikan pengalokasian lahan berjalan mulus.

“BLK ini dikelola nantinya oleh Kemenaker. Mereka akan membentuk semacam Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) di daerah,” jelasnya.

BLK ini nantinya menyesuaikan kurikulum ajar dengan kebutuhan industri di Batam yang didominasi oleh industri manufaktur dan maritim seperti migas.

Saat ini Rudi mengungkapkan terjadi ledakan welder atau orang yang ahli dalam pengelasan. Momennya tidak tepat karena industri lagi lesu.”Sehingga banyak welder yang menganggur,” terangya.

Alasan lainnya mengapa Batam membutuhkan BLK adalah karena ketika industri di Batam lagi lesu, banyak tenaga kerja berkompetensi tinggi malah lompat keluar negeri.

Rudi juga menjelaskan BLK ini akan diprioritaskan untuk lulusan SMK di Batam.

Bahkan sejak SMK sekalipun, Pemko Batam telah bekerjasama dengan Citra Tubindo dari Kawasan Industri Terpadu Kabil (KITK) untuk membuka kelas Citra Tubindo. “Kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan industri di Batam,” katanya.

ilustrasi

Pernyataan Rudi tersebut dibenarkan oleh Humas Kawasan Industri Terpadu Kabil (KITK), Naradewa.

Naradewa mengungkapkan saat ini pihaknya telah menjalin kerjasama dengan SMK 6 Batam.

“Lulusan SMK itu begitu lulus belum siap kerja,” katanya.

Namun, KITK melihat peluang tersebut, kemudian mencoba berbicara dengan Kemenaker dan Disnaker Pemko Batam bagaimana cara mempersiapkan lulusan SMK agar bisa bekerja di kawasan industri.

“Apalagi pemerintah saat ini sudah memulai program revitalisasi SMK, dimana kurikulum SMK dapat diubah sesuai kebutuhan industri,” ungkapnya.

Citra Tubindo mencoba untuk memanfaatkan momen tersebut dengan membuka kelas Citra Tubindo dengan merangkul pelajar dari SMK 6 Batam.

“Masa pendidikan SMK itu 3 tahun. Dan kami sumbang 1000 jam pendidikan,” jelasnya.

Kurikulum ajar dibuat Citra Tubindo, begitu juga dengan pengajarnya.

“Jadi begitu lulus siap kerja. Kemudian akan diatur lagi kebutuhan kerjanya sehingga semuanya dapat kesempatan bekerja,” pungkasnya.(leo)

Respon Anda?

komentar