Sejumlah warga mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau Penyengat di Pulau Penyengat, beberapa waktu lalu. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Setiap wisatawan yang datang ke Penyengat tidak bisa lagi berpakaian seenaknya. Mereka harus mengindahkan etika dan kesopanan ketika berkunjung ke sana. Mengingat pulau ini merupakan bagian dari destinasi wisata sejarah dan religi sarat dengan budaya Melayu dan Islam yang kental.

“Karena itu harus dijaga betul kesopanan selama ke sana. Nggak ada lagi yang boleh pakai rok mini kalau ke Penyengat,” kata Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, akhir pekan kemarin.

Imbauan ini disampaikan agar Penyengat sebagai upaya pemerintah daerah ikut melestarikan kebudayaan Melayu yang lekat dengan Islam. Apalagi, sambungnya, setiba di sana hal pertama yang akan menyambut wisatawan adalag Masjid Sultan Riau.

“Masa iya mau foto-foto latarnya masjid pakai rok mini, belum lagi misalnya ketika sedang masuk waktu salat ya diminta seluruh turis itu ikut menghormati,” kata Lis.

Ke depannya, sambung Lis, imbauan ini akan dijadikan kebijakan tertulis. Ia meminta kepada warga setempat ikut mengawasi hal ini. Sehingga jangan sampai justru warga Penyengat yang malah tidak mengindahkannya.

“Lebih-lebih lagi pada waktu salat, tak ada lagi warga yang tak memakai baju sambil nongkrong dan tertawa-tertawa di tempat umum. Tentu, pemandangan ini tak kan enak dilihat bila ada wisatawan yang berkunjung ke Penyengat,” papar Lis.

Sedangkan untuk etika bangunan di pulau Penyengat, menurut Lis, harus berkonsep Melayu. Karena itu Lis meminta dukungan warga supaya Pulau Penyengat yang kaya akan sejarah melayu tetap terjaga indentitasnya.

“Indentitas melayu adalah Islam, Islam adalah melayu harus kita jaga, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya,” pungkasnya. (aya)

Respon Anda?

komentar