Iklan
Ilustrasi

batampos.co.id – Sebelum kedua korban dilarikan ke RS Elisabeth Batam Kota, Budi sempat bertanya ke Reihan, kenapa sampai dirinya dikeroyok dan dihajar belasan remaja geng motor.

Iklan

“Reihan mengaku ke saya, kejadiannya itu sebenarnya saat dirinya yang berboncengan sepeda motor dengan Beni berkeliling jalan-jalan hingga ke bundaran simpang SMUN 3. Biasa, malam kejadian kan waktu kemarin kan ramai, orang pada takbir keliling,” ujar Budi.

Kebetulan motor yang dibawa berboncengan oleh kedua korban tersebut, knalpotnya menimbulkan suara kencang dan bising.

“Tepat sampai di jalan simpang bundaran SMUN 3, Reihan dan Beni ini mencoba memainkan gas motornya agar menimbulkan suara yang kencang yang bisa menjadi perhatian orang yang melintas. Tak tahunya di bundaran simpang SMUN 3 sudah ada belasan remaja geng motor yang berkumpul tak jauh dari depan gerbang SMUN 3,” kata Budi.

Merasa tersinggung oleh bunyi knalpot dan gas motor yang dimainkan kedua korban, belasan remaja geng motor, sempat meneriaki kedua korbannya agar menghentikan motornya.

“Tahu kalau belasan remaja geng motor tak terima dan meneriakinya, Reihan yang waktu itu membonceng Beni, langsung tancap gas kabur ke arah Taras Taman Raya mencoba bersembunyi menghindari kejaran belasan anggota geng motor,” ujar Budi menyampaikan apa yang diceritakan oleh salah satu korban geng motor, Reihan.

Kedua korban, Reihan dan Beni mencoba bersembunyi di rumah kawannya yang bernama Budi, di deretan Blok EF Perumahan Taman Raya Tahap I.

Apes, upaya kedua korban bersembunyi ke rumah kawannya, diketahui belasan remaja geng motor. Belum sempat kedua korban masuk rumah, belasan remaja geng motor sudah mengepungnya dan menghajarnya beramai ramai hingga kedua korban terkapar.

“Itu kalau saya terlambat sedikit saja bangun mencegah pengeroyokan, saya yakin kedua korban akan lewat (tak terselamatkan) nyawanya. Banyaknya mereka yang mengeroyok. Iya kalau hanya tangan kosong. Ini semua berparang dan membawa broti,” terang Budi. (gas)