ilustrasi

batampos.co.id – Usianya baru menginjak 12 tahun, tapi Sa sudah harus menanggung malu seumur hidup akibat perbuatan dari Suhu Vihara Purnama Mahayana Hendra alias Yo Chu Hi. Setiap kali ditanya, ia tak berani memandang mata lawan bicaranya. Ia menjawab setiap pertanyaan, sembari mengarahkan pandanganya ke tempat lain.

Iklan

“Mau pulang, ke rumah nenek,” katanya saat ditemui Batam Pos, Senin (4/9).

Saat ditanya tentang peristiwa yang menimpanya. Sa memilih diam sesaat. Lalu bicara dengan nada pelan, sembari mendudukan kepalanya. Ia menceritakan saat itu, agen penyalur tenaga kerja mengambil dirinya dan menyerahkan ke Suhu Yo.Untuk pertama kalinya ia bertemu suhu Yo di salah satu hotel di Jakarta.

Orang tua yang sudah bercerai, ibu menikah lagi dan ayah yang tidak tau dimana rimbanya. Membuat Sa harus mengambil tanggungjawab atas hidupnya sendiri di umur yang masih belia. Atas restu neneknya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di Bogor, ia menerima ajakan Suhu Yo bekerja di Vihara Purnama Mahayana.

“Satu bulannya itu, nanti dikasih uang dua juta,” tuturnya.

Tapi Suhu Yo seharusnya jadi penyelamat, jadi malapetaka bagi hidupnya. Dengan terbata-bata, sembari lirik kanan kiri, ia menceritakan peristiwa yang tak akan dilupakannya seumur hidupnya. Suaranya pelan sekali, menuturkan rangkaian peristiwa itu.
Berapa kali? “Dua kali,” ujarnya lirih.

Ia mengatakan setelah Suhu Yo melancarkan aksi bejatnya, Sa hanya bisa menangis tersedu-sedu. Lalu suhu cabul itu, mengatakan sesuatu ke Sa. “Jangan dibilangin ke siapa-siapa. Nanti kita dibawa ke kantor polisi,” katanya menirukan perkataan Yo.

Gadis putus sekolah sejak kelas 5 SD, hanya bisa manut dan diam mendengarkan perkataan Yo. Tapi saat pagi hari, ia berniat untuk kabur.

Hal itu dibenarkan oleh Ls,15. Gadis yang juga korban pelecahan Suhu Yo ini, menuturkan saat pagi hari Sa berkelakuan aneh. Dimana menanyakan keberadaan tasnya. ”

Katanya mau kabur,” tuturnya.

Tapi Sa mengurungkan niatnya, setelah dibujuk Ls. Ia mengatakan belum mengetahui ada peristiwa pelecehan itu terjadi.

“Waktu itu Sa, belum cerita. Tapi saat di Batam ia cerita,” ungkapnya.

Ls cukup kaget mendengar cerita Sa, tapi saat ia melihat tak ada yang aneh dari tingkah laku suhu Yo. Tetap seperti biasanya.

Apakah kamu juga pernah dilecehkan? Ls cukup lama mengelak pembahasan mengenai hal itu. Namun akhirnya ia mengakui, beberapa kali pernah diraba-raba Yo. Dan saat itu dirinya sedang tertidur, tiba-tiba ada tangan yang menggerayanginya. “Kaget, dan saya marah ke dia,” tuturnya.

Saat melihat reaksinya, Ls mengatakan Yo langsung meminta maaf. Dengan muka memelas, ia mengatakan telah berbuat khilaf. Selain itu Yo, meminta Ls agar tak keras-keras memarahi dirinya. “Katanya takut didengar orang lain,” ujarnya.

Ls yang sudah ikut Yo semenjak usianya 12 tahun, menuturkan hal itu terjadi beberapa kali terhadap dirinya. “Sekarang usia saya 15,” tuturnya.

Tak hanya itu, gadis yang sehari-hari menggunakan hijab ini. Pernah diminta oleh Yo menggunakan baju yang terbuka. “Saya gak malu, tapi diminta terus,” ungkapnya

Sementara itu hal yang senada diungkapkan oleh Sp,17. Ia pernah satu kali dipegang-pegang Yo. Modusnya hampir mirip dengan yang dialami oleh Ls. “Saat saya tidur, tapi cuman sekali. Saya kan baru di sana (Vihara Purnama Mahayana,red),” katanya.

Sedangkan Dw,16 gadis asal suku badui ini, juga menuturkan dirinya dilecehkan suhu Yo. “Saya hanya dicium-cium saja,” tuturnya terbata-bata.

Baik itu Sa, Ls, Sp dan Dw mau ikut suhu Yo karena kebutuhan hidup. Asal bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka ikut dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Sa digaji sebesar Rp 2 juta, Ls Rp 1,8 juta, Sp Rp 2 juta dan Dw 1,8 juta. Pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari adalah membersihkan Vihara, melayani kebutuhan suhu Yo seperti memasak atau membuat teh, mencuci, mengepel lantai dan berbagai pekerjaan rumah lainnya.

Ketua Paguyuban Pasundan Kepri Dede Suparman, mengatakan pihaknya akan meminta bantuan perkumpulan pasundan Indonesia. “Akan ada pengacara Pasundan Indonesia yang membantu kami mengawal kasus ini,” ujarnya.

Ia berharap kepada pihak kepolisian agar dapat menuntaskan kasus ini. Selain itu, ia meminta juga pihak kepolisian agar menarik kasus pencabulan ini ke Batam saja. Disebabkan korban dari kasus ini banyak ada di Batam. “Polisi bilang mau selesaikan di Eksploitasi anaknya dulu. Tapi kami ingin pencabulannya juga diusut disini saja,” tuturnya.

Saat ini korban ekploitasi dan pencabulan suhu Yo, berada dalam pengawasan Paguyuban Pasundan Kepri. Mereka ditempat disebuah rumah, dan identitasnya dirahasiakan dari pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. (ska)