ilustrasi pekerja di Batam.
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Industri manufaktur masih menjadi tulang punggung utama ekonomi Batam saat ini. Pada saat shipyard goyah seperti sekarang, manufaktur masih mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak pada tahun ini.

“Industri manufaktur terdiri dari industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik. Saat ini menyumbangkan realisasi investasi lewat 10 proyek dengan nilai investasi 309.820 dolar Amerika,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono, Selasa (5/9).

Tenaga kerja yang direkrut cukup banyak mencapai 2.783 orang. Di tempat kedua, industri makanan ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan dengan realiasi investasi sebanyak dua proyek.

“Nilai investasinya 73.199 dolar Amerika dengan meraup tenaga kerja sebanyak 155 orang,” kata Andi.

Sektor berikutnya adalah industri yang memproduksi instrumen kedokteran, presisi, optik, dan jam. Dari dua proyek, nilai investasi yang bisa diraih mencapai 3.968 dolar Amerika serta membutuhkan 252 tenaga kerja.

“Sektor lainnya yang cukup berperan yakni sektor pertambangan dengan dua proyek senilai 37.829 dolar Amerika serta menyerap 155 tenaga kerja,” ujarnya.

Sektor berikutnya yang cukup berkontribusi menyerap tenaga kerja adalah properti. Ada dua proyek dengan nilai investasi 2.808 dolar Amerika dan mampu meraup 319 tenaga kerja.

Menarik investasi merupakan prioritas utama BP Batam. Paket kebijakan ekonomi Presiden ke-16 yang baru dikeluarkan pemerintah pusat, kemarin, tentang percepatan kemudahan berusaha telah lama diaplikasikan BP Batam lewat program Izin Investasi 3 Jam (i23J) dan Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KILK).

Persoalannya, Batam bukanlah pilihan bagi perusahaan dunia untuk membuka kantor utama. Umumnya Batam hanya menjadi tempat dari pabrik-pabrik, sedangkan kantor utamanya ada di Singapura.

Untuk bisa jadi lokasi bagi kantor representatif perusahaan-perusahaan besar dunia, syaratnya hanya satu, yakni membangun infrastruktur yang memadai.

“Batam punya potensi untuk dipilih sebagai kantor utama. Namun harus mampu menyediakan lokasi perkantoran yang representatif tentunya,” jelas Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami, Selasa (5/9).

Menurut Gusmardi, Batam belum menyediakan hal tersebut. Seandainya wilayah Nagoya bisa disulap jadi kawasan perkantoran elit, kemungkinan itu ada. Namun tidak mungkin untuk mengubah tata ruang yang sudah jadi. Lalu apa solusi BP Batam?

Gusmardi menerangkan, kesempatan tersebut bisa dibuat dengan memanfaatkan lahan di areal bandara seluas 1700 hektare.

“Areal bandara kan dikuasai BP Batam sehingga bisa ditentukan pembangunannya,” ujar Gusmardi.

Areal Bandara Hang Nadim sudah direncanakan akan menjadi kota aerotropolis. Dengan kata lain, kawasan ini akan menjadi seperti kota terpadu dengan fasilitas kelas dunia yang menyamai Singapura. Tidak heran nanti akan ditemukan gedung-gedung pencakar langit di sana.

“Batam akan jadi pusat Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dan itu bagus untuk menarik minat investor luar negeri,” jelasnya. (leo)

 

Advertisement
loading...