batampos.co.id – Dalam siaran pers Bank Indonesia terkait inflasi Agustus tahun ini, tercatat inflasi Agustus Kepri sebesar 0,04 persen (mtm) atau 3,60 persen (yoy). Tingkat inflasi tersebut lebih rendah dibanding rata-rata historisnya 3 tahun terakhir yakni, inflasi 0,26 persen (mtm).

Ketua II TPID Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, inflasi Agustus tersebut terutama didorong kenaikan harga sejumlah komoditas inti antara lain, tarif tukang bukan mandor, tarif pulsa ponsel dan emas perhiasan. Namun laju inflasi tertahan dengan melambatnya laju kenaikan harga volatile food, dan deflasi kelompok administered price khususnya pada komoditas angkutan udara.

“Kelompok inti mencatatkan inflasi 0,54 persen (mtm), meningkat dibanding bulan sebelumnya dengan inflasi 0,38 persen (mtm),” ujar Gusti yang juga Kepala kantor perwakilan BI Kepri, Rabu (6/9).

Ia menjelaskan, andil terbesar inflasi bersumber dari kenaikan tarif tukang bukan mandor dengan inflasi 8,03 persen (mtm) yang diperkirakan dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan pekerja bidang konstruksi, sejalan peningkatan aktivitas konstruksi yang tercermin dari pertumbuhan konsumsi semen Kepri pada Agustus sebesar 15,67 persen (yoy).

“Begitu juga dengan kenaikan harga emas yang dipengaruhi kenaikan harga emas global. Penyesuaian harga juga dicatatkan komoditas tarif pulsa ponsel, biaya keamanan dan tarif sekolah dasar,” paparnya.

Sementara dari kelompok komoditas volatile food mencatatkan inflasi 0,33 persen (mtm), lebih rendah dibanding inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,65 persen (mtm).

“Kenaikan harga terutama dicatatkan komoditas bawang merah, ikan tongkol dan cabai merah,” sebut Gusti.

ilustrasi

Di tengah deflasi bawang merah secara nasional, Kepri justru mencatatkan inflasi diperkirakan karena proses distribusi hasil panen dari Jawa membutuhkan waktu yang relatif lebih panjang untuk sampai di Kepri. Puncak lonjakan harga bawang merah terjadi pada minggu kedua Agustus, namun seiring mulai meningkatnya pasokan karena panen, harga bawang merah perlahan mulai menurun.

Lanjutnya, harga ikan tongkol dan beberapa komoditas ikan segar lainnya dipengaruhi faktor cuaca yaitu curah hujan dan angin kencang. Sedangkan kenaikan harga cabai merah dikarenakan terbatasnya pasokan dari daerah penghasil di Jawa maupun Sumatera, tercermin dari terjadinya kenaikan harga cabai secara nasional.

Sementara, di kelompok administered prices mencatatkan deflasi 1,41 persen (mtm), melanjutkan deflasi bulan sebelumnya sebesar 1,57 persen (mtm). “Seperti bulan sebelumnya, deflasi administered price Agustus juga disebabkan penurunan tarif angkutan udara sebesar 9,19 persen (mtm), sejalan kembali normalnya jumlah penumpang pasca arus balik Idul Fitri,” ujarnya.

Gusti menambahkan, memasuki September, inflasi diperkirakan tetap terjaga pada level rendah. Meski demikian, perlu diwaspadai beberapa risiko inflasi ke depan. “Pengendalian inflasi difokuskan untuk mitigasi risiko inflasi terutama menjelang akhir tahun dengan beberapa rekomendasi, diantaranya mengupayakan percepatan proses revitalisasi pasar induk Kota Batam untuk mendukung kelancaran monitoring dan distribusi pasokan,” tutupnya. (nji)

Respon Anda?

komentar