batampos.co.id – Dunia industri kini wajib menggandeng Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lokal untuk memberikan kesempatan bagi pelajar SMK untuk belajar teknik industri. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan tenaga kerja lokal yang memiliki skill mumpuni dan memudahkannya untuk mendapatkan pekerjaan.

Iklan

“Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dunia usaha dengan SMK dimana industri harus memberikan akses luas bagi pelajar SMK untuk magang disana,” kata Direktur Elektronik dan Industri ICT Kementerian Perindustrian, Achmad Rodjih di Hotel Swissbell, Harbour Bay, Senin (11/9).

Dengan Inpres ini, maka industri dituntut untuk memberikan dukungan dalam pengembangan pembelajaran di pabrik dan infrastruktur.

Inpres ini diterbitkan karena melihat fenomena yang marak terjadi saat ini karena kompetensi yang dibutuhkan dunia industri dari lulusan SMK belum terlihat sama sekali.

“13,6 ribu SMK, 4,4 juta siswa, 142 jenis kompetensi. Namun hanya 36 jenis kompetensi untuk industri,” jelasnya.

Inpres ini juga memberikan kemudahan bagi guru untuk magang di kawasan industri. “302 ribu guru, hanya 22 persen guru produktif. Seharusnya minimal 60 persen guru itu produktif,” terangnya lagi.

ilustrasi

Selain itu, banyak peralatan praktikum di SMK saat ini tertinggal dengan industri.”30 persen tertinggal 2 generasi,” imbuhnya.

Sistem pembelajaran juga lebih dominan teori daripada praktek dan terakhir lulusan SMK lebih banyak yang menganggur dibanding lulusan SMA.

Dalam Inpres ini, juga sudah ditetapkan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Untuk kawasan industri maka harus memberikan masukan dalam penyelarasan kurikulum di SMK. Lalu memfasilitasi praktek kerja industri dan infrastruktur bagi pelajar SMK.”Kemudian memfasilitasi penyediaan sarana prasarana untuk prakerin dan magang serta mengeluarkan sertifikat,” jelasnya.

Sedangkan bagi SMK memiliki tugas untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Lalu mengupayakan pemenuhan kebutuhan guru bidang produktif melalui pelatihan, pemagangan dan pemberdayaan karyawan purna bakti dari industri.

“Dan menyelenggarakan prakteksi kerja industri serta uji kompetensi dan sertifikasi terhadap siswa,” paparnya.

Beberapa jurusan industri yang terangkum dalam Inpres ini ada 25 jurusan yakni, teknik permesinan, teknik elektronika industri, teknik otomasi industri, teknik pengelasan kapal dan lainnya.

Dengan sertifikat dan ilmu yang diperoleh di pabrik, maka diharapkan pelajar SMK di Kepri mampu mendapat pekerjaan sesuai keahlian yang dipelajarinya.

Menanggapi hal ini, Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Ok Simatupang mengatakan kawasan industri di Batam siap untuk menjalankan Inpres ini.

Menurutnya untuk Batam sendiri, kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan adalah untuk industri berteknologi tinggi, seperti jasa perbaikan pesawat di Bandar Udara Hang Nadim atau industri digital di Nongsa Digital Park.

“Tanggal 27 nanti ada penandatanganan fakta bersama dengan seluruh SMK di Medan. Lulusan SMK di masing-masing daerah harus disesuaikan dengan kompetensi industri di daerah tersebut. Untuk di Batam, arahnya pengembangan industri berteknologi tinggi. Kita harus mengikutinya,” jelasnya.

Di Kepri, SMKN 1 Batam menjadi penghubung utama antara dunia industri dan SMK lainnya. Kepala Sekolah SMKN 1 Batam, Lea Indrawijaya mengatakan Inpres ini sangat menguntungkan karena pelajar SMK mendapatkan tempat yang bagus untuk belajar praktek.

“Sekarang ada 100 industri yang bekerjasama dengan kami. Dan ini bagus untuk membuat anak-anak muda lokal Kepri menjadi tenaga kerja berkompetensi,” pungkasnya. (leo)