“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata”

Iklan

Itu merupakan secuil kalimat inspirasi Dahlan Iskan. Singkat namun memiliki makna dalam.

Lewat sepenggal kalimat itu pula, big bosa saya itu mencoba memberi motivasi. Menularkan optimisme bagi semua.

Bukan isapan jempol. Dahlan sudah pernah mengalaminya. Hasilnya, dia menjadi salah seorang tokoh negeri ini. Raja media di Tanah Air dengan ratusan perusahaan media.
Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) berada di angka 1,52 persen di semester pertama. Berada di peringkat kedua terbawah dari seluruh provinsi di Indonesia. Celakanya, sumber terbesarnya dari Batam.

Berdasarkan data yang dikulik dari pelbagai sumber, Batam penyumbang 60 persen terhadap perekonomian Kepri. Boleh dibilang, bangkit atau tidaknya ekonomi Kepri tergantung Batam

Miris sih sudah pasti. Dag-dig-dug tentu saja. Kondisi ini membuat kita semua waswas.
Namun jangan khawatir. Harapan itu masih ada. Ekonomi Batam masih bisa tumbuh.
Pertama, menilik hasil pertemuan antara Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong, 7 September lalu.
Inti dari pertemuan kedua kepala negara itu adalah, komitmen memperbaiki perekonomian Batam.

Jokowi dan Lee sepakat sepakat untuk mengembangkan industri digital. Di mana, Batam sebagai penghubungnya.

Kedua, komitmen pemerintah pusat untuk memanjakan investor. Khususnya lewat perizinan. Itu seiring diluncurkannya Paket Ekonomi Jilid XVI beberapa waktu lalu.
Paket tersebut berisikan tentang upaya percepatan penerbitan perizinan berusaha dari tingkat pusat hingga daerah. Kebijakan ini bertujuan menyelesaikan hambatan dalam proses pelaksanaan serta memanfaatkan teknologi informasi melalui penerapan sistem perizinan terintegrasi alias single submission.

Caranya dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi pembentukan satuan tugas (satgas) untuk pengawalan dan penyelesaian hambatan perizinan dalam pelaksanaan berusaha (end to end), penerapan perizinan checklist pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Free Trade Zone (FTZ), Kawasan Industri, dan Kawasan Pariwisata, penerapan perizinan dengan penggunaan data sharing.

Kemudian tahap kedua adalah reformasi peraturan perizinan berusaha, serta penerapan sistem perizinan berusaha terintegrasi (single submission).

Kedua rencana besar Jokowi ini tentunya memberikan angin segar bagi perekonomian Batam. Namun, yang paling menjadi perhatian tentu saja terkait perizinan.
Banyaknya pintu yang harus dilalui dalam mengurus perizinan berkali-kali dikeluhkan oleh pengusaha. Izin tumpang tindih dari peraturan presiden (perpres), peraturan menteri (permen), hingga peraturan wali kota (perwako) bikin pengusaha pening.
Padahal, mereka ingin berinvestasi di Batam. Menanamkan modal, juga menghamburkan uangnya untuk pembangunan.

Yang dikhawatirkan, jika sampai pengusaha jengkel dan lelah, mereka akan berinvestasi di tempat lain. Batam bisa rugi. Bahkan bangkrut.

Terlepas dari dua rencana besar Jokowi itu, peran pengusaha Batam tidak bisa dikesampingkan.

Di tengah “badai” krisis ekonomi dan ribetnya perizinan, mereka tetap survive. Bertahan dan menolak menyerah. Mereka tetap berusaha untuk bangkit.
Bagi saya, Batam dihuni orang-orang super. Mereka memiliki mental kuat dalam menghadapi cobaan.

Boleh dibilang, kondisi saat ini menjadi kesulitan, tantangan, dan air mata bagi mereka. Namun, pengusaha yang dibentuk dari segela kesukaran itu tergolong orang hebat.
Sempat terpikir dalam benak saya. Dengan kondisi ekonomi yang lesu dan ruwetnya perizinan seperti saat ini, pengusaha Batam bisa bertahan. Bagaimana jika ekonomi sudah membaik.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan Batam akan kian maju, maju, dan maju. Boleh jadi bakal melebihi Singapura dan Johor.

Semoga, masyarakat Batam, khususnya pengusaha diberi kesabaran, ketabahan, dan ketegaran dalam menghadapi persoalan.

Semoga, ke depan ekonomi Batam semakin membaik dan kota tercinta ini semakin maju. Amin. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manajer Batam Pos