“Seperti kata Pak Dahlan, Jawa Pos tidak mengenal sejarah.”

Kutipan kalimat itu dilontarkan salah seorang senior Jawa Pos dalam buku: Azrul Ananda Dipuja dan Dicibir; Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Dahlan Iskan. Buku itu ditulis oleh Bahari, eks jurnalis Jawa Pos yang kesohor lewat aksi dan tulisan “Haji Nekat lewat Jalur Darat”.

Kebetulan, saya belum tuntas membacanya. Sejak dipesan oleh Mbak Umy Kalsum (Sekretaris Redaksi) 5 September lalu, sampai tulisan ini saya buat kemarin, saya baru membaca sampai halaman 111. Masih ada ratusan halaman lain yang menunggu untuk ditengok.

Mungkin, saya kalah cepat dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) Batam Pos, Muhammad Iqbal. Seringkali beliau saya intip tengah berada di ruangannya, asyik membaca buku dengan warna dasar biru-putih itu. Hehehehe

Kembali ke paragraf pertama, tentang kalimat “Jawa Pos tidak mengenal sejarah”. Memang, maknanya agak simpang-siur. Ada yang setuju. Ada pula yang tidak.

Kebetulan, saya tergolong sebagai orang yang tidak mengenal sejarah. Meskipun saat Ujian Nasional (UN) tingkat SMA tahun 2005 lalu, nilai mata pelajaran Sejarah saya 9,25.
Bagi saya, sejarah bukan untuk dikenal. Tidak pula untuk diingat terus-menerus. Namun dikenang. Karena kalau terus-terusan mengingat sejarah, saya tidak punya waktu untuk memikirkan masa depan perusahaan.

Makanya, seluruh karyawan Batam Pos, dari departement head hingga staf, saya “haramkan” untuk bereuforia atau bernostalgia tentang sejarah perusahaan. Mereka cukup mengenang. Cukup tahu sajalah. Tidak usah lagi flash back atau mencari tahu soal sejarah. Hanya Tuhan dan pendiri perusahaan ini yang tahu.

Biarlah itu jadi kenangan. Tidak perlu dibangga-banggakan. Sekarang, sudah saatnya meninggalkan sejarah. Mari berpikir ke depan. Kembali ke lapangan. Kerja, kerja, kerja!
Di tengah krisis ekonomi yang melanda saat ini, rasanya kok tidak nyaman kalau mengingat kejayaan Batam. Dulu katanya Batam itu “surga”, dulu katanya Batam itu maju, dulu katanya Batam mirip Singapura, dulu Batam itu…

Dulu, dulu, dan dulu. Pokoknya diawali dulu. Sampai bosan saya mendengarnya. Mereka yang masih bicara dulu, menurut saya, kurang elok untuk dicontoh. Tidak mendidik. Karena tidak memberikan solusi. Melainkan hanya mengajari cara bernostalgia dan mengingat masa lalu.

Justru orang-orang dengan pemikiran ke depan yang harus dicontoh. Mereka yang mengajak kita untuk move on di tengah krisis, mereka yang mengajak kita untuk optimistis, mereka yang menularkan virus kerja, kerja, kerja.

Itulah yang dilakukan Komisaris Utama Jawa Pos Group Azrul Ananda. Bukannya tidak menghargai sejarah. Atau melupakan para pelaku sejarah yang membangun Jawa Pos. Dia lebih realistis.

Sepulang dari menempuh pendidikan di Amerika Serikat, dia membawa ide dan semangat baru. Sempat diragukan, namun inovasi dan kreativitas yang ditularkannya membawa perubahan. Lebih fresh dan jreng. Mulai dari produk Deteksi, Mading, hingga Zetizen. Menurut survei Roy Morgan, readership Jawa Pos pun menjadi yang tertinggi di Indonesia. Padahal, Jawa Pos adalah koran yang bermarkas di Surabaya, bukan ibu kota Jakarta.

Spirit untuk membuat perubahan itulah yang harus ditumbuhkan di Batam. Tidak hanya masalah ekonomi, namun mencakup semua aspek. Mulai dari sumber daya manusia (SDM), mental, hingga semangat kerja.

Meski diadang krisis yang luar biasa dahsyatnya, namun lewat inovasi dan kreativitas, semua bisa dilalui.

Beberapa waktu lalu, saya bersama Manajer Iklan Batam Pos, Try Agus bertemu dengan Vice President Sales & Promotion Hypermart, Yoelius Saputra. Pria yang akrab disapa Gary itu masih muda. Lebih tua beberapa tahun dari saya.

Dia juga banyak bercerita soal kondisi ekonomi yang serba sulit seperti saat ini. Hampir di semua sektor. Kendati demikian, di internal mereka, virus kerja, kerja, kerja terus ditularkan. Hasilnya, Hypermart tetap kokoh dan perkasa. Bahkan, tetap menjadi rujukan bagi masyarakat untuk berbelanja.

Sama seperti yang dilakukan Azrul, salah satu kunci sukses yang ditularkan kepada kami adalah inovasi dan kreativitas. Menurutnya, tanpa “barang” bernama inovasi dan kreativitas, usaha tidak akan maju. Boleh dibilang, hanya dengan inovasi dan kreativitas itulah, kita dapat survive di tengah krisis ekonomi yang membelit.

So, pilihannya ada pada kita sendiri. Apakah akan tetap bernostalgia terhadap masa lalu, atau memilih untuk meninggalkan sejarah dan membuka lembaran baru.

Keputusan Anda akan sangat menentukan masa depan Batam ke depannya. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

 

Respon Anda?

komentar