Beginilah kondisi siswa SMPN 28 Batam saat kebanjiran. Foto saat terjadi banjir pada  Selasa (29/8/2017). Foto Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Saat hujan ataupun panas, siswa seharusnya dapat belajar dengan nyaman dan aman di sekolahnya. Tapi itu tak berlaku di SMPN 28 Batamkota, setiap kali hujan datang perasaan was-was selalu menghinggapi guru ataupun muridnya.

Iklan

Sebab bila hujan deras dengan rentang waktu lama, mereka harus bersiap-siap untuk mengakhiri proses belajar mengajar. Karena air akan masuk ke dalam ruang-ruang belajar, sehingga menganggu proses tersebut.

Selasa (19/9) lalu, hujan deras mengguyur Kota Batam. Dalam jangka waktu 15 menit saja, air langsung ruang belajar SMPN 28. Padahal saat itu beberapa kelas sedang ada ulangan. “Lagi ulangan Matematika,” kata Arafah siswa SMPN 28 kelas 8 D, Selasa (19/8).

Ia mengatakan ulangan harus cepat-cepat diselesaikan, karena air sudah mulai memasuki ruang belajar. Hujan terus mengguyur, membuat guru-guru menghentikan proses belajar mengejar. Karena air sudah menggenangi ruang kelas.

Dari pantauan Batam Pos setidaknya ada 7 kelas plus ruangan guru, digenangi air. Beberapa siswa mencopot sepatunya dan menggulung celana hingga selutut. Lalu kursi-kursi diletakan diatas meja, begitu juga dengan tas mereka yang semulanya diletakan dilantai.

Suasana riuh pun terjadi, karena aktivitas menaikan bangku, tas dan sepatu ke atas meja. Kegiatan ini otomotasi menyedot perhatian siswa lainnya yang kelasnya tak tergenang air. Bangunan baru yang terletak di sisi kanan sekolah, tak tergenang air. Bangunan baru tersebut dirancang anti banjir. Tapi sayap kiri sekolah, terdiri dari jejeran bangunan lama. Yang tak terlalu memperhatikan aspek banjir.

Bangunan sisi kiri inilah yang yang selalu menjadi langganan banjir setiap saatnya. Begitu juga dengan ruang guru, tentunya halaman sekolah yang selalu jadi kolam dadakan saat hujan menlanda kawasan Batamkota.

Guyuran hujan berlangsung dari pukul 10.00 hinga 12.00. Sejak pukul 10.00 inilah, proses belajar mengajar terhenti. Anak-anak kelas 8 dan 9, sudah tak heran atau kaget lagi dengan kondisi sekolah mereka. Karena memang begitu adanya, saat hujan.
“Udah biasa om,” ujar Putra, siswa kelas 9.

Sehingga saat hujan terjadi dipagi hari, Putra selalu menggunakan sendal. Sedangkan sepatunya disimpan dalam tas. Karena sudah tau, dirinya bakal melewati kolam dadakan di halaman sekolahnya.

“Pakai sendal, celana digulung, biasanya gitu om. Kalau hujan sejak pagi, saya sudah siap-siap dari rumah,” ujarnya.

Putra berharap, sekolahnya dapat seperti sekolah lain. Saat hujan mereka tak perlu takut akan banjir, sehingga bisa belajar dengan tenang. “Kalau udah hujan, kami semua pada melihat ke luar ruangan. Air yang membanjiri halaman sekolah sudah tinggi apa belum. Akibatnya gak belajar lagi,” ungkapnya.

Hal yang ini diamini oleh Dimastian, siswa kelas 9. Dan setelah hujan reda. Kegiatan belajar mengajar juga tak berlanjut. Karena para siswa membereskan bekas air yang masuk ke dalam ruangan sekolah. Lalu juga halaman sekolah, berceceran sampah-sampah yang dibawa oleh arus air.

Ada siswa yang mengepel lantai ruangan belajar, lalu ada juga yang mengangkat sampah-sampah yang berceceran di halaman sekolah. Proses membersihkan ini berlangsung hingga, anak-anak pulang sekolah.

Kepala Sekolah SMPN 28 Boedi Kristijorini, tak bisa berbuat banyak atas hal ini. Boedi hanya bisa pasrah. Karena kejadian ini bukan kali pertama, tapi terus berulang setiap saat. Sudah beberapa kali sekolah tersebut didatangi pejabat-pejabat Pemko Batam hingga Provinsi Kepri. Tapi belum ada solusi nyata atas hal ini.

Padahal tak lama akan diadakan ujian sekolah. Apabila saat itu hujan, tentu akan memecahkan konsentrasi anak-anak. Dan tentu mempengaruhi nilai anak-anak tersebut.

Boedi mengatakan bahwa untuk penanganan banjir disekolah ini, baru dicanangkan pada anggaran 2018. “Kabarnya begitu pak, tapi saya kurang tau pasti,” ucapnya.

Ia menuturkan pihaknya juga belum tau, dana yang dianggarkan untuk solusi seperti apa untuk SMPN 28. “Kondisi saat ini pak, diperparah adanya drainase yang tertutup. Sehingga aliran air tersumbat. Sehingga saat hujan beberapa menit saja, air sudah menggenang,” tuturnya.

Ia berharap dinas terkait datang mengecek hal ini. Sehingga drainase tersebut bisa diperbaiki, dan aliran air bisa lancar. “Kalau airnya lancar, air menggenangi sekolah jadi agak lama,” ujarnya singkat. (ska)