Wakil Ketua KPPAD Kepri Eri Syahrial memperlihatkan data hasil tes urine dari 110 pelajar yang dilakukan oleh Rehabsos Sado Karimun. F. Tri Haryono/Batam Pos.

batampos.co.id – Wakil Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri Eri Syahrial, kaget dengan maraknya para pelajar Karimun yang menggunakan narkoba. Dari hasil data yang disampaikan oleh Yayasan Rumah Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Sado Karimun, dari 110 pelajar yang menjalani tes urine, 20 persen di antaranya positif mengonsumsi narkoba.

“Tes urine yang dilakukan Rehabsos Sado Karimun ini baru sebagian. Mengerikan, data ini menunjukan maraknya narkoba di Karimun yang sudah masuk ke pelajar tingkat SMP dan SMA sederajat. Dan ini terbukti, bahwa Kepri menjadi salah satu pintu masuk barang haram,” ujarnya.

Dia meminta kepada pemangku kebijakan dalam hal ini Kepala Daerah, agar segera melakukan pemetaan kondisi para pelajar di Karimun dan pencegahan terhadap bahaya narkoba. Artinya harus dilakukan tes urine yang lebih valid lagi terhadap para pelajar di Kabupaten Karimun. Tujuannya untuk mendapat data sejauh mana kerentanan bahaya narkoba yang masuk di kalangan pelajar.

Agar bisa dilakukan penangganan maupun rehabilitasi secepat mungkin terhadap korban narkoba di kalangan pelajar, baik itu oleh Sado, BBN dan sebagainya. Tapi, korban narkoba para pelajar identitasinya harus dilindungi termasuk asal sekolah.

“Dinas Pendidikan harus cepat merespon. Serta partisipasi orang tua yang sangat penting terhadap keterbukaan apabila anaknya terjerat narkoba,” harapnya.

Sebab, kata Eri lagi, pihaknya beberapa tahun lalu telah mengusulkan agar dibentuk KPPAD Karimun agar bisa melakukan pengawasan terhadap anak-anak yang skupnya cukup luas. Tidak ada alasan lagi bagi Pemkab Karimun untuk tidak membentuk KPPAD Karimun.

“Kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang. Salah satu indikator kota layak, harus ada satu lembaga KPPAD Karimun. Dan bisa dimasukkan dalam Perda Perlindungan Anak yang sedang dibahas sekarang, dapat disisipkan dalam pasal pembentukan KPPAD Karimun. Seperti Anambas, Bintan, Natuna, Lingga sudah terbentuk KPPAD dan Batam dalam tahap pembentukan,” ucapnya.

Sementara itu Linda Theresia pembina Rehabsos Sado Karimun memaparkan, sejak Januari hingga Agustus 2017 ini sudah dilakukan tes urine terhadap para pelajar yang bermasalah di sekolah mencapai 110 pelajar.

“Hasil tes urine cukup mencegangkan, selain positif narkoba, ada juga pelajar yang sudah terkena penyakit kelamin,” ungkapnya.

Dari 110 pelajar yang sudah dilakukan tes urine, hanya 19 pelajar yang dilakukan rehabilitasi oleh Rahabsos Sado Karimun. JUmlahnya sedikit karena banyak orang tua tidak percaya bahwa anaknya positif menggunakan narkoba. Sebagian besar oang tua murid menolak anaknya menjalani rehabilitasi.

“Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Pendidikan Karimun datang ke sekretariat kita, agak kesal terhadap pemberitaan beberapa waktu lalu. Dan saya bilang jangan ditutupi, ini fakta nyata di lapangan. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sidang pengadilan terhadap anak kasus narkoba yang sudah di vonis 1,2 tahun,” kata Linda. (tri)

Respon Anda?

komentar