Para tamu dan kerabat melayat jenazah Heng Ngie Huang/Minah saat disemayangkan di Rumah Duka Batu Batam, Jumat (22/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Meninggalnya Nyoya Tan A Kie atau Minah pada Kamis (21/9) lalu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat. Di mata anak-cucunya, Minah merupakan sosok yang selalu menjadi panutan terbaik bagi keluarga.

“Di sela kesibukannya di berbagai kegiatan, beliau tetap mengutamakan perhatian kepada anak-anak dan suaminya,” ujar putra sulung almarhumah, Randy Tan, saat ditemui di Rumah Duka Marga Tionghoa Batu Batam, Jumat (22/9).

Bagi pria yang menjadi Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Batam ini, alamarhumah juga merupakan sosok pebisnis yang ulet dan andal. Banyak ilmu dan inspirasi bisnis yang ia dapatkan dari mendiang ibundanya itu.

“Ia adalah business woman yang sangat saya hormati,” kenang Randy.

Begitu juga bagi adik kandung Randy, Danir Tan. Sosok seorang ibu begitu kuat melekat pada almarhumah. “Sesibuk apapun beliau, keluarga tetap utama. Perhatiannya, kerja keras, dan keuletannya membuat kami begitu merasa kehilangan,” tuturnya.

Seperti diketahui, kabar duka itu datang pada pukul 18.00, Kamis (21/9) lalu. Minah menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif di RS Budi Kemuliaan (RSBK) Batam.

Sebulan sebelum ibundanya berpulang, Randy Tan mengaku sudah memiliki firasat bahwa sang ibu akan segera meninggalkannya untuk selamanya. Firasat itu datang lewat mimpi. “Ada hal buruk terjadi sama Ibu,” ujar Randy

Bagi Randy, firasat itu terasa begitu nyata. Sehingga ia langsung menceritakannya kepada para saudara dan kerabat. Bahkan kerabat yang jauh diminta datang ke Batam. “Supaya bisa kumpul bersama,” ungkapnya.

Randy mengaku sangat dekat secara pribadi dengan sang ibunda, selama masih hidup. Sehingga dia paham betul soal penyakit yang diderita sang ibu selama 10 tahun belakangan.

Ia mengatakan, sebelum dipanggil sang pencipta, almarhumah menderita sakit progressive supranuclear palsy (PSP) yang merupakan penyakit yang berawal dari kerusakan sel saraf di otak.

“Kelainan otak yang tidak biasa yang mempengaruhi pergerakan, seperti keseimbangan berjalan, ucapan, dan perilaku. Hingga berujung kelumpuhan lalu merusak bagian otak,” papar Randy.

Penyakit tersebut terbilang langka. Randy dan keluarga bahkan tidak mengetahui apa penyebab datangnya penyakit akhirnya merenggut nyawa sang ibunda. “Sampai sekarang pun belum ada obat yang pasti untuk menyembuhkan penyakit PSP ini. Yang jelas ini bukan penyakit turunan,” sebutnya.

Pantauan Batam Pos, ucapan duka terus berdatangan di Rumah Duka Marga Tionghoa Batu Batam, kemarin. Selain keluarga dan kerabat, tampak sejumlah anggota DPRD Kota Batam yang ikut melayat. Antara lain Hendra Asman, Jefri Simanjuntak, Muhammad Yunus, dan lainnya.

“Beliau ini tokoh perempuan yang aktif di kegiatan kemanusiaan. Ia banyak mengajarkan kebaikan, menasihati kami yang lebih muda darinya,” kenang Hendra Asman.

Hingga saat ini jenazah Minah yang meninggalkan suami, 5 anak, 4 menantu, dan 19 cucu ini, disemayamkan di Blok H Rumah Duka Marga Tionghoa Batu Batam. Selanjutnya, jenazah akan dikebumikan di Pemakaman Umum Seitemiang pada Senin (25/9) mendatang sekira pukul 14.00 WIB. (nji)

 

Advertisement
loading...