Iklan
Ratusan peserta berfoto bersama narasumber pada Seri kelas Keuangan UKM Kreatif yang diselenggarakan oleh Bekraf di Hotel Aston Tanjungpinang, Senin (25/9). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjungpinang, Reni Yusneli menilai pengembangan pariwisata di Tanjungpinang berbeda penanganannya ketimbang kabupaten Bintan. Bintan, kata Reni, dianugerahi pesona alam yang indah dan memudahkan menarik minat wisatawan untuk datang. Sedangkan Tanjungpinang justru berbeda.

Iklan

“Tapi bukan berarti tak bisa dikembangkan. Tanjungpinang bisa mengandalkan produk kuliner dan cenderamatanya,” kata Reni, pada pembukaan pelatihan pengelola UMKM bersama Badan Ekonomi Kreatif RI, di Hotel Aston, Senin (25/9) kemarin.

Pelatihan yang dilakukan ini, sambung Reni, perlu disambung baik oleh para pengelola UMKM. Sebab dari sini diharapkan akan timbul produk-produk UMKM yang bisa turut mendukung kegiatan kepariwisataan di Tanjungpinang.

“Sekarang kan wisatawan itu kalau ke suatu daerah, pertama pasti makan, kedua cari oleh-oleh. Pasar ini yang sangat terbuka bagi seluruh UMKM yang ada di Tanjungpinang,” kata Reni.

Reni mengharapkan pula, ke depannya juga pemerintah daerah bisa turut membantu pembinaan dan pengembangan UMKM. “Kami ingin kalau bisa bukan sekadar industri rumahan, tapi ikut mendukung pariwisata,” ujar Reni.

Pada pelatihan yang ditaja Bekraf RI kemarin, ada 100 UMKM lintasniaga yang berpartisipasi. Deputi Bekraf RI, Yuke Sri Rahayu mengatakan, sebenarnya ada lebih banyak peserta yang ingin hadir, tapi setelah diseleksi, hanya dipilih 100 UMKM saja.

“Ini menunjukkan animo yang cukup tinggi para pengelola UMKM di Tanjungpinang,” kata Yuke.

Salah satu tugas yang harus dibenahi para pengelola UMKM, kata Yuke, adalah perihal laporan keuangan yany rapi dan sistemik. Dengan laporan seperti itu akan memudahkan bagi para pengelola untuk mengajukan permohonan bantuan modal ke bank.

“Makanya, jangan sampai lagi terjadi adanya campur aduk antara uang pribadi dan uang usaha,” ujar Yuke.

Dalam pelatihan tersebut, para pengelola UMKM juga diajarkan mengenai aplikasi akuntasi yang bisa diakses dari gawai. Sehingga harapannya, tidak ada lagi keluhan karena dirasa membuat laporan keuangan itu susah dan merepotkan.

“Jadi dengan begitu pembukuan bisa dilakukan dengan mudah dan kapan saja,” pungkas Yuke. (aya)