Iklan
Petugas Telkomsel bersiap memasang BTS Combat di Anambas, beberapa waktu lalu. Foto: dok. Telkomsel untuk Batam Pos

Teknologi informasi kini berkembang pesat. Berbagai lini kehidupan bahkan sudah tersentuh layanan berbasis digital. Namun, ternyata masih ada daerah di garis terdepan yang terisolir dari perkembangan teknologi informasi. Salah satunya Kepuluan Anambas. Masih banyak desa yang hampa jaringan selular.

Iklan

MUHAMMAD NUR-SYAHID, Anambas

PRIA itu menatap tajam layar gawai pintarnya. Pandangannya tertuju pada bagian atas layar. Pas di bar sinyal. Sesekali ia angkat ke atas. Lalu ia goyang-goyangkan telepon selularnya itu.

“Aduh, sinyal lemah, hilang timbul,” ujar pria bernama Azhar itu sambil terus memperhatikan bar sinyal telepon genggamnya, akhir pekan lalu, saat ia berada di Pelabuhan Matak Kecil, Kecamatan Palmatak, Anambas, Kepulauan Riau.

Ia kemudian berlari kecil menuju ujung dermaga. Tingkahnya masih sama. Menatap layar telepon seluar (ponsel) miliknya. Berharap mendapat sinyal. Ia tampak tersenyum saat melihat ada dua bar sinyal dari operator selular Telkomsel muncul di layar gawainya. Pria 40 tahun yang bekerja sebagai tukang bangunan itu pun langsung menelepon seseorang.

“Sinyal ada, tapi terlalu lemah karena mengandalkan biasan dari tower di Tarempa,” ujarnya, usai menelepon. Namun ia merasa bersyukur, karena Telkomsel satu-satunya operator selular yang sinyalnya menembus hingga Matak Kecil.

Warga Matak Kecil ini mengakui menggunakan layanan Telkomsel untuk berkomunikasi. Sebagai tukang yang tinggal di wilayah kepulauan, keberadaan sarana telekomunikasi sangat vital baginya. Apalagi, ia sering mendapatkan proyek membangun rumah dari pulau satu ke pulau lainnya di Anambas.

Terkadang ia menyepakati harga untuk tipe rumah tertentu cukup melalui komunikasi di ponsel. Sehingga, ia tinggal berangkat ke pulau yang dituju membawa perlengkapan tukang dan pekerjanya.

Namun ia menghadapi kendala saat lokasi proyek di desa yang belum terjangkau sinyal operator selular. Apalagi pulau-pulau terluar. Harus bertemu langsung dengan calon konsumennya. Butuh waktu biaya besar karena harus menyewa speedboat. Pengiriman logistik dan bahan bangunan juga kadang terkendala karena komunikasi yang sulit.

“Walaupun kami mendapatkan lemparan sinyal Telkomsel dari wilayah di pulau lain, Kami berharap paling tidak di pelabuhan Matak Kecil ini ada tower selular, karena aktivitas masyarakat di pelabuhan ini cukup padat, termasuk pelabuhan penting bagi warga Matak Kecil dan sekitarnya,” ujarnya.

***

Kepulauan Anambas adalah kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau. Ibukotanya Terempa. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2008. Hasil pemekaran dari Kabupaten Natuna.

Badan Pusat Statistik mencatat, Anambas terdiri dari enam Kecamatan, yaitu Kecamatan Siantan, Kecamatan Siantan Timur, Kecamatan Siantan Selatan, Kecamatan Palmatak, Kecamatan Jemaja, Kecamatan Jemaja Timur, dan Kecamatan Siantan Tengah.

Luas Anambas mencapai 46.667 km persegi. Namun 97 persen wilayahnya laut. Selebihnya daratan yang terdiri dari 255 pulau. Baru 26 pulau berpenghuni. Jumlah penduduknya mencapai 500 ribu jiwa. Tersebar di 26 pulau tersebut. Siantan, Palmatak, dan Jemaja adalah tiga pulau terbesar.

Anambas juga salah satu tapal batas NKRI karena berbatasan langsung dengan Laut China Selatan atau yang kini disebut Laut Tiongkok Selatan. Perairannya terbilang strategis karena dilalui 90 persen kapal internasional.

Anambas tak hanya strategis dan tapal batas NKRI, tapi juga salah satu kepulauan tropis yang indah. Bahkan pada 2013, CNN menempatkan Pulau Bawah, salah satu gugusan pulau di Anambas sebagai kepualauan terindah di Asia. Mengalahkan Koh Chang dan Similian di Thailand, Langwaki di Malaysia, dan Halong Bay di Vietnam.

Lautnya yang biru dan hamparan pasir putihnya bertebaran di semua pulau. Lengkap dengan laguna atau danau air laut di lautan lepas. Ditambah gugusan pulau yang tampak saat air surut, terhubung pasir putih satu sama lainnya, namun terpisah dari pulau utama.

Anambas juga memiliki banyak spot menyelam untuk menikmati aneka biota laut dan karang yang masih alami. Juga salah satu habitat penyu. Khususnya di Pulau Keramut dan Pulau Mangkai. Belum lagi hasil lautnya yang melimpah. Paling terkenal ikan Napoleon yang harga satu kilonya menembus angka jutaan rupiah.

Pulau lainnya yang menarik dikunjungi antara lain Pulau Penjalin di Kecamatan Palmatak, Pulau Selat Rangsang, Pulau Durai, gugusan Pulau Bawah, Pantai Tanjung Momong dan Pasir Manang di Pulau Siantan, dan lainnya.

***

Salah satu bagian Pulau Bawah, Anambas. foto:syahid/batampos

Kepala Bidang Penyelenggaraan E-Government Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas M. Ari Sofian mengatakan, potensi hasil laut dan wisata alam Anambas sangat luar biasa. Namun persoalan transportasi dan jaringan komunikasi membuat potensi itu tak muncul di permukaan.

Ia sangat berharap operator selular Telkomsel terus memperluas jangkauannya, meski secara bisnis belum menguntungkan karena jumlah penduduk yang kecil dan wilyahnya kepulauan.

“Kalau layanan komunikasi lancar, termasuk layanan datanya, maka potensi Anambas akan mudah dikenal dunia,” ujarnya, Selasa (26/9).

Ari mengakui, Telkomsel merupakan salah satu provider yang jangkauannya paling luas di Anambas, dibandingkan operator selular lainnya. Khususnya di tiga kecamatan besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, yakni Kecamatan Jemaja, Palmatak, dan Siantan.

Dari jumlah tower atau BTS (Base Transceiver Station ) reguler juga paling banyak dibandingkan tower oprator lain. Tower reguler ada enam. Masing-masing satu di Tarempa, satu di Antang, satu di Kusik, satu di Jemaja, satu di Palmatak dan satu di di desa Kecamatan Siantan Tengah. Kemudian ditambah dua tower, satu tower monopol dan tower combat di Tarempa.

“Kalau jumlah pelanggan, yang paling banyak telkomsel. Hampir semua kecamatan sudah terjangkau,” ungkap Ari.

Ia juga mengungkapkan Telkomsel akan menambah dan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat di Kepulauan Anambas. Melalui anak perusahaannya, PT Mitratel, berhasil memenangkan tender program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Balai Penyedia dan Pengelolaan Pembiayaan Telekomunikasi Informatika (BP3TI) tahun 2017, yakni program Kewajiban Pelayanan Universal Services Obligation (KP USO). Program ini dikenal juga dengan nama Palapa Ring.

“PT Mitratel akan membangun 13 tower lagi di Anambas,” ungkapnya lagi.

Ke-13 tower tersebut akan dibangun di Desa Mengkait Kecamatan Siantan Selatan, Desa Munjan Kecamatan Siantan Timur, Desa Air Putih Kecamatan Siantan Timur, Desa Serat Kecamatan Siantan Timur, Dusun Penebung Desa Air Putih Kecamatan Siantan Timur, Dusun Teluk Durian Desa Teluk Bayar Kecamatan Palmatak, Desa Belibak kecamatan Palmatak, Desa Batu Belah kecamatan Siantan Tengah, Desa Tarempa Selatan Kecamatan Siantan, Desa Landak kecamatan Jemaja, Desa Rewak Kecamatan Jemaja, Desa Mampok Kecamatan Jemaja, dan di Desa Ulumaras Kecamatan Jemaja Timur.

“Kita usulkan 12 titik tower tapi Alhamdulillah dapat 13 titik tower. Semuanya sudah dalam proses pengerjaan, targetnya tahun ini selesai,” ungkap Ari yang mengaku mendapatkan laporan dari Mitratel.

Diakuinya, jika 13 tower yang dibangun tersebut berbeda dengan tower reguler. Jangkauan tower regular lebih jauh. Tapi jangkauan ke-13 tower yang baru dalam proses pembangunan tersebut hanya radius 2-3 km.

“Jika pembangunannya di tepi laut maka hanya dapat menjangkau dua sampai tiga kilo meter ke arah laut. Tapi kalau ini terealisasi sudah sangat menguntungkan,” ungkapnya.

Ari mengatakan masyarakat di 13 desa itu sangat bersyukur. Keberadaan tambahan tower itu nantinya paling tidak bisa mengurangi jumlah wilayah yang selama ini terisolir dari saluran telekomunikasi selular.

Ia juga besyukur Telkomsel mau memberikan perhatian wilayah terluar Indonesia itu, meski secara bisnis belum menguntungkan karena menggunakan satelit yang berbiaya mahal.

“Paling tidak semua wilayah vital yang jadi konsentrasi masyarakat bisa terjangkau sinyal Telkomsel, termasuk di kawasan pelabuhan Matak Kecil di Kecamatan Palmatak,” ujarnya.

Ari yakin, ekonomi masyarakat di 13 desa tersebut akan semakin maju jika kelak terjangkau sinyal Telkomsel. Apalagi setiap desa ada pelabuhan yang menjadi lalulintas barang dan penduduk dari satu pulau ke pulau lainnya. Dan belum ada operator lainnya yang menyediakan layanan telekomunikasi sebanyak yang telah dilakukan Telkomsel untuk masyarakat di Anambas.

“Selama ini masyarakat Anambas khususnya di tiga kecamatan besar itu sudah sangat merasakan manfaat keberadaan Telkomsel. Tapi kami berharap ke semua pulau berpenghuni dan beberapa pulau tak berpenghuni tapi tapal batas NKRI,” ujarnya.

Dari aspek keamanan perairan Anambas, khususnya yang berbatasan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan, juga sangat penting. Sekecil apapun pelanggaran kedaulatan negara oleh pihak asing, bisa dengan cepat dilaporkan warga yang mayoritas nelayan.

Bukan hanya itu, sekolah juga termasuk objek vital yang memerlukan sinyal yang memadai. Namun yang terjadi di Anambas, masih banyak sekolah yang tidak terjangkau sinyal sama sekali.

“Kami juga berharap semua sekolah nanti bisa terjangkau sinyal Telkomsel, agar anak-anak Anambas juga bisa semaju anak-anak di perkotaan,” ujarnya.

Selain itu, semua rumah sakit dan puskesmas, harapannya juga bisa dijangkau layanan Telkomsel. Tujuannya, jika ada warga yang membutuhkan pelayanan medis serius, bisa dengan cepat dilakukan tindakan dengan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Lebih dari itu, pariwisata Anambas bisa tumbuh pesat, jika semua objek wisata potensial di Anambas terbuka dari isolasi komunikasi. Ari yakin wisatawan asing akan membanjiri Anambas jika persoalan komunikasi dan transportasi beres.

“Kuncinya memang di komunikasi dan transportasi. Jadi, kami benar-benar berharap besar pada Telkomsel, karena kami melihat Telkomsel yang paling serius menjangkau pulau-pulau terluar di tapal batas NKRI,” ujar Kepala Dinas Kominfo dan Statistik, Jeprizal, menambahkan.

Ari memaklumi, perjuangan Telkomsel membuka isolasi komunikasi di tapal batas NKRI di Anambas tidak mudah karena wilayahnya kepulauan dan belum ada jaringan fiber optik. Sehingga terpaksa mengandalkan satelit yang berbiaya mahal. Namun sebagai operator pelat merah, Ari yakin Telkomsel tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan dan jangkauannya, demi NKRI.

“Kalau bukan Telkomsel siapa lagi, yang di bawah BUMN hanya Telkomsel, tak mungkin provider lain,” katanya.

Corporate Communication Telkomsel Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng)  Agus Winarto membenarkan kalau Telkomsel adalah operator selular dengan jangkauan terluas seluruh Indonesia, termasuk di Anambas.

“Dibandingkan operator lain, Telkomsel jauh lebih baik di Anambas. Jangkauan kami lebih luas dan infrastruktur kami lebih banyak,” katanya.

Namun ia mengakui untuk membuka simpul-simpul desa, pulau-pulau, hingga tapal batas NKRI di Natuna yang masih terisolir jaringan selular, Telkomsel membutuhkan waktu. Tidak semudah yang dibayangkan. Namun, jika program pemerintah yang menghubungkan semua wilayah dengan fiber optik rampung, khususnya yang dari Kalimantan ke Natuna dan Anambas, maka akan semakin banyak daerah terisolir di Anambas bisa dijangkau Telkomsel.

“Tapi sekali lagi, saat ini Telkomsel masih yang terbaik di Anambas, tegas Agus. ***