Iklan
Petugas melakukan fogging di daerah Batu 8 Tanjungpinang, belum lama ini. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu golongan penyakit menular utama di Kota Tanjungpinang. Namun ketika DBD masih endemis Ibu Kota provinsi, kasusnya justru mengalami penurunan, selama Januari hingga September ini.

Iklan

“Penurunan memang sangat signifikan dibandingkan pada tahun lalu,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam, saat di ruang kerjanya kemarin.

Sejak Januari hingga jelang penutupan bulan September ini, terdata 61 kasus DBD yang terjadi di Kota Tanjungpinang. Penurunan jauh terlihat jika dibandingkan data tahun sebelumnya yang mencapai angka 300 kasus.

Kendati angka pada kasus penyebaran DBD terlihat mengalami penurunan, Rustam masih memperingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai gigitan nyamuk aides agyptie ini. Peringatan yang disampaikan Rustam berkaitan dengan dua fakta yang masih terjadi.

“Ini berkaitan dengan angka bebas jentik dan cuaca pada akhir tahun,” ujar Rustam.

Melihat angka bebas jentik Kota Tanjungpinang, dinilai Rustam, masih diperlukan kerja keras bersama untuk menekan angkanya. “Saat ini angka bebas jentik Tanjungpinang, masih 85 persen. Sementara agar tak terjadi penyebaran itu harusnya mencapai 95 persen,” terang dia.

Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah baik bagi tenaga medis. Terlebih kalangan masyarakat. Yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan bahaya jentik yang memicu tingginya kasus DBD yang dapat terjadi.

Dengan alasan tersebut, Dinkes Tanjungpinang pun lantas mengerahkan adanya pengawasan jentik di tiap-tiap rumah warga. Dengan gerakan, satu rumah satu jumantik.

“Tiap keluarga punya kewajiban memantau dan mengendalikan jentik. Dan tiap bulannya akan ada jumantik kelurahan yang mengontrol ke rumah-rumah,” papar Rustam.

Hal ini dinilai efektif. Dikarenakan jumantik di masing-masing keluarga dapat memantau jentik hampir setiap hari. Dan didukung dengan kehadiran jumatik kelurahan, mampu meningkatkan pengawasan persebaran jentik di tiap kelurahan.

Selain memperhatikan angka bebas jentik. Kewaspadaan masyarakat juga perlu ditingkatkan pada bulan-bulan jelang akhir tahun. Dikarenakan keadaan cuaca yang kerap kali terjadi hujan terus menerus.

“Yang kami khawartirkan adanya peningkatan kausus justru di bulan-bulan “ber” terakhir ini. Makanya mulai saat ini, masyarakat harus tingkatkan kewaspadaan pada nyamuk bahkan pada jentik,” pungkas Rustam. (aya)