batampos.co.id – “Tak perlu menjual kemewahan kepada wisatawan asing. Negara mereka lebih mewah daripada kita. Jual keunikan yang tak dipunyai di negara mereka. Dengan begitu pasti mereka tertarik datang dan datang lagi.”
Itulah kiat sukses Tek Po -atau yang biasa disapa Abi- dalam memoles kawasan Bengkong Laut dari kawasan kumuh menjadi destinasi wisata terpadu yang kini terkenal hingga ke mancanegara.
Menurutnya, melengkapi apa yang dibutuhkan wisman, mulai dari wisata alam hingga atraksi khas, tak hanya menarik wisatawan datang. Tapi akan membuat wisman ketagihan, sehingga datang berulang kali.
“Bagaimana membuat mereka tak bosan berkunjung berulang kali ke Batam. Itu yang harus disiapkan,” ujar Abi kepada Batam Pos, Jumat (29/9).
Abi memang sukses mengkreasi (man made) secara mandiri objek wisata miliknya di Bengkong. Abi berhasil memadukan man made, culture, dan nature. Semuanya dikreasi di satu kawasan Golden Prawn Bengkong. Wisman yang datang di satu lokasi, bisa menikmati banyak objek dan atraksi wisata.
“Lihat patung putri duyung itu, setiap turis yang berkunjung ke sini akan selalu tertawa melihatnya,” ujar Abi sambil tertawa.
Patung putri duyung yang terdampar di kolam itu memang unik dan cenderung menggelikan. Berbeda dengan patung pturi duyung umumnya, patung hasil kreasi Abi itu dibuat dengan karakter waria.
“Ini jadi spot foto menarik bagi wisman. Kata mereka unik,” katanya.
Pria kelahiran Duriangkang ini mengkreasi sesuatu yang unik secara otodidak. Bermula atas kesukaannya pada keindahan dan keunikan. Apalagi sejak muda ia telah berkomitmen membangun tanah kelahirannya ini.
Abi pun menyulap 35 hektare kawasan kumuh di ujung Bengkong menjadi kawasan wisata. Abi bahkan kini mempekerjakan warga sekitar yang jumlahnya sudah lebih dari 1.000 orang. Aada yang ditempatkan di hotel, restoran, hingga objek wisata lainnya. Termasuk di wahana olahraga di kawasan tersebut.
“Saya lahir di Batam, saya harus buat sesuatu yang berguna. Lewat pariwisata ini cita-cita saya tercapai. Wisatawan asing ramai kemari. Apalagi kalau weekend,” katanya.
Kawasan wisata ini ia kembangkan sejak 15 tahun lalu. Diawali membangun restoran Golden Prawn yang menyediakan berbagai jenis menu makanan laut khas Batam. Kemudian membangun hotel dan resort Golden View.
“Saya juga membangun kerja sama dengan para travel agent di Batam, Singapura, Malaysia, dan Vietnam,” ujarnya.
Kunjungan turis pun makin meningkat. Lalu didorong keinginan mengatasi tingkat jenuh pengunjung, Abi membangun berbagai wahana seperti arena outbond, cable sky, taman pancing, pujasera, pasar seni, taman miniatur Indonesia, kios batik dan oleh-oleh, restoran etnik, dan masjid khas Cheng Ho.

Kini Abi juga tengah membangun panggung permanen untuk pertunjukan. Kemudian Golden Layers Cake, pusat kuliner, hingga membangun 146 unit kios khusus kuliner nusantara yang kini siap ditempati.
Membangun kawasan wisata, kata Abi, tak melulu membangun objeknya saja. Melainkan turut serta menyediakan fasilitas pendukung di dalamnya. Termasuk tempat atraksi, pengenalan budaya seperti rumah warisan kuda lumping, Masjid Cheng Ho, dan lainnya. Bahkan tarian nusantara apapun yang diinginkan wisman, bisa dihadirkan Abi.
Abi bahkan melihat solusi paling bagus agar Batam tahan terhadap terpaan krisis global adalah fokus pada pariwisata. Sebab, sehebat apapun krisis yang terjadi, manusia tetap butuh rekreasi, butuh hiburan, butuh sesuatu yang bisa menghilangkan kepenatannya, juga makanan lezat dan minuman berkualitas namun terjangkau.
Abi tak menyalahkan jika pemerintah saat ini lebih fokus pada investasi asing di berbagai lini industri. Namun Abi mencatat, investor akan masuk jika prospek kawasan menjanjikan keuntungan. Sedikit saja persoalan yang menghambat mereka, akan beralih ke kawasan lain di negara tetangga yang banyak menawarkan insentif.
Kalaupun masuk dan berinvestasi di Batam, umumnya industri yang masuk ke Batam rentan krisis global. Ia mencontohkan galangan kapal yang kini lesu sejak harga minyak dunia anjlok.
Abi meminta pemerintah memberikan peluang besar untuk investor lokal. Bahkan di kawasan Iskandar Malaysia saja, porsi investor lokalnya lebih besar dari asing, sehingga tahan dari krisis. Saat Batam krisis, Iskandar Malaysia malah tumbuh pesat.
“Saya setuju juga kalau wisata bahari atau alam dikembagkan di tempat-tempat potensial, saya yakin hidup, buat semenarik mungkin, bukan akses ke sana,” katanya.
Sembari mengajak wartawan koran ini berkunjung ke salah satu wahana 3D The Illusion yang baru akhir tahun lalu dikembangkan, Abi juga mengatakan seluruh fasilitas dan wahana wisata yang ia kembangkan di Bengkong ini murni pemikirannya sendiri. Juga masukan dari keluarga dan sahabat terdekatnya.
“Tak ada dukungan dana dari pemerintah lah. Murni pemikiran sendiri. Pemerintah hanya sebatas perizinan saja seperti yang umumnya saja,” jelasnya.
Dia menambahkan, wisata itu investasi jangka panjang suatu kawasan. Harusnya pemerintah memberikan izin peruntukan lahan wisata dengan harga terjangkau. Apalagi yang baru membangun, investasi itu tak langsung kembali.
“Semua butuh proses, pemerintah harusnya berpikir memberi kemudahan izin. Dengan begitu saat semuanya siap, turis datang, pemasukan kawasan dan masyarakat setempat pun bertambah,” tutupnya. (cha)
