Ilustrasi

batampos.co.id – Nilai tukar rupiah terus melemah. Kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Senin (2/10), bertengger di angka Rp 13.499 per dolar AS (USD). Dalam beberapa pekan terakhir rupiah memang terus tertekan. Padahal pada 11 September lalu, kurs rupiah masih berada di level Rp 13.154 per USD.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, pergerakan rupiah cenderung melemah seiring penguatan laju USD yang merespons pelemahan euro (EUR). Ada kekhawatiran yang meningkat soal situasi politik di Spanyol yang kini menyelenggarakan referendum di wilayah Catalunya.

Pasar khawatir gagalnya suksesi pergantian kepemimpinan di Spanyol membuat laju EUR melemah. ’’Di sisi lain, adanya rilis inflasi September sebesar 0,13 persen di atas perkiraan tidak cukup membuat laju rupiah berbalik naik,’’ kata Reza.

Sentimen pelemahan EUR berdampak negatif pada pergerakan rupiah yang kembali melemah. Penguatan dolas AS (USD) akan lebih menarik perhatian pelaku pasar sehingga bisa memberikan tekanan pada rupiah.

Analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri menyatakan, jika rupiah telah menyentuh Rp 13.600 per USD, hal tersebut menjadi alarm. Bank Indonesia (BI) perlu hadir di pasar agar tekanan terhadap rupiah bisa mereda. ’’Kalau Rp 13.600 sudah lampu kuning,’’ jelas Reny.

Dalam jangka pendek, USD diperkirakan menguat karena Bank Sentral AS menyesuaikan neracanya. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, pasar juga mencermati kandidat Janet Yellen untuk menjadi gubernur Bank Sentral AS. ’’USD menguat terhadap mayoritas mata uang dunia menyusul kabar mengenai calon pengganti gubernur The Fed,’’ tuturnya. (rin/c15/noe/jpgroup)