
batampos.co.id – Perkumpulan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Kepri, menggelar Musyawarah Provinsi (Muspro) ke-IV untuk memilih kembali ketua PSMTI Provinsi Kepri, Sabtu (21/10) siang.
Musprov digelar di aula kampus Universitas Internasional Batam (UIB) yang dihadiri seluruh perwakilan PSMTI yang ada di kabupaten/kota di Kepri.
Pada Musprov ke-IV kali ini, ketua PSMTI Provinsi Kepri sebelumnya periode 2013-2017, Edy Hussy, kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin PSMTI Provinsi Kepri periode 2017-2021.
Edy Hussy berjanji, akan merangkul seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan kemajuan seluruh kota/kabupaten di Kepri melalui organisasi PSMTI.
“PSMTI ini merupakan salah satu paguyuban di Kepri yang dapat menjalin hubungan kekeluargaan atau istilahnya dengan seluruh elemen masyarakat di Kepri. Kami akan merangkul seluruh marga, suku, dan perkumpulan yang ada di Kepri yang harus kami rangkul untuk membuat bagaimana bisa berkontribusi positif ke masyarakat Kepri,” ujar Edy Hussy.
Sementara tujuan utama PSMTI sendiri fokusnya adalah di kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Hal tersebut, lanjut Edy Hussy, sudah berjalan baik dari awal sampai sekarang yang harus dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi oleh seluruh PSMTI yang ada di kabupaten/kota di Kepri.
Pada rencana kerja dalam waktu dekat ini, Edy Hussy akan mempersiapkan atau mencarikan ruko untuk dijadikan kantor PSMTI Kepri dalam berorganisasi sosial kemasyarakatan.
“Itu komitmen kami yang akan kami wujudkan, yakni menyiapkan kantor PSMTI Kepri. Kami juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kepri, khususnya di Batam yang menjadi pusat perekonomian Kepri, menjadi lebih baik dan menjaga agar perekonomian di Kepri tidak makin jatuh,” terang Edy Hussy.
Sementara Wakil Ketua Umum PSMTI Pusat, yang juga mantan Ketua PSMTI Kepri dua periode berturut-turut, Soehendro Gautama mengatakan, PSMTI di Kepri sendiri selama ini berjalan sangat baik tanpa ada permasalahan sedikitpun.
“Kami berharap PSMTI bisa merupakan salah satu organisasi yang menjadi perekat bangsa, bukan hanya terhadap suku tionghoa sendiri, tetapi juga menjadi bagian integral dari komponen bangsa,” ujar Soehendro Gautama.
Ia berharap, isu-isu santer mengenai SARA yang coba dihembuskan segelintir oknum yang sebenarnya itu merupakan kepentingan politik di belakangnya, masyarakat tak terpengaruh dengan hal itu. (gas)
