Minggu, 19 April 2026

Pembakaran Pompong Masih Diselidiki

Berita Terkait

Pompong nelayan asal Tambelan, Bintan dibakar massa di pasar ikan Kampung Pelimpak, Kelurahan Serasan, Kabupaten Natuna, Sabtu (21/10). F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Kapolres Natuna AKBP Charles Panuju Sinaga mengatakan, pasca pembakaran pompong nelayan di pulau Serasan pihaknya masih menyelediki secara intesif. Dibantu unsur masyarakat untuk membuat peristiwa tersebut lebih jelas.

“Kami hanya berharap, kasus pembakaran pompon ini bisa lebih jelas dengan bantuan dari lapisan masyarakat,” kata Charles, Selasa (24/10).

Polres katanya, masih mengumpulkan barang bukti dan alat bukti. Karena berdasarkan hasil rapat Polres, Camat dan warga Serasan yang dipimpin Camat setempat, semua masyarakat menginginkan hukum ditegakkan.

“Tentunya ini menjadi prioritas dengan memandang budaya kearifan lokal di Serasan. Kami juga fokus meminta keterangan saksi. Dan mengimbau semua masyarakat tetap komitmen untuk menjaga sitkamtibmas tetap kondusif,” sebut Charles.

Dikatakan Charles, semua pihak terliba dalam kerusuhan pembakaran pompong nelayan di Serasan masih tetap di Serasan, termasuk pemilik Pompong yang diketahui warga Tembelan dan warga nelayan yang terlibat kerusuhan.

“Intinya sekarang masih diselidiki, termasuk nelayan Tembelan yang memiliki bom ikan dan menggunakan kompresor untuk menangkap ikan, yang memicu pembakaran pompong warga,” sebut Charles.

Sebelumnya sebuah pompong nelayan di Kecamatan Serasan Natuna dibakar massa, dan meledak Sabtu (21/10) lalu. Pembakaran pompong nelayan asal Tambelan Bintan ini karena warga nelayan setempat melarang penggunaan kompresor untuk menangkap ikan atau menyelam diwilayah perairan Serasan.

Namun ketika pompong disulut api, pompong malah meledak. Warga menduga, nelayan juga menggunakan bom untuk menangkap ikan. Untung saat bom ikan meledak, warga disekitar menyelamatkan diri dari kerumunan yang tidak jauh dari pesisir pantai.

seperti diketahui, pembakaran pompong nelayan bukan pertama di Natuna, kejadian serupa sering terjadi di pulau Laut. Disebabkan penggunaan alat selam kompresor untuk menangkap ikan maupun tripang. Dibeberapa Kecamatan sudah menerapkan pelarangan alat tertentu bagi nelayan tradisional, agar tidak menyebabkan kerusakan terumbu karang.(arn)

Update