Hotel dan Apartemen baru bermunculan di Batam, Namun hal tak seiring dengan tingkat hunian. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Batam Batam mengatakan tingkat hunian masih dibawah lima puluh persen, kamis (26/10). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Wali Kota Batam Muhammad Rudi, menilai walau kini hotel dan apartemen baru bermunculan namun tak berarti properti menggeliat. Hal ini ia klaim terjadi seiring rencana pengembangan Batam, terlebih ke arah pariwisata.

“Bukan menggeliat tapi melihat perubahan yang akan kita ambil di masa akan datang, prospek bahasa kerennya,” kata Rudi, kemarin.

Ia mengatakan, kini walau pembangunan hotel dan apartemen bermunculan, tak akan berarti jika tak ada yang membeli atau yang menyewa.

Pada wae lah,” ucapnya.

Ia mengaku, kini okupansi hotel masih rendah. Namun demikian, ia mengklaim okupansi hotel ke arah yang lebih baik.

“Okupansi rendah tapi naik sedikit dibanding yang lama, ini yang mau kita kejar,” imbuhnya.

Menyongsong pengembangan Batam ke sektor pariwisata, pihaknya terus mempersilahkan hotel termasuk apartemen mengurus izin. Walau belum berdampak langsung, pembangunan dipercaya dapat memancing investor dan wisatawan ke Batam.

“Ada lima hotel dan apartemen, semua saya kasih izin, lanjut saja. Minimal dengan membangun orang akan bertanya, ada apa bangun hotel, mall, apartemen bayak banyak, dan akhirnya mereka akan yakin dan tahu ekonomi mulai tumbuh kembali,” paparnya.

Sementara, itu Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, J Tarigan tak menampik pembangunan hotel dan apartemen terus ada di Batam. Namun ia mengatakan ada persoalan lain setelah hotel beroperasi, menurutnya kini ekonomi belum sepenuhnya pulih.

“Memang banyak sih yang bangun, saat udah operasional masalahnya, okupansi kita masih dibawah 50 persen. Ngomong ini (keadaan hotel kini) istilahnya maju kena mundur kena,” kata dia.

Keadaan ini berdasar informasi hotel-hotel yang tergabung di PHRI. Okupansi rendah terjadi sejak 2016 lalu.

“Sebagai aktivis PHRI pasti komunikasi ke mereka tentang okupansi, memang rendah,” terangnya.

Bahkan, ada hotel yang tutup di bilangan Baloi dan Nagoya, Tarigan enggan menyebutkan hotel tersebut. Ditanya apakah okupansi rendah dan tutupnya karena hadirnya hotel non bintang atau melati, ia tegas mengatakan tak ada pengaruh.

“Saya kira nggak, bukan karena itu. Memang pergerakan orang ke Batam kurang,” ucapnya.

Namun pernyataan ini justru kontras dengan klaim Pemko Batam bahwa kunjungan wisatawan mancanegara naik. Ia membenarakan jika wisman banyak yang sekedar mampir namun tak nginap.

“Ia memang begitu (tak nginap),” katanya.

Namun ia mengapresiasi langkah pemerintah, baik Pemerintah Kota (Pemko) Batam ingin menggalakkan pariwisata. Ia menilai langkah ini bagus karean Batam punya potensi yang besar.

“Ini bagus sekali, pariwisata memang harus terus dikembangkan,” pungkasnya. (cr13)