Kamis, 30 April 2026

SMRS Jadi Pahlawan Nasional

Berita Terkait

Poster Sultan Mahmud Riayat Syah saat memimpin Kesultanan Lingga. F. Dok Batam Pos

batampos.co.id – Perjuangan Provinsi Kepri untuk menjadikan Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) III sebagai pahlawan nasional terwujudnya. Pasalnya, Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menetapkan SMRS III sebagai penerima gelar pahlawan nasional tahun 2017 ini.

“Alhamdulillah, kita syukuri anugerah tersebut. Semua berkat perjuangan seluruh elemen di Kepulauan Riau, khususnya Gubernur Kepulauan Riau dan Bupati Lingga,” ujar Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Kepri, Abdul Malik kepada Batam Pos, Jumat (27/10) di Tanjungpinang.

Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang tersebut memberikan penjelasan, bahwa SMRS III adalah usulan Provinsi Kepulauan Riau. Artinya bukan Provinsi Riau seperti berita yang beredar sekarang ini.

“Sayangnya, ada media yang menyebutkan Sultan Mahmud Riayat Syah berasal dari Riau. Mereka tak bisa membedakan Kepulauan Riau dan Riau. Akibatnya, beritanya jadi bersimpang siur,” papar Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMRAH tersebut.

Menurut Malik, tahun ini, Provinsi Riau tak diusulkan oleh Kemensos. Karena naskahnya belum memenuhi syarat. Masih kata Malik, pihaknya sejauh ini baru mengingkuti perkembangan di media. Artinya belum mendapatkan pemberitahuan secara resmi.

“Kita tentunya sangat berharap, apa yang disampaikan Pak Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu adalah sebuah kabar yang baik bagi kita,” jelas Malik.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kepri, Doli Boniara mengatakan sangat bersyukur dengan adanya kabar baik ini. Menurutnya, usulan tahun ini adalah kesepatan pamungkas yang dimiliki Provinsi Kepri. Dijelaskannya, berdasarkan penilaian TP2GP, SMRS III dari segala sisi layak untuk menyandang gelar pahlawan nasional.

“Perjuangan yang sudah kita lakukan bersama adalah untuk pertaruhan marwah. Karena ini adalah murni usulan dari Provinsi Kepri. Karena dua gelar sebelumnya ada campur tangan Provinsi Riau,” ujar Doli, kemarin.

Seperti diketahui, Sultan Mahmud Shah III merupakan sultan Johor-Riau-Lingga ke-16 pada 1761-1812 Masihi. Menurut sejarah, Raja Mahmud masih berusia setahun ketika dinobatkan sebagai Sultan menggantikan Sultan Ahmad Riayat Shah (Marhum Tengah) yang mangkat pada tahun 1761, dengan gelaran Sultan Mahmud Syah III.

Menurut sejarah, semasa pemerintahan Sultan Mahmud III, keadaan daerah takluk Baginda di Riau-Johor-Lingga-Pahang tidak aman kerana masalah perebutan kuasa antara puak Melayu dan Bugis berterusan. Pergolakan politik yang hebat berlaku yang melibatkan pihak Belanda. Dalam satu pertempuran antara Belanda dengan angkatan lanun dari Tempasok, Sultan Mahmud pura-pura membantu Belanda tetapi meriam yang digunakan untuk menyerang lanun tidak berpeluru. Akhirnya Belanda menyerah kalah di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dan terpaksa meninggalkan Tanjung Pinang tanpa membawa satu barang pun kembali ke Melaka.

Oleh kerana kuatir Belanda datang semula untuk menyerang balas, maka Sultan Mahmud beserta pembesar-pembesar baginda berangkat meninggalkan Kepulauaan Riau (Kota Tanjung Pinang) menuju Pulau Lingga (Daik). Baginda menitahkan agar pusat pemerintahan baru dibangunkan di tempat baru ini. Sejumlah 200 perahu mengiringi baginda ke Pulau Lingga. Sementara itu, Bendahara Abdul Majid yang ketika itu berada di Kepulauan Riau (Kota Tanjung Pinang) bertolak meninggalkan tempat itu bersama 150 buah perahu, pulang ke Pahang.

Setelah itu, ramailah orang-orang Melayu meninggalkan Riau menuju Bulang, Selangor, Terengganu, Kalimantan dan pulau-pulau lain di daerah Riau, Sumatera. Yang tinggal hanya orang-orang Cina yang bekerja di ladang gambir dan lada hitam. Kebanyakan ladang yang ditinggalkan oleh tuan punya yang terdiri daripada orang Melayu dan Bugis diambil alih oleh orang-orang Cina. Sejak itu semakin ramailah orang Cina tinggal di pulau itu.

Tidak lama kemudian orang Belanda datang semula ke Kota Tanjung Pinang untuk memperkuatkan semula pertahanan mereka. Kompeni Belanda menempatkan 312 orang tenteranya. Belanda berpendapat jika mereka tidak menguasai Kepulauan Riau (Kota Tanjung Pinang), kedudukan mereka akan terancam, tambahan pula ketika itu Inggeris telah membuka Pulau Pinang pada 1786.

Pada tahun 1795, Inggeris yang mentadbir Melaka bagi pihak Belanda semasa Perang Napoleon telah mengembalikan semula semua wilayah takluk Sultan Mahmud seperti Riau, Johor dan Pahang kepada Baginda.

Sultan Mahmud membuka Lingga dan menjadikannya pusat pemerintahan Riau-Johor-Lingga-Pahang. Namun akhirnya dengan campur tangan penjajah dan musuh-musuh politik dalaman maka akhirnya pusat kesultanan di Lingga mengecil hanya untuk berkuasa di Riau-Lingga sahaja di bawah naungan kuasa Belanda, manakala Johor-Pahang bernaung pula di bawah kuasa Inggeris. Akibat daripada perpecahan itu juga, pentadbiran kerajaan Riau-Johor-Lingga dibahagi kepada tiga negeri dan diperintah oleh pemerintah yang berlainan, iaitu Singapura- oleh Temenggung, Riau – oleh Yamtuan Muda dan Lingga – oleh Sultan.

Sementara itu, kandidat penyabet gelar pahlawan nasional dari NTB, Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan figur teladan pendiri Nahdlatul Wathan (NW). Banyak pihak di Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk Pemerintahan NTB merasakan kontribusi beliau di berbagai bidang secara nyata. Sehingga banyak yang mengusulkan pendiri NW tersebut menjadi pahlawan nasional.

Dari catatan sejarah, sebelum kemerdekaan sekitar tahun 1934, Tuan Guru membangun pengkaderan anak-anak bangsa dalam satu tempat. Tempat tersebut disebut Al-Mujahidin (para pejuang). Saat penyerbuan tersebut, diceritakan dia, bukan hanya murid beliau yang berjuang. Bahkan adik beliau ikut menyerbu untuk mempertahankan NKRI. Jadi, Tuan Guru M. Zainuddin yang mengatur strategi penyerbuan bersama beberapa pejuang lainnya. Murid-muridnya dan adiknya syahid dalam pertempuran tersebut. Satu nama lainnya adalah Laksamana Malahayati dari Kesultanan Aceh.(jpg)

Update