Seorang warga saat transaksi di Money Changer . F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Usaha tempat penukaran mata uang asing atau money change di Batam, saat ini banyak yang memilih menutup tempat usahanya. Lesunya perekonomian di Batam, minimnya pembelian mata uang asing di tingkat lokal Batam, serta berkurangnya drastis tingkat kunjungan wisman ke Batam, menjadi penyebab utama para pemilik usaha money change menutup usahanya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Asosiasi Penukaran Valuta Asing (APVA) pusat, Amat Tantoso kepada Batam Pos, Jumat (27/10).

“Saat ini memang dengan kelesuan ekonomi sekarang yang ada di Batam, kebutuhan mata uang asing, khususnya Dolar Singapura, sangat minim sekali. Di samping itu juga, akhir-akhir ini kan banyak pengangguran, perusahaan banyak tutup yang biasanya mereka lah pembeli mata uang asing di Batam untuk transaksi, baik pembelian maupun pembayaran,” ujar Amat Tantoso.

Dalam kondisi perekonomian yang serba sulit saat ini, lanjut Amat, banyak warga di Batam yang memiliki mata uang asing, sengaja menyimpannya, tak menukarkannya ke mata uang rupiah.

“Dalam kondisi kurs rupiah lagi jatuh seperti hari ini (kemarin) terhadap mata uang asing Dolar Singapura yakni sudah mencapai hampir Rp 10 ribu per Dolar Singapura, atau tepatnya Rp 9.980, warga Batam berbondong-bondong menukarkan dolarnya ke money change. Ini sedikit membantu juga terhadap kelangsungan usaha money change, meski tak signifikan,” terang Amat Tantoso.

Justru, lanjut Amat, saat ini mayoritas money change di Batam hanya mengandalkan orderan pembelian mata uang asing dari luar kota seperti dari Jakarta, Medan dan Surabaya.

Sementara untuk pembelian mata uang asing untuk lokal di Batam, terjadi penurunan drastis hingga lima puluh persen lebih.

“Saat ini di Kepri, money change ada 150. Separuhnya lebih berada di Batam. Sementara yang awalnya eksis dan saat ini lebih menutup tempat usaha penukaran uang asingnya di Batam jumlahnya ada lumayan banyak, sekitar belasan, tapi angka pastinya saya tak hafal,” kata Amat Tantoso.

Ada juga, lanjut Amat, pemilik tempat penukaran uang asing yang awalnya membuka usahanya di Nagoya-Jodoh, dipindah operasinya di wilayah yang saat ini lagi berkembang di Batam seperti Batuaji, Tiban dan Batamkota.

“Itu memang benar. Sebab di Nagoya dirasa usahanya stagnan, tak ada perkembangan karena saking banyaknya money change, mereka memilih berpindah tempat usahanya seperti yang saat ini lumayan omzetnya yakni di Batamkota seperti di kawasan Botania I dan II, ada juga di kawasan Tiban Center, serta di Batuaji yang tersebar di beberapa titik kawasan seperti Aviari serta SP Plaza,” ujar Amat Tantoso.

Logikanya, lanjut Amat, kalau tempat yang dirasa berkembang saat ini dijadikan tempat membuka usaha money change, berarti tempat daerah tersebut ada prospek dan omzetnya. Intinya menurut Amat, saat ini beberapa wilayah di Batam hampir merata semua sudah ada tempat penukaran uang asingnya atau money change, selain perbankan, tak seperti sebelumnya terfokus di kawasan Nagoya-Jodoh saja.

Dari APVA sendiri, lanjut Amat, saat ini fokus menganjurkan ke anggota APVA di Batam dan Kepri pada keamanan bertransaksi, demi menjaga agar jangan sampai usaha money change disalahgunakan oleh tindakan kriminal pencucian uang.

“Semua pemilik usaha money change di Batam dan Kepri, apabila melakukan transaksi usahanya baik pembelian maupun penjualan mata uang asing, wajib harus melalui rekening atas nama perusahaan money change nya, bukan atas nama rekening pribadi. Hal itu kami tegaskan, supaya mudah dipantau atau di audit oleh PPATK dan pengusaha juga nyaman,” terang Amat Tantoso.

Amat Tantoso yakin tahun depan, usaha money change di Batam akan kembali bangkit dan bergeliat lagi, mengingat Wali Kota Batam, Rudi akan fokus pada peningkatan pembangunan infrastruktur demi menghidupkan dan memajukan sektor pariwisata baik jasa maupun lainnya di Batam.

“Saya yakin itu. Kalau infrastruktur Batam sudah bagus semua, wisman banyak yang datang karena pariwisata di Batam digenjot habis, pasti tingkat hunian hotel meningkat tajam dan perputaran mata uang asing akan kembali menguat. Apalagi Kepala BP Batam yang baru ini juga berjanji akan bersinergi dengan Pemko Batam yang makin membuat optimis kami pengusaha money change di Batam akan bangkit lagi tahun depan,” tegas Amat Tantoso. (gas)