Proses penenggelaman kapal ikan asing di perairan Sabang Nawang Pulau Tiga Natuna, tidak lagi menggunakan bahan peledak, tapi dengan cara melubangi lambung kapal dan diberi pemberat. F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – 33 Kapal Ikan Asing (KIA) pelaku Ilegal fising ditenggelamkan di perairan Sabang Mawang, Pulau Tiga Natuna, Minggu (29/10). Kapal yang ditenggelamkan merupakan tangkapan KRI yang melakukan patroli di perairan Natuna. Penenggelaman kapal ini dilakukan secara bertahap.

Kegiatan ini di pimpin Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pujiastuti sekaligus Komandan Satgas Pemberantasan dan Penagkapan ikan secara Ilegal fishing Satgas 115 dari kapal Orca O2 milik KKP. Dirinya didampingi Wakasal, Laksdya TNI, Achmad Taufiqoerrochman, Pangarmabar Laksda TNI, Aan Kurnia serta Bupati Natuna Hamid Rizal, Danlantamal IV, Danlanal Ranai.

Sebelum penenggelaman KIA ini dari atas KRI Karelsatsuitubun 356, Menteri Susi Pujiastuti mengatakan penenggelaman kapal yang telah dilakukan sejak 2015 lalu, ini membuktikan jika Indonesia sangat berdaulat tehadap lautnya mulai dari Sabang hingga Merauke.

Dikatakannya, intruksi Presiden RI, Joko Widodo beberapa waktu lalu menegaskan untuk menjadi Indonesia sebagai poros maritim dunia, maka perlu pengawasan lautan sebagai kedaulatan NKRI. Kedaulatan dilautan NKRI mejadi hal yang sangat penting dan harus dimiliki dan dikuasai oleh negara.

“Laut telah lama tidak menjadi sumber kehidupan dan tak dikelola dengan baik. Maka sudah saatnya kita bangkit dan dikelola dengan baik,” kata Susi.

Ilegal fishing terjadi di laut Natuna Utara kata Susu, pemerintah tidak akan menyalah siapa-siapa. Hanya saja mulai saat ini, bersama komponen pemerintah, kalangan pengusaha dan masyarakat manfaatkan momen ini untuk kedaulatan negara kesatuan RI.

Sebagaimana diketahui tambah Menteri KKP itu, Indonesia merupakan daerah kelautan nomor dua terpanjang di dunia.

“Dengan dibentuknya Satgas 115 menunjukan komitmen pemerintah dalam menjaga laut Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” tambahnya.

Susi menerangkan jika stok ikan Indonesia saat ini naik menjadi 12,5 juta ton pertahun artinya ada peningkatan sejak tahun 2015 lalu yang hanya berkisar 6 hingga 8 juta ton pertahun.

“Maka pengawasan dan keamanan laut dan harus ditingkatkan. Kita perlu memberikan efek jera pada nelayan luar (Asing-red) tidak lagi mencuci ikan di laut Indonesia,” sebut Susi Pujiastuti.

Hari ini tegas Susi adalah bukti bahwa bangsa Indonesia berkomitmen untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan laut NKRI.

“Penenggelaman KIA ini bukan untuk gagah-gagahan tapi sebagai penghormatan kepada bangsa Indonesia dan kita tetap berada digaris terdepan laut NKRI,” tegas Susi Pujiastuti.

Sebelumnya Komandan Pangkalan TNI AL Ranai, Kolonel Laut (P) Tony Herdijanto sekaligus komandan satgas penenggelaman mengatakan penenggelaman yang dilakukan lebih ramah lingkungan dibanding dengan pemusnahan menggunakan dinamit.

“Pennggelaman dengan lambung kapal dibocorkan. Dan diikat dasar laut agar tidak hanyut,” katanya.

Pada hari penenggelaman ini, akan ditenggelamkan 10 kapal ikan asing. Dan penenggelaman bertahap hingga bulan November. Karena penenggelaman dengan motode ini relatif sulit dibanding gunakan dinamit.

“Lokasi penenggelaman sekitar 5 mil dari Pos AL Sabang Mawang. Dan mempertimbangkan keselamatan dan tidak menggangu alur perairan kapal.

“Penenggelaman hari ini bersaman dilaksanakan di Anambas. Total keseluruhan ada 46 kspal,” ujarnya.

Dikatakan Danlanal, laut Natuna Utara masih menjadi ladang ikanbagi nelayan asing. Sehingga ilegal fishing tidak pernah henti. Bahkan meski pemerintah juga terus meningkatkan intensitas pengamanan laut.(arn)